Kamu dipenjara bukan karena kejahatanmu, melainkan karena kebodohanmu. Teks utama hari ini memuat nasihat serupa, tetapi disodorkan sebagai drama Yesus mengusir binatang korban dan para peziarah di kompleks Bait Allah Yerusalem.
Jika Anda naif, Anda akan menyimpulkan bahwa tidak bolehlah berdagang di tempat ibadat. Kalau Anda bergerak ke kenaifan berikutnya, Anda bisa saja menangkap nasihat itu sebagai larangan berbisnis dengan kedok agama. Bukannya tak masuk akal, bahkan itu sesuai dengan praktik hidup keagamaan zaman now juga: bisnis-politik agama. Itu beneran bikin runyam!
Kalau Anda mau masuk ke kenaifan selanjutnya, mungkin baik Anda lanjutkan tulisan tak berguna ini (maksudnya, tulisan ini tak bikin saya dapat royalti wkwkwkwk, malah tombok; tak lama lagi akan jadi blog gratisan tak berbayar). Ada dua hal berkaitan yang saya tawarkan dari bacaan utama hari ini. Yang pertama menjawab pertanyaan mengapa Yesus mengusir baik binatang korban maupun pedagang dan peziarah dari kompleks Bait Allah itu. Yang kedua berkenaan dengan solusi yang disodorkan Yesus.
Sebelum lanjut, pantas Anda ingat bahwa kompleks Bait Allah yang jadi latar drama ini luasnya sama dengan lapangan standar sepak bola, tapi bukan cuma satu, melainkan 22 lapangan. Dua dua, ingat ya, dua dua. Ini bukan kampanye. Nah, aneh kan kalau Yesus itu mengusir binatang korban dan para pedagang dan peziarah di area seluas itu. Kejadiannya pasti gak seheboh itu, dan janganlah Anda bayangkan bahwa kompleks seluas 22 lapangan sepak bola itu seluruhnya adalah tempat ibadat.
Enggak, Batas suci di dalam kompleks itu ya mungkin sekitar separuhnya saja di tengah kompleks alun-alun super megah itu; hanya orang Israel yang boleh masuk ke kompleks tempat ibadat, yang terbagi dalam tiga gedung. Perempuan hanya bisa di ujung batas suci, laki-laki bisa beribadat di tempat yang lebih dekat dengan bait suci, dan yang bisa masuk ke dalam bait suci cuma imam yang dapat jatah tugas; itu pun setahun sekali.
Nah, di luar batas suci tadi, siapa pun boleh masuk, tanpa batasan apa pun. Maka, termasuk para pedagang binatang korban memang berada di kompleks Bait Allah, tapi di sisi tertentu yang memang sudah dialokasikan untuk pedagang. Di luar tembok Bait Allah itu juga ada tempat berdagang, termasuk money changer. Yang di dalam tembok, tempat jualannya lebih megah, dan harga binatang korbannya juga lebih mahal. Anda tahu, kan, secarik kain yang di luar bisa dibeli beberapa puluh ribu, berapa ratus ribu mesti Anda keluarkan untuk membeli secarik kain itu di dalam mall?
Mengapa Yesus mengusir binatang korban dan pedagang serta pembelinya?
Sebetulnya saya juga gak tau, tapi nalarnya bisa dimengerti dari apa yang beberapa ratus tahun kemudian diperjuangkan Nabi Muhammad. Anda tahu dong Nabi Muhammad getol mengajak orang untuk mengakui Allah yang esa dan percaya bahwa beliaulah utusan Allah itu. Mengapa beliau getol dengan itu? Karena memang kaum penguasa waktu itu menyembah berhala. Untuk urusan ini ada ilahnya, untuk urusan itu ada ilah lain lagi, begitu seterusnya. Jadi, orang bisa hitung-hitungan bisnis dengan ilah-ilah itu; ilah yang satu lebih manjur dari ilah yang lain; dan itulah sebab yang dilihat Nabi Muhammad bahwa tata kelola masyarakat jadi amburadul.
Njuk apa hubungannya dengan Yesus mengusir hewan korban dan para pedagang dan penjualnya, yang nota bene bukanlah orang jahat?
Betul, sama seperti zaman now, peziarah itu jelas bukanlah orang jahat; mereka ini orang yang devotif, taat beribadah, suka memberi sumbangan, membantu orang berkekurangan, ikut kegiatan lingkungan, pendalaman iman, dan seterusnya. Mosok kayak gitu dibilang jahat? Ada apa dengan Yesus ini ya; orang baik-baik mau persiapan hari besar keagamaan, malah diusir dari kompleks Bait Allah?
Kalau Anda ingat, di kompleks Bait Allah Yerusalem itu, yang in charge adalah kaum Saduki. Mereka ini golongan orang yang tak percaya pada kebangkitan alias hidup akhirat. Hidup itu ya sekali ini aja, setelah mati ya udah selesai. Jadi, manfaatkanlah hidup ini sebaik-baiknya dan ambillah kekuasaan selama-lamanya sebisamu! Dengan kata lain, bahkan meskipun orang Saduki ini mengelola Bait Allah, mereka tak lain mengelola kekuasaan di bawah bayang-bayang kekaisaran Romawi. Kalau diumpamakan dengan lembaga sekarang, bisa jadi Bait Allah dan perekonomiannya itu berfungsi sebagai bank sentral; di situ kendali seluruh bangsa Israel ditentukan, ekonomi, politik, dan keagamaan. Dalam arti tertentu, kaum Saduki itu tak berbeda jauh dari penyembah berhala, yang bisa jadi mereka sebut sebagai Tuhan sesuai bungkus norma yang ada. Praktiknya ya beda.
Bisa jadi itulah persoalan yang dilihat Yesus: Anda jadilah orang beragama, tapi jangan sampai bodoh sehingga dipecundangi oleh pemuka-pemuka agama Anda! Beragamalah secara cerdas, jangan sampai jadi korban permainan penguasa. Penguasa itu tak harus berwujud orang dengan status atau jabatan tertentu, tetapi bisa juga sistem atau materi tertentu.
Alhasil, kita ingat, Yesus menyitir juga teks dari Perjanjian Lama: yang kukehendaki bukanlah korban sembelihan atau bakaran, melainkan belas kasih.
Dengan demikian, yang dilihat Yesus bukanlah pertama-tama perkara kongkalikong ekonomi dan agama. Ini paralel dengan persoalan teknologi: robot bisa meniru manusia bukanlah masalah utamanya. Masalah utama justru kalau manusia berpikir seperti robot, kalau orang beragama membangun relasi dengan Tuhannya berdasarkan kalkulasi ekonomi!
Nah, itulah kiranya maksud Yesus mengusir hewan korban dan orang-orang di kompleks Bait Allah itu: jangan kamu kira urusan dengan Allah dihadapi secara transaksional!
Betul Anda perlu berdoa, tapi doa itu tak pernah dimaksudkan untuk memuliakan diri Anda: kalau aku bisa lembur doa, Allah mesti menyembuhkan aku; kalau aku sudah dibaptis, Allah mestilah melancarkan usaha-usahaku; kalau saudaraku, anakku sudah jadi pemuka agama, Allah mesti memperhatikan nasibku, dan seterusnya. Ini iman atau calistung?
Apa yang ditawarkan Yesus?
Rombak Bait Allah macam begini, dan kutawarkan Bait Allah yang terbuka bagi semua saja, apa pun agamanya, untuk bergabung: menempatkan Allah sebagai satu-satunya pegangan hidup dalam solidaritas dengan yang lainnya.
Anda ingat kejadian yang dituturkan penginjil ketika Yesus dikatakan wafat? Tirai bait suci terbelah, terbuka: yang semula cuma bisa dimasuki imam setahun sekali, bisa diakses oleh siapa saja tanpa batas suci lagi!
Apa mau dikata, lebih banyak orang memilih kebodohan juga dalam beragama sehingga jadi bulan-bulanan penguasa, yang terampil bertransaksi. Allah pun mau dimasukkan dalam kerangka transaksi. Tak mengherankan, relasi dengan sesama pun jadi transaksional.
Bisa jadi, sumber utama masalah relasi adalah konsep transaksional itu, baik dengan Allah maupun dengan sesama. Kalau konsep itu dilandasi syukur, mungkin masih mendingan (aku sudah dibantu, maka aku akan coba bantu). Sebaliknya, jika landasannya adalah pemuliaan diri, refrennya jadi menuntut pihak lain. Alih-alih bersyukur atas perhatian orang lain, orang ini menuntut sesamanya untuk bersyukur dan membalas kebaikannya. Dijamin runyam.
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk sekurang-kurangnya menyadari kebodohan kami. Amin.
HARI MINGGU PRAPASKA III B/2
3 Maret 2024
Kel 20,1-17
1Kor 1,22-25
Yoh 2,13-25
Posting 2021: Ruko
Posting 2018: O Ya Bongkar!
Posting 2015: Kita Dihukum Bebas
