Bukan Bu Tejo

Akhir pekan ini mungkin Anda terhibur dengan gerakan aksi menyelamatkan Indonesia, yang mendapat tanggapan gerakan lain yang hendak merapatkan Indonesia tanah air. Lumayan buat hiburan; banyak orang butuh panggung, yang mungkin malah dicari untuk memperlihatkan kualitas kentangnya, seperti hapé keponakan saya yang sering disebutnya hapé kentang. Saya tidak yakin bahwa pengusung gerakan itu punya basis data berdasarkan kajian aktuaria untuk menyelamatkan Indonesia. Apa? Aktuaria? Apa pula itu?

Saya juga baru tahu aktuaria beberapa waktu lalu.🤭 Ini program studi baru S1 di beberapa universitas yang menawarkan ilmu gabungan antara matematika, statistika, keuangan, peluang, dan pemrograman komputer, yang sangat bermanfaat untuk mengolah data dan memproyeksikannya sebagai bagian dari manajemen risiko. Gerakan aksi menyelamatkan Indonesia semestinya dibekali ilmu semacam ini dan membuka data secara transparan bahwa Indonesia memang di ambang kehancuran ekonomi, misalnya. Tapi asudahlah, itu cuma sekadar ngegosip ala Bu Tejo yang bisa jadi meleset, tapi mungkin ada benarnya juga.

Guru dari Nazareth, tanpa studi aktuaria, mencoba mengumpulkan data statistik tentang persepsi orang di sekelilingnya. Statistik berguna untuk menentukan langkah, bukan hanya dalam ranah ekonomi dan politik, melainkan juga dalam pewartaan hidup kerohanian. Cobalah cek di gereja paroki Anda, mesti punya statistik mengenai demografi umatnya: berapa pertambahannya, perpindahan, baptisan baru, hilang dari peredaran, jumlah umat dewasa, anak-anak, dan seterusnya. Tidak hanya pada level data, bahkan orang bisa merasa sedih karena yang datang ke gereja cuma sedikit, merasa umat lain sibuk dengan bisnis melulu, dan sejenisnya. 

Statistik itu memang berguna sebagai bahan refleksi. Kuesioner yang disodorkan Guru dari Nazareth berguna untuk menjajagi bagaimana visi misi hidupnya ditangkap orang-orang di sekelilingnya. Akan tetapi, yang menarik bagi sang Guru kiranya bukan kuesioner atau statistiknya sendiri, melainkan pokok jawaban pertanyaan berikutnya: tapi kalian, omong apa tentang diriku? Pendapat Bu Tejo dan kawan-kawannya yang gemar ngerumpi tentu tidak menarik perhatian Guru dari Nazareth. Yang lebih menariknya ialah isi hati sohib-sohibnya.

Kata seorang uskup tetangga jauh (banget), kalau sang Guru ini hidup di zaman now, beliau tak akan begitu suka membuat statistik berapa orang pergi ke gereja atau berapa banyak umat beribadat. Pertanyaan yang lebih penting baginya ialah bagaimana keadaan mereka yang pulang dari gereja atau dari tempat ibadat. Bagi sang Guru, pertambahan jumlah tak begitu menarik dibandingkan dengan kedalaman relasi yang dibangun orang-orangnya. 

Celakanya, kedalaman relasi itu tak bisa dibangun dengan modal kemajuan teknologi yang diandalkan Bu Tejo, informasi dari orang-orang di sekelilingnya. Kedalaman relasi itu ya dibangun justru dengan melihat pada kedalaman diri. Petrus yang menjawab pertanyaan gurunya, mengesampingkan aneka pendapat orang, dan merumuskan jawabannya, tentu dengan bantuan Roh Kudus, atas dasar perjumpaan personalnya dengan sang Guru.

Uskup tetangga jauh saya tadi mengilustrasikan perbedaan antara statistika dan relasi dengan perbedaan antara fotografi dan film. Statistika merupakan rangkaian data yang tertera dalam kertas atau layar komputer. Bisa dikoreksi, tetapi kurang lebih ya begitulah grafik atau angkanya. Sementara itu, film lebih bersifat dinamis, bergerak dan berubah. Pada kenyataannya, ketika Guru dari Nazareth ini menunjuk Petrus sebagai pemimpin bagi sahabat-sahabatnya, beliau mengambil risiko bahwa film itu akan bergerak, berubah, dinamis, seturut kerapuhan orang-orang yang ada di dalamnya.

Yang melegakan ialah bahwa Guru dari Nazareth ini membangun komunitas bukan atas dasar statistika, melainkan atas dasar relasi personal dengan anggota-anggotanya. Kembali lagi, akhirnya, tak ada relevansi agama selain untuk mengakomodasi relasi hablum minannas dan hablum minallah tadi. Saya yakin, relasi seimbang ini tidak bisa mengambil model Bu Tejo: orang beriman perlu tilik yang kelihatan dan tak kelihatan, juga dalam dirinya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat kesetiaan untuk senantiasa menjadi sahabat-Mu. Amin.


MINGGU BIASA XXI A/2
23 Agustus 2020

Yes 22,19-23
Rm 11,33-36
Mat 16,13-20

Posting 2017: Who Do You Say I Am?
Posting 2014: Siapa Pegang Kunci Surga?

1 reply

  1. Hdp…seakan tdk ckp crowded, malah mendorong corona ke atas panggung pentas mns, menguasai stengah panggung. Kadung layar sdh terkembang. Kadung pemain sdh berkumpul. Entah yg profesional, amatir, bebal, sensi atau sekadar planga plongo, skg berhimpitan pd stengah panggung sisanya. Tdk heran pemain yg sdh kerja profesional dn sungguh2 kadar jengkelnya naik sampai ke ubun2.🤭
    Mns…ternyata kehdpn sehari2nya adh tempat ibadah/agama. Dn kejujuran adh kebaikan terdlm yg mengajarkn u bersyukur pd hdp kt sendiri, n membagi kebahagiaan itu dg org lain.
    #pulkam deh#🤭😛

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s