Seorang sohib menyodorkan video kepada saya, yang isinya adalah permintaan Bapak Paus supaya homili atau khotbah (keduanya tidak sama; salah satu darinya cenderung bikin pembawanya menjejali pendengar dengan aneka nasihat moral supaya orang hidup baik bla bla bla) dalam Ekaristi tidak lebih dari delapan menit. Demi ketaatan saya kepada Bapak Paus, saya mengikuti nasihat sohib saya. Jadi, pagi ini saya berhomili tidak lebih dari delapan menit.
Pertama saya singgung protes saya terhadap terjemahan Kitab Suci karena misleading, dan tampaknya umat sepakat dengan saya: aneh gak sih orang takjub bin terkesima njuk tak lama kemudian berbalik 180º kecewa dan menolak orang yang semula membuatnya takjub? Dalam KBBI, takjub itu artinya begini: kagum; heran (akan kehebatan, keindahan, keelokan seseorang atau sesuatu).
Tidak aneh, kan, ya? Bisa jadi Anda takjub karena tampilan menor atau kecanggihan teknologi atau posisi jabatan tinggi dan tahu-tahu mak bedundug jebulnya aslinya ancur, ternyata modus, ternyata kelakuannya dah selayaknya predator, ternyata kompleks megalomania, dan seterusnya.
Kalau begitu, tidak aneh juga bahwa teks bacaan ketiga hari ini menyodorkan sosok Yesus yang semula bikin orang takjub njuk berubah jadi antipati.
Masalahnya, di sini protes saya, kalau itu tidak aneh, yang dibuat Yesus tidak berbeda dari yang dilakukan para oligark, para penguasa, para pejabat yang menampilkan kemegahan yang mengagumkan jebulnya ya tak lain dari strategi kekuasaan yang mengorbankan banyak orang lemah.
Apakah Yesus yang omong doang seperti itu yang saya ikuti? Bukan! Jadi, pasti bukan begitu alur ceritanya, dan itu mengapa saya protes terhadap terjemahan. Kata yang diterjemahkan dengan ‘takjub’ sesungguhnya lebih dekat dengan kata terkejut, shock, atau kaget. Ini lebih masuk akal karena Yesus itu kembali ke tempat asalnya, yang tentu saja adalah masyarakat tradisional dengan tata krama atau tata susila tertentu. Lihatlah reaksi berikutnya yang berupa pertanyaan senada itu: bisa-bisanya orang ini omong dan mengajar kek gitu padalah dia kan berasal dari keluarga di sini yang sehari-hari ya bersama kita; hidup secara tradisional. Nada pertanyaan orang kampung Yesus ini lebih condong seperti itu daripada nada protes orang yang tertipu oleh pejabat negara bermulut besar dan bertelinga panci.
Karena itu, klop juga bahwa Yesus menyinggung nasib tragisnya: nabi ya dihargai, tapi tidak di tempat asalnya sendiri karena persis tempat asalnya hanya hidup dari kebiasaan dan mentalitas così fan tutte alias semua orang juga begitu, begitu semua orang melakukannya. Apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus tidak memenuhi mentalitas bebek.
Akan tetapi, mosok iya segitunya sampai orang kampung asal Yesus ini kecewa dan menolaknya? Ajaran mana yang sedemikian fatal bikin masyarakat menyebutnya orang sinting, gila, tak waras, dan sejenisnya?
Ini bukan perkara aturan, kewajiban dan larangan agama yang kerap tampak dilanggar Yesus, melainkan perkara dasar pemikiran yang melandasi itu haram-haramnya sesutu: Bagi orang kampung Yesus yang sangat religius itu, Allah memilih mereka sebagai bangsa pilihan di atas bangsa-bangsa kafir.
Tampaknya, semula Yesus berpikir begitu juga, tetapi kemudian dia sadar betul bahwa konsep bangsa terpilih itu isapan jempol belaka. Kalau pun itu mau dipertahankan, mesti dihayati dengan cara yang berbeda juga: aku dipilih Allah untuk melayani mereka yang dicap kafir dan sebagainya supaya mereka pun menikmati atau mencecapi kabar gembira, bisa mendengar Sabda Ilahi dan membangun hidup yang sejahtera dan berkeadilan bagi semua, alih-alih malah menyiapkan family office, ampun ya ampun.
Tuhan, mohon rahmat supaya hidup kami dapat menjadi pancaran kemuliaan-Mu bagi semesta. Amin.
HARI MINGGU BIASA XIV B/2
7 Juli 2024
Yeh 2,2-5
2Kor 12,7-10
Mrk 6,1-6
Posting 2021: Panic Praying
Posting 2018: Daging dalam Duri
Posting 2015: No Faith, No Miracle
