Toxic Leaders

Dalam sebuah biografi Nabi Muhammad, Ma’mar ibn Rasyid menarasikan begini: Budayl ibn Warqa al-Khuza’i datang dalam rombongan sukunya dari Khuza’ah yang dipercaya sebagai penasihat Rasulullah dari kaum Tihamah. Budayl berkata, “Aku baru saja meninggalkan Ka’b ibn Lu’ayy dan klan Amir ibn Lu’ayy. Mereka telah berkemah di antara sumur-sumur Hudaybiyah (dan bersama mereka adalah wanita dan anak-anak) dan mereka siap berperang melawanmu dan membubarkan kalian dari Bait Suci.”
Sang Nabi menanggapi begini, “Kami tidak datang untuk berperang melawan siapa pun. Sebaliknya, kami datang sebagai peziarah. Perang telah melelahkan kaum Quraisy dan membawa mereka pada kehancuran. Jika mereka mau, aku akan memberi mereka waktu istirahat, tetapi mereka harus membiarkan kami sendirian. Jika usul ini diterima, dan jika mereka ingin bergabung dengan orang-orang untuk memeluk Islam, maka mereka boleh melakukannya. Jika tidak, dan jika mereka malah menentang setelah mengumpulkan kekuatan, maka demi Dia yang dalam tangan-Nya jiwaku bernaung, aku tidak akan ragu melawan mereka sampai leherku terputus! Tentunya Tuhan akan menimbang prinsip/tujuan-Nya sampai akhir!”

Kisah itu mengingatkan saya pada wejangan Petrus kepada umat yang mengalami persekusi di Asia Kecil, “Aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (1Ptr 2,11 ITB). Saya kira terjemahan ‘pendatang dan perantau’ tidaklah keliru, tetapi dalam versi Inggris dan Italia saya dapati kata lain: peziarah.

Nabi Muhammad memakai paradigma yang berbeda dari cara pandang biasa. “Kami tidak datang untuk berperang melawan siapa pun.” Urusannya bukan semata konflik kepentingan di bumi ini, melainkan bahwa konflik itu mesti dilihat dalam konteks peziarah. Konteks nasihat Petrus juga lebih luas daripada status perantau di Asia Kecil: umat beriman adalah pendatang dan perantau di dunia ini, di belahan mana pun. Mereka peziarah.

Peziarah dan gelandangan bisa jadi sama-sama jalan kaki, tetapi peziarah punya tujuan.
Sik sik sik, Mo. Memangnya gelandangan gak punya tujuan?
Oh iya, tapi, kata orang Jawa, tujuan peziarah itu satu: siji [sizi dong ya] sing diarah alias yang diarah itu satu doang, yaitu Tuhan.
Nah, sebentar, Rom. Tuhan itu ada di mana-mana, kan? Berarti peziarah juga bisa mengarah kepada Tuhan di mana-mana dong? Di gua Sendang Sono, Lourdes, Lawangsih, Kediri, Velangkani, Fatima, dan masih banyak tempat lagi!
Oh iya ding, njuk apa yang membedakan peziarah dari gelandangan dong kalau bukan arahnya?
Mungkin cara mengarahnya, Rom.
Hmmm… mungkin juga ya: Gelandangan berpindah dari lokasi satu ke lokasi lain tanpa sense of direction, mengalir saja ke mana angin meniupnya. Lagi kepingin ke Lourdes ya ke Lourdes, kalau anggarannya cuma cukup ke lordes (lor desa alias utara desa) ya jalan kaki ke utara kampung!

Ziarah bukan perkara lokazi atau destinasi, bukan pula perkara ideologi, melainkan perkara kesadaran diri akan hidup di hadirat Allah. Tak peduli di mana pun berada, yang disasar peziarah bukanlah kata benda: tempat, status, kekayaan, popularitas, keselamatan, atau bahkan Allah sendiri!
Wuih, Romo ini kacau, bukankah siji sing diarah itu mestinya Allah sendiri, kok malah dibilang tujuan ziarah bukan Allah? Bikin binun aja! [Lah piye to tadi katanya Allah ada di mana-mana] 

Pertanyaan dalam teks bacaan hari ini mengindikasikan pengetahuan si penanya bahwa keselamatan bukan perkara ganjaran hari kiamat, dan Yesus memang menegaskan bahwa setiap orang mesti berjuang dan ditambahkan keterangan bahwa banyak yang berusaha tapi sedikit saja yang bisa masuk.
Itulah ironinya: banyak orang makan minum bersama dan mendengarkan ajaran si tuan itu, tetapi tuannya sendiri tak mengenal orang-orang di luar pintu itu! Itu seperti menyindir orang Kristen yang gemar perjamuan, tiap Minggu ikut misa dan mendengar teks Kitab Suci (tambah lagi sudah punya daftar destinasi ziarah yang akan disambangi), tetapi toh Tuhan tak mengenalnya!

Rupanya, sedikit saja orang yang sasaran hidupnya bukan kata benda, sedikit saja orang yang mengarahkan dirinya pada kata kerja yang menyelamatkan hidupnya: bangkit. Betul, memang pada masa Yesus, gagasan mengenai kebangkitan itu bukan gagasan populer. Baru sekitar abad ke-2 Before Commmon Era (BCE) wacana kebangkitan muncul ketika orang-orang Yahudi mengalami persekusi kekaisaran Seleucid (Yunani) karena mereka berpegang teguh pada Taurat. Tidak seperti bangsa Mesir yang punya keyakinan akan hidup lain setelah kematian, orang Yahudi saat itu umumnya beranggapan bahwa orang mati ya dicemplungkan ke sheol. Tak ada jalan kembali atau keluar, habis di sana. Tak mengherankan, ada kisah ketika orang-orang kelompok Saduki hendak mempermalukan Yesus dengan pertanyaan  mengenai perempuan dengan banyak suami kelak setelah kebangkitan siapa yang jadi suaminya.

Orang Farisi, sebaliknya, punya kepercayaan kepada kebangkitan, tetapi hanya sejauh seperti Lazarus yang keluar dari kubur atau anak janda di Sarfat yang dibangkitkan Elia. Saya kira, paham orang Farisi ini juga yang secara subsadar dimengerti oleh bahkan orang Kristen.
Yesus menyodorkan wacana kebangkitan yang berbeda: ini perkara mewujudnyatakan nilai langgeng ke dalam hidup yang sekarang dan di sini. Maka, Yesus tidak secemas si penanya apakah kebangkitan itu eksklusif milik mereka yang berpegang teguh pada Taurat. Dalam tafsiran saya: kebangkitan itu milik siapa saja yang mengejawantahkan nilai langgeng yang dirujuk Taurat.

Di situ tetap ada situasi kritis karena barangkali sebagian orang kembali lagi memahami keselamatan sebagai ganjaran atau hadiah: sudah memenuhi seluruh petunjuk Taurat, maka layak mendapat hadiah keselamatan. Itu benar-benar tetot!
Keselamatan, kebangkitan, bukanlah perkara mengusahakan hadiah, melainkan merealisasikan tausiah yang ujung-ujungnya dari Allah.

Belakangan ini disodorkan kepada kita toxic leaders di negeri ini. Ini bukan soal ‘produk’ bos otoriter atau gabener atau orang tua kolot atau bahkan pasangan sulit yang bikin orang selalu mengeluh. Sebaliknya, ini soal ‘perilaku destruktif’ yang menghasilkan efek beracun pada individu, keluarga, organisasi, komunitas, dan bahkan seluruh masyarakat yang mereka pimpin. Toxic leaders bisa dengan sengaja menaikkan mutu diri dengan fitnah orang lain (bahkan orang mati saja masih difitnah), mengorbankan orang lain. Bisa juga, tanpa sengaja, toxic leaders menyebabkan kerugian serius dengan perilaku ceroboh atau sembrononya.

Singkatnya [setelah tulisan sepanjang dua posting, wkwkwk], toxic leaders mengejar hadiah dengan mengesampingkan tausiah. Toxic leaders terpaku pada angka tanpa kritis terhadap kerangka.
Apakah saya sedang menyoroti puluhan orang yang jadi bahan pemberitaan belakangan ini? Sama sekali tidak. Toxic leaders itu bisa jadi Anda dan saya sendiri, manakala concern kita hanya pada kata benda dan mengabaikan kata kerja yang memaknai keselamatan yang senantiasa hic et nunc, di sini dan kini.

Tuhan, mohon rahmat ketekunan dan kepekaan pada Sabda-Mu sehingga potensi toxic leader tidak menjadi aktual dalam hidup kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXI C/2
21 Agustus 2022

Yes 66,18-21
Ibr 12,5-7.11-13
Luk 13,22-30

Posting 2019: Agama Sempit
Posting 2016: Ikut Olimpiade Ah