Selektif

Ada kalanya orang selektif untuk mendengar: hanya mau mendengarkan hal yang ia mau dengarkan. Ini sangat berguna jika lawan bicaranya ternyata ngawur, mabuk, halu dan sejenisnya. Anda tentu masih ingat ungkapan ndhèrèk langkung yang saya singgung beberapa waktu lalu. Setelah sapaan itu meluncur dari mulut saya, saya segera pasang telinga baik-baik, menantikan balasan apa yang muncul. Ada kalanya tak terbalas, ada yang menjawab “nggih mangga“, ada juga yang membalas “wa’alaikumsalam“, tetapi yang mengejutkan saya ialah suatu jawaban dari seorang perempuan tua.

Di suatu pagi beliau menjawab,”Isuk-isuk wis cěngèngas cěngèngès.” Saya tak bisa menerjemahkannya, tetapi konteksnya begini. Kalau orang mengucapkan ungkapan ndhèrèk langkung, ia berusaha menyampaikannya secara sopan. Misalnya sembari membungkukkan badan atau menundukkan kepala dan menyunggingkan senyum. Yang terakhir itulah yang saya lakukan, tetapi rupanya perempuan tua itu menangkap senyuman saya secara berbeda, dan reaksi marahnya mengejutkan saya. Lain hari saya mengulanginya tanpa senyuman, dan saya dengar nada kemarahan lain menyelinap dalam kalimatnya,”Dulu tak ada orang lari itu….” frase selanjutnya saya tak dengar, lha wong saya sudah menjauh.🤣 Akan tetapi, belakangan saya sadar bahwa perempuan tua ini sepertinya bawaannya marah-marah terus. Jadi setelah itu, saya tak menyapanya lagi.🤭 Saya tak mau mendengar ungkapan-ungkapan anehnya.

Meskipun demikian, ada juga sikap selektif-untuk-mendengar yang membuat orang semakin bebal, tribal, abal-abal. Teks bacaan hari ini menunjukkan contohnya. Orang-orang desa asal Guru dari Nazareth mendengar pembacaan teks Kitab Suci mereka yang sudah sangat akrab di telinga mereka. Ini adalah teks yang dipakai Guru dari Nazareth sebagai visi-misi hidupnya (yang sama sekali tak berbau-bau keagamaan!), tetapi rupanya beliau mencomot kelanjutan teks yang dibacanya itu. Pendengarnya mengerti bahwa teks Yesaya itu bicara mengenai tugas kenabian untuk memperjuangkan keadilan sosial, membebaskan mereka yang tertindas, mewartakan Tahun Rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah. Yang terakhir ini tak dibacakan Guru dari Nazareth!

Redaksi teks Yesaya itu sendiri sudah merisaukan warga desa asal Guru dari Nazareth. Ketambahan lagi uraian sang Guru yang membongkar sejarah Israel bahwa para nabi Allah rupanya justru membantu orang-orang asing daripada umat Israel sendiri. Ini tak sesuai dengan keinginan pendengar! Seharusnya Allah itu menyelamatkan bangsa Israel dan menghancurkan kaum kafir, membalas dendam penjajah, dan seterusnya. Warta macam itulah yang hendak didengar warga desa sang Guru.

Ndelalahnya, Guru dari Nazareth bukan tipe pembicara yang selektif seturut request pendengarnya. Beliau berkhotbah bukan untuk menyenangkan pendengar dan menyatakan yang baik-baik saja sehubungan dengan pendengarnya, melainkan memang untuk mewartakan kabar baik sesungguhnya: Kerajaan Allah, ukkhuwah islamiyyah, yang tak dimaksudkan untuk memecah belah umat manusia yang bertakwa kepada Allah, tetapi justru hendak merangkul semua makhluk-Nya. Ini jelas tak mengenakkan bagi siapa saja yang berpikiran sektarian, yang tak bisa detach dari keterbatasan agama, yang cintanya didominasi eros, yang pola pikirnya senantiasa egosentris. Sebaliknya, hal itu akan menyukakan pendengar yang mau membuka diri untuk semakin meluaskan wawasan dan melapangkan hidupnya sebagai medium Allah yang terus bekerja.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan akan Sabda-Mu yang senantiasa menempa dan mengembangkan hidup kami. Amin.


SENIN BIASA XXII A/2
31 Agustus 2020

1Kor 2,1-5
Luk 4,16-30

Senin Biasa XXII B/2 2018: Anda Asli atau Tulen?
Senin Biasa XXII A/2 2014: Kata-katanya Bijak, Ujung-ujungnya Duit

2 replies

  1. 🤗romo yang baik, brgkl Paulo Coelho mengucapkan itu krn dia belum dijelaskan soal pengalaman rm dg combro dn misro. Untung saja, rm berkenan membuang waktu untuk sekadar mendengarkan misro, n menemukan bhw dia tdk amis. Org bs berubah. Situasipun bisa. Perspektif pun bs. Itu semua hsl dr percakapan dn penjelasan, yg bs jd sulit. Paulo Coelho keliru, rm guru yg benar, krn rm membuang waktu rm yg berharga sekadar u melakukan percakapan dg misro. Pdhl dlm Sang Alkemis, Paulo Coelho mengatakan sendiri, hanya satu cara u belajar, dn itu melalui tindakan. Segala sesuatu yg perlu diketahui kt pelajari melalui perjalanan.
    #Dan salah satu perjalanan itu bs jd melalui byk percakapan dn penjelasan# besok mau nyari combro n misro ah😝 mksh ya Rm, dpt slm dr misro

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s