Points to ponder:
- Hukum cinta kepada sesama dapat digambarkan dengan contoh praktis: mendoakan (kebaikan) sesama yang bahkan mencirikan dirinya sebagai persekutor.
- Hanya dengan praktik seperti ini orang beriman membebaskan dirinya dari insting diskriminatif, insting yang menyumbat cinta Allah kepada seluruh makhluk-Nya.
- Asumsi praktik doa ini ialah bahwa orang beriman memiliki ketulusan, keikhlasan untuk tidak merenggut kesempurnaan Allah, tetapi melibatkan diri dalam kesempurnaan-Nya.
Dalam refleksi seorang guru rohani, praktik mendoakan (kebaikan) musuh ini menguak kebenaran cinta ilahi: the measure of love is to love without measure. Cinta ilahi seperti ini tidak memberi ruang pada sikap inferior terhadap kejahatan. Sebaliknya, tidak membiarkan kejahatan menembus benteng iman seseorang. Maka, cinta ilahi pun bisa jadi subversif, terutama dalam caranya, yang tidak mengikuti logika (lama) kekerasan bin kekuasaan [lengkap dengan aneka tes yang mungkin absurd].
Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu membebaskan diri kami dari aneka insting diskriminatif. Amin.
SELASA BIASA XI B/1
15 Juni 2021
Selasa Biasa XI A/1 2017: Love Knows No Limits
Selasa Biasa XI B/1 2015: You’ll Never Be Perfect

One response to “Logika Baru”
Love hate is always one package, can not help it. As the one human loves most is said to hurt most too. Yg aman hanya ada di ‘divine love’, jadilah manusia harus hidup kayak para religius, yang hanya boleh mencintai yg berlabel ‘agung’ tsb, kesananya juga berat: jalannya terjal dan penuh batu yang gak semua orang sanggup. God Bless.
LikeLike