Lupa Diri

Memberi ampun bukanlah sikap primitif manusia. Kalau saja pengampun itu fitur bawaan manusia, tentu memberi ampun itu sudah merupakan spontanitas yang tak perlu pikir panjang dan bikin baper, tak ada lagi dendam kesumat yang terpelihara, tiada lagi orang tersiksa karena memendam kemarahan akibat luka batin, akibat kerapuhan hidup manusia yang senantiasa mencari keadilan dalam hidupnya. Akan tetapi, bahkan keadilan manusiawi, rupanya juga terbilang sebagai kerapuhan hidup manusia.

Andaikan narasi hari ini dimulai dengan bagaimana orang yang punya piutang itu memenjarakan temannya yang berhutang sampai hutangnya terlunasi, entah bagaimana caranya, sebetulnya tak ada kesalahan fatal yang dilakukan pemilik uang itu. Ia punya hak untuk menuntut pelunasan piutangnya dan penjara adalah prosedur legal yang dapat ditempuhnya. Maka, pun kalau dia memenjarakan temannya sendiri karena perkara hutang, ia tidak melanggar prinsip keadilan. 

Akan tetapi, mengapa teman-teman pemilik uang ini menjadi sangat sedih? Karena cerita itu tak berdiri sendiri. Ada konteks yang rupanya membuat intensitas kontras tindakan itu menjadi sangat tajam, yaitu bahwa pemilik uang itu sendiri sudah dibebaskan dari hutangnya yang jauuuuuuh lebih besar daripada piutang yang diberikan kepada temannya. Konteks inilah yang dikesampingkan oleh penagih utang yang memenjarakan temannya. Andaikan saja pemilik uang itu sadar diri bahwa hutangnya yang begitu besar telah dilepaskan, sudah selayaknya kegembiraannya itu meluap dalam wujud pelepasan hutang temannya, yang toh tak seberapa. Konteks pelepasan hutang itulah yang membuat keadilan manusiawi jadi relatif dan malah melegakan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Hutang dalam teks bacaan ini sejajar dengan istilah teknis agama untuk dosa atau kesalahan. Dalam suatu tradisi Yahudi, untuk kesalahan yang sama diberikan toleransi sebanyak tiga kali. Artinya, pengampunan itu bisa diberikan sejumlah hitungan aba-aba untuk lari. Jika berdosa lagi untuk keempat kalinya, semoga rambutnya tersengat pentir atau kepalanya tertimpa tiang listrik! [Emang dah ada tiang listrik waktu itu, Rom?]
Petrus menunjukkan dirinya sadar bahwa ajaran Guru dari Nazareth itu melampaui toleransi yang diajarkan rabi Yahudi lainnya. Maka, bertanyalah dia berapa kali semestinya orang beriman itu mengampuni dengan acuan angka tujuh, angka sempurna. Ini sudah lebih banyak dari jumlah pengampunan yang diajarkan para rabi.

Akan tetapi, pada teks lain dari tulisan Lukas (17,4) dikatakan bahwa jika seseorang berbuat dosa tujuh kali sehari dan tujuh kali pula datang dan menyesali dosanya dan minta ampun, sebanyak itu pula seharusnya ia menerima pengampunan. Bikin kèděr gak sih?😂 Pantaslah para rasul itu mohon supaya iman mereka ditambahkan.
Dengan tambahnya iman, orang mengerti bahwa pengampunan bukan lagi perkara kuantitas, melainkan kualitas hidup yang berasal dari kesadaran akan konteks pengampunan Allah.

Orang yang tak sadar akan konteks itu berpikir bahwa hidup ini adalah semata perjuangannya. Merangkaknya dia dari modal dengkul sampai jadi konglomerat semata karena ia ulet, cerdik, berkomitmen, berkarakter, dan sebagainya sehingga mendapat trust dari banyak orang. Ia lupa bahwa sejak merangkak itu ia dikelilingi oleh rahmat gratis dari Allah, mulai dari udara sampai orang-orang yang (luput) memberi trust kepadanya. Ia lupa bahwa seluruh perkakas yang dipakainya berbahan baku kekayaan alam yang tak pernah ditanamnya, bahkan oleh nenek moyangnya sendiri.

Andaikan orang sadar propertinya diperoleh juga karena kemurahan Allah lewat ciptaan-ciptaan-Nya, hidupnya tak lagi ada di ranah kuantitas, tetapi di ranah kualitas. Kualitas hidupnya kelihatan dari kemampuannya untuk secara lapang hati menanggung kerapuhan hidup: baik hidupnya sendiri maupun hidup sesama. Kualitas hidup seperti ini hanya bisa direservasi oleh anak-anak Allah, yaitu mereka yang sifat-sifatnya menyerupai sifat-sifat kerahiman Allah.
Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat murah hati sebagaimana Engkau murah hati.
 Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIV A/2
13 September 2020

Sir 27,30-28,9
Rm 14,7-9
Mat 18,21-35

Posting 2017: Ampun Ya Ampun

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s