Prabayar

Published by

on

Kalau orang beriman mesti berelasi secara transaksional dengan hidupnya, which is tidak sepenuhnya betul kecuali dalam hidup bisnisnya, ia akan lebih safe menerapkan pola prabayar daripada pascabayar. Maksud saya, ia akan lebih bahagia jika ‘bayar di muka’ bin prepaid daripada ‘bayar kemudian’ alias postpaid atau mungkin pay later.

Kenapa bisa gitu?
Begini sederhananya. Kemarin tuh ada seorang anak muda yang bertanya mengenai soal mengikhlaskan cintanya yang mesti ambyar, yang artinya dia mesti merelakan pujaan hatinya menjauh dan mendekat ke hati orang lain. Ia hendak minta konfirmasi apakah betul bahwa ujung cinta seseorang adalah keikhlasannya. Dengan kata lain, ia bergumul apakah semakin orang mencinta, semakin ia ikhlas.
Itu adalah pertanyaan yang belum pernah saya pikirkan meskipun secara teoretis itulah tesis yang saya tulis dalam buku (Cara Menguji Ketulusan Cinta).

Barangkali baik juga menilik bacaan hari ini untuk memahaminya lebih jauh. Anjuran kisah hari ini bisa dirumuskan begini: kalau mau betul-betul melihat Yesus yang disebut Kristus, orang mestilah hidup dalam penyangkalan diri, mendonasikan dirinya bagi kehidupan. Nah, pernyataan seperti ini kan masih tetap membutuhkan waktu untuk loading ke pembaca atau pendengarnya. Jadi, jawaban seperti itu saya kira kok tetap tidak sungguh kena ke pertanyaan orang muda tadi.

Alhasil, dalam KBBI sebetulnya juga sudah diterangkan bahwa ikhlas berarti bersih atau tulus hati. Dengan demikian, itu sudah cukup memberi konfirmasi kepada pernyataan orang muda tadi bahwa semakin orang mencinta ya jelas semakin ikhlaslah dia, semakin bersih hatinya, semakin tulus cintanya.

Persoalannya, yang jadi salah kaprah ialah ikhlas itu dihidupi orang sebagai postpaid alias pay later. Saya sudah menyodorkan contohnya pada posting Ikhlaskanlah… Di situ, ikhlas masih sepaket dengan berperang melawan kecewa, sakit, penyesalan, dan kawan-kawannya. Tentu saja, karena orang bisa teledor, bisa foya-foya, bisa korupsi, bisa main kuasa, dan seterusnya sampai ketika kepentok dan ada yang hilang njuk baru bilang ikhlas.

Beda perkaranya kalau ikhlas ditempatkan pada posisinya; semakin orang membersihkan hati, semakin orang tulus, ia semakin terbuka pada segala kemungkinan bahkan ketika tiba-tiba orang yang paling dicintainya berkhianat. Dari perspektif pay later atau postpaid, ini dilan banget; mana ada orang yang mau ditimpa kepahitan kayak begitu? Persis karena modalnya transaksional dengan moda pembayaran ngebon dulu.

Begitu orang menaruh ikhlas di depan, bayar di muka, ia sudah terbuka pada segala kemungkinan karena ia mencinta bukan untuk dicintai, melainkan ya memang untuk mencinta. Kasih ibu semestinya sepanjang masa tak pernah minta kembali, tak lagi transaksional.

Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian supaya hidup kami boleh jadi seperti gandum yang mati dan jatuh ke tanah. Amin.


HARI MINGGU PRAPASKA V B/2
17 Maret 2024

Yer 31,31-34
Ibr 5,7-9
Yoh 12,20-33

Posting 2021: Mati Kowe
Posting 2018: Learning by Nyemplung
Posting 2015: Sepi dalam Ramai

Previous Post
Next Post