Palang (Bukan) Salib

Gereja Katolik hari ini memestakan suatu skandal teologis dalam hubungannya dengan keyakinan Yahudi dan Islam: Salib Suci. Yahudi menyangkal kebangkitan Yesus, sedangkan Islam menolak kematian Yesus di salib. Dalam beberapa kesempatan ini jadi skandal sosial juga: mulai dari tiang jemuran sampai liang lahat. Saya sadar betul akan skandal itu dan ndelalahnya ingatan saya malah melayang pada film garapan Martin Scorsese sebagai adaptasi layar lebar atas novel Nikos Kazantzakis The Last Temptation of Christ. Saya tak begitu ingat detail cerita filmnya, tetapi ada satu adegan yang membekas di benak saya hingga sekarang.

Digambarkan Yesus, dalam pergumulan godaannya di salib, berjumpa dengan Paulus yang berkhotbah kepada orang-orang mengenai Yesus yang wafat dan bangkit dari kematian. Yesus bertanya,”Memangnya kamu pernah ketemu dan lihat sendiri bahwa orang itu mati dan bangkit?” Paulus menjawab,”Tidak, tapi aku melihat cahaya menyilaukan dan mendengar suaranya.” Dia tambahkan keterangan bahwa para rasul, musuh yang jadi temannya, melihat Yesus yang bangkit, tetapi Yesus menyangkal,”Akulah yang berkeliling Galilea dan berkhotbah di sana-sini, dihukum, disalibkan tetapi Allah menyelamatkan aku.”

Yesus ini menikah dengan Maria Magdalena dan beranak pinak, dan itulah yang hendak ditegaskannya kepada Paulus bahwa pewartaannya mengenai Yesus dari Nazareth itu adalah kebohongan. Diskusi ditutup dengan pernyataan Paulus bahwa Yesus yang diwartakannya memang bukan Yesus yang dijumpainya itu. Tak ada orang yang akan mau berjuang dalam kehidupan sampai mati demi Yesus yang menikah dengan Maria Magdalena dan seterusnya. Setelah diskusi itu, masih ada adegan lain yang entah bagaimana pokoknya akhirnya Yesus ini keluar dari pergumulannya dengan satu keinginan: untuk menjadi Mesias, dan mau mati kemudian bangkit, seperti dikhotbahkan oleh Paulus. Cerita selesai, dan begitulah Nikos Kazantzakis menggambarkan, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai membuat eisegesis, memproyeksikan pergumulan di kayu salib itu.

Dari situ saya belajar beberapa hal. Pertama, salib dan kebangkitan adalah unsur ideologis dalam kekristenan, yang tiada gunanya diperdebatkan. Take it or leave it. Soalnya sesederhana permainan sambung kalimat, yang mengandalkan indra manusia. Pendengar pertama masih oke mengulangi kalimat semula, tetapi sampai pada orang kesepuluh, kalimatnya sudah bisa jadi tak karuan. Para murid yang dekat dengan Yesus saja bisa salah paham, apalagi yang tersekat ruang waktu begitu besar! Dalam arti ini, salib perlu dilepaskan dari kelemahan pengetahuan manusia yang berbasis pada indra semata.

Kedua, unsur ideologis itu jadi ideologi beku jika tak ada sambungannya dengan dimensi personal hidup manusia. Yang disampaikan Paulus dalam godaan terakhir Kristus Kazantzakis itu adalah ide semata bahwa Allah menjadi manusia, mati disalib, dan bangkit dari mati. Sebagai ide, ya itu tadi, perdebatan sampai monyong mungkin hanya menarik untuk orang-orang ‘pengangguran’ yang hidupnya tak lagi memikirkan sandang pangan papan. Adalah lebih berguna bahwa orang menemukan struktur ideologis tadi dalam hidupnya sendiri. Maksud saya, setiap orang beriman, entah label agama mana yang dipakai, perlu mawas diri apakah dalam peziarahan hidupnya ada pola salib tadi.

Ini bukan lagi perkara palang, yang bisa jadi sumber kekonyolan orang bersumbu pendek, melainkan perkara menghayati habluminallah dan habluminannas. Kalau orang sungguh punya relasi personal dengan Allah (sebutlah habluminallah), ia terpanggil untuk membangun persaudaraan dengan semua saja (katakanlah habluminannas). Akan tetapi, upaya untuk mengintegrasikan dua matra kehidupan ini pasti mendapat permusuhan dari siapa saja yang mengalami ketimpangan dalam dua matra tadi. Permusuhan itu dalam ranah konkret bisa berujung pada fitnah, teror, pembunuhan, dan sebagainya. Itulah yang dimaksud sebagai salib dalam kosakata kekristenan.

Ada yang lari dari salib, tetapi ada juga yang dengan setia dan tekun memikulnya. Pada diri orang seperti inilah kebangkitan tidak lagi jadi ideologi religius tertentu, tetapi jadi cara hidup yang sinkron dengan cara hidup yang disodorkan Guru dari Nazareth.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan praktis supaya hidup kami sungguh jadi sinkronisasi matra cinta-Mu. Amin.


PESTA SALIB SUCI
(Senin Biasa XXIV A/2)
14 September 2020

Bil 21,4-9
Flp 2,6-11
Yoh 3,13-17

Posting 2019: Lagi-lagi Salib
Posting 2018: Winning Lap
Posting 2017: Agama Cinta
 

Posting 2016: Sakit Dipelihara

Posting 2015: Bonceng Yesus

Posting 2014: Kesucian Salib

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s