Dominasi

Dua bersaudara yang kadang-kadang ngangěni: com(b)ro dan misro. Yang satu mengandung oncom, yang lain menyimpan lelehan gula jawa yang amis. Nah, kata amis ini dulu bikin saya bermasalah: saya tak doyan misro karena memang saya tak suka sama yang berbau anyir. Akan tetapi, ketika suatu kali saya terpaksa memakannya dan tak mencium aroma anyir sama sekali, saya berbalik doyan dan mengerti bahwa amis dalam bahasa Sunda memang sama sekali tidak merujuk aroma ikan atau seafood.

Homonim/homograf/homofon seperti kata amis itu bisa jadi tak hanya berlaku untuk sebuah kata, tetapi juga sebuah frase. Dalam syahadat kristen, misalnya, ada frase “pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati”. Ini adalah rumusan iman, tetapi biasanya orang menangkapnya dengan logika manusiawi belaka: mati pada hari Jumat, dihitung sebagai hari pertama, hari keduanya Sabtu, dan Minggunya adalah hari ketiga. Cocok! Memang gitu kan kenyataannya, Rom? Yesus itu mati pada hari Jumat Suci, dan bangkit pada hari Minggu Paska!

Saya tak ambil pusing apakah Yesusnya orang Kristen/Katolik itu memang betul mati pada hari Jumat dan bangkit pada hari Minggu.
Loh, jadi Romo ini gak percaya kebangkitan ya?🤣
Bergantung pengertian ‘kebangkitan’. Saya tidak melihat ‘kebangkitan’ sebagai kenyataan historis, tetapi sebagai kenyataan iman. Maka, kalau Anda mengajak saya mencari bukti kebangkitan historis itu, saya tak akan menghiraukan ajakan itu.
Kenyataan iman tidak tertambat pada logika pemikiran berkategori ruang-waktu, tetapi pada relasi orang dengan Allahnya.

Singkatnya, frase “pada hari ketiga bangkit” bukan perkara kronologi yang bisa diributkan oleh mereka yang percaya dan yang tak percaya. Menurut tetangga saya, frase “pada hari ketiga” merujuk pada nubuat Hosea yang pengertiannya jadi soon after alias segera sesudah. Lengkapnya berarti “segera sesudah kematian”, Yesus bangkit dari kematian. Artinya, kebangkitan itu sebetulnya terjadi segera sesudah kematian. Kapan? Ya mboh! Kalau matinya jam 15.00.00, ya bisa jadi kebangkitannya jam 15.00.00.00000000000000000000001. Gimana membuktikannya? Ya gak bisa. Tak ada orang yang punya pengalaman kebangkitan seperti itu dan itulah proposal yang disodorkan Yesus dari Nazareth: suatu jalan yang tak bertujuan akhir kematian, tetapi justru kehidupan di baliknya, yaitu kehidupan bersama Allah.

Proposal itu tak ditangkap oleh muridnya sendiri! Itu mengapa, meskipun minggu lalu dikisahkan bagaimana Petrus menyebut Yesus sebagai Mesias, Yesus malah melarangnya untuk bilang-bilang pada orang lain. Sederhana alasannya: Mesias adalah homonim/homograf/homofon. Terdengarnya sama, tetapi artinya berbeda. Wacana Yesus membongkar paradigma para murid mengenai Mesias yang kental dengan unsur dominasi. Yerusalem, yang dirujuk Yesus juga, memang adalah pusat kekuasaan, baik religius maupun politik.

Keharusannya pergi ke Yerusalem tidak berasal dari mandat orang banyak yang menantikan Mesias, tetapi dari passionnya untuk menegaskan identitas Mesias yang berlawanan dengan logika manusiawi. Itulah proposal yang dihidupinya sendiri dan ditawarkan kepada siapa saja yang mau mengikutinya: bukan hidup dalam kompetisi dan dominasi, melainkan hidup dalam relasi dengan yang ilahi. Ironisnya, segera setelah Yesus menyatakan proposalnya, Petrus hendak berkompetisi dan mendominasi wacana: sekali-kali itu tidak akan terjadi. Kata kerja yang ditempelkan pada tindakan Petrus ialah ἐπιτιμᾷν (epitiman: Yunani), yang nuansanya bukan lagi sekadar menegur orang yang buang sampah sembarangan, melainkan nuansa ‘ancaman’ sebagaimana dilakukan oleh mereka yang hendak mengusir setan yang merasuki seseorang.

Di balik itu, Petrus menganggap proposal Yesus itu nyělěnèh, yang berasal dari roh jahat. Nah, dunia terbalik, bukan? Semestinya murid mengikuti gurunya, ini malah murid hendak mendominasi gurunya.
Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian supaya cinta-Mulah yang mendominasi hidup kami
. Amin.


MINGGU BIASA XXII A/2
30 Agustus 2020

Yer 20,7-9
Rm 12,1-2
Mat 16,21-27

Posting 2017: Kompromi, Penderitaan, Kehendak Allah
Posting 2014: Iblis Itu Ialah…

4 replies

  1. Dear Romo, Happy Sunday😊🐣 tulisan rm membuat sy melirik combro dn misro, apa keduanya sdg mencoba mendominasi satu dg yg lain🤣 tp lalu sy berfikir, bs jd tdk bs, krn rasanya beda. Yg satu asin gurih (pake level pedes2), satunya lg item manis😝 Rm, mari bic soal cinta😘🤭bila cinta membebaskan, maka apakah Tuhan jg membebaskan mns krn cintanya, atau Beliau 🤣juga posesif dg anak2 mns. DiulurkanNya tali kekangnya panjang2, sampai satu titik ditarik kembali, dn kt jumpalitan balik ke hadapan Tuan kt🤣🤣🤣jd ngakak sendiri. Sdg pd mns, br hakekat posesif itu tdk tepat kt lakukan, eg ketika kt cemburu jk ada yg merasa lbh berhak memilikiNya. Sy mencintai Tuhan, tp lalu sy tdk cemburu melihat Rm menulis setiap hr cinta Rm pdNya, malah sy merasa senang membaca cinta Rm😄😍

    Like

      • Rm, apakah blh sy berkata, bhw bukankah pd suatu titik, mns dlm kerapuhannya ‘dipaksa’ hrs kembali. Entah dlm kesadarannya atau tanpa kesadaran🙏

        Like

  2. Sy cb kaji kembali tanggapan Rm.😄 #menuntaskan pikiran sblm berangkat tidur#🤣🤣🤣brgkl itu semcm kondisi paradoksal. Bhw kasih sejati (pd Tuhan) sec paradoks malahan br terwujud penuh ktk mns merasa bebas. Perasaan ketdkbebasanlah yg malahan mengungkung mns dlm keinginannya, yg blm tentu selaras dg kenyataan.😲 dn ketika sec bebas terkoneksi menjd lbh utuh, dn itu yg rm sebut spiritualitas🤔🙄 tanpa perlu embel2 #mabok#🥴😵😔😪🤤😴

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s