Empowering Others

Mengenai yang satu ini saya baru saja paham: “Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuhnya, dan tiga hari sesudah dibunuh, ia akan bangkit.” Dulu saya memahami teks itu dengan kacamata cerita guru agama yang turun temurun sampai di telinga saya: Yesus dikhianati Yudas, diserahkan kepada imam kepala, lalu dengan proses pengadilan aneh akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Lho, ya memang gitu kan, Rom?
Tak sesederhana itu, Marimar.

Anggaplah memang kenyataannya Yesus dikhianati Yudas dan seterusnya itu. Akan tetapi, apakah pernyataan tadi adalah memang ramalan Yesus mengenai nasibnya sebagaimana dijelaskan guru agama yang turun temurun? Apakah Anda kira Yesus itu peramal yang melihat kilasan-kilasan imaji bagaimana dia dikhianati Yudas dan seterusnya itu? Kalau begitu keyakinan Anda, kita beda jalur. Saya lebih meyakini bahwa pernyataan Yesus itu dilandasi common sense. Alhasil, itu bukan pernyataan indigo, melainkan pernyataan teologis. Nah, pernyataan teologis inilah yang, tadi saya bilang, saya baru tahu.

Saya tidak yakin atribut ‘anak manusia’ itu berarti apa tapi pasti ada hubungannya dengan sosok mesias, manusia yang kepadanya diberikan kuasa untuk menyelamatkan orang. Alhasil, jika dikatakan bahwa ‘anak manusia’ itu diserahkan ke dalam tangan manusia, itu berarti kekuasaan Allah sendiri disodorkan kepada orang. Nasib kekuasaan Allah itu bergantung pada sikap orang-orang yang hendak diselamatkan-Nya sendiri.

Teks bacaan hari ini sebetulnya menunjukkan ketegangan dan krisis dalam relasi guru-murid karena murid-murid benar-benar tak paham dan malah menentang proyek guru. Tak mengherankan, Sang Guru memilih bersama para muridnya tanpa diketahui orang supaya bisa mengatasi krisis mereka sebaik-baiknya. Akan tetapi, entah apa yang terjadi, mungkin mereka saling diem-dieman: para murid tak mengerti, tapi segan menanyakan persoalan yang mereka tak mengerti dan sesampainya di Kapernaum, Sang Guru melontarkan pertanyaan yang menyiratkan seakan tak mendengar apa yang diperbincangkan muridnya selama perjalanan.

Jelaslah dari jawaban para murid bahwa mereka benar-benar tak mengerti pernyataan teologis (yang saya juga baru saja tahu itu) yang dilontarkan Yesus. Mengapa? Karena persis yang mereka perbincangkan adalah perkara kekuasaan di antara mereka, wacana yang bertentangan dengan pernyataan teologis Yesus tadi. Sik3 sebentar, mikir dulu: apa bukannya malah klop dengan pertanyaan teologis Yesus ya?
Ya3, betul! Malah klop! Kekuasaan Allah itu diserahkan ke dalam tangan manusia, yang pola pikirnya adalah ‘siapa yang terbesar di antara mereka’. Kalau kekuasaan Allah diserahkan ke dalam tangan manusia, akibatnya ya itu tadi: kekuasaan itu akan dibungkam, dan baru setelah pembungkaman itu matang, terbongkarlah kebenarannya. Kekuasaan semestinya berasal dari Allah.

Ironisnya, kekuasaan dari Allah itu digambarkan Yesus sebagai kekuatan yang memberdayakan kaum lemah. Itu susahnya: orang lebih tenang bergaul dengan orang kuat, yang bisa dipakai untuk pansos atau untuk memperkaya diri; orang lebih aman bergaul dengan orang lemah, yang bisa didominasi untuk kepentingan politisnya. Setelah sekian puluh tahun proklamasi kemerdekaan, saya kira toh kebanyakan orang, terutama yang memiliki kekuasaan, belum merdeka dari logika kekuasaan seperti dihidupi para murid tadi dan begitulah “Anak manusia diserahkan ke dalam tangan manusia.”

Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian supaya kami dapat memberdayakan sesama alih-alih memperdayanya. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXV B/1
19 September 2021

Keb 2,12.17-20
Yak 3,16-4,3
Mrk 9,30-37

Posting 2015: Kau Kira Yesus Tak Punya Masalah?