Retret

Published by

on

Saya tidak hendak bertele-tele dengan kata disiplin itu gimana, sudah saya singgung di blog ini 9 tahun lalu. Paling-paling bisa saya tambahkan metaforanya sebagai sungai alami yang menciptakan tepiannya sendiri. Air itu tahu mesti ke mana dan caranya ke sana, dan itulah yang membangun disiplinnya, menciptakan tepiannya, kelokannya, kedalamannya, dan seterusnya. Singkatnya, disiplin bukan perkara seragam dan keseragaman, melainkan perkara jati diri yang dibangun dalam keterhubungan harmonis antara tujuan dan sarana. Kalo orang gak ngerti tujuannya, gimana mau tahu sarana dan cara sampai ke sana?

Pengemis buta dalam teks Injil hari ini keren. Tentu, cerita sesungguhnya gak seperti yang diceritakan Injil, tetapi poinnya si penulis Injil ini menunjukkan di mana kerennya perjumpaan pengemis buta dan Yesus. Pengemis ini mungkin ngerti soal fengsui (baca: fə́ŋ.ʂwèɪ ): posisi menentukan prestasi. Dia meminta-minta di gerbang luar kota Yerikho, yang pasti ramai lalu lintas peziarah ke Yerusalem. Menariknya, rumusan minta-mintanya tidak seperti Pak Ogah yang minta cepek, tetapi seperti orang yang minta belas kasihan. Ironisnya, para peziarah memberinya uang belum tentu karena kasihan, melainkan karena memang mereka wajib memberi sedekah. Teriakan pengemis buta itu seakan mengingatkan kita bahwa yang dikehendaki Allah bukanlah persembahan, melainkan belas kasihan, yang tentulah lebih dari sekadar perasaan sentimental.

Kedua, nama Bartimeus terhubung dengan kata dalam bacaan kedua: kehormatan. Yes, ini sambung dengan bacaan minggu lalu. Anak Timeus ini tak berbeda dari dua murid yang minggu lalu dikisahkan sebagai pengikut yang minta posisi, jabatan, status istimewa karena begitulah mereka membayangkan kehormatan. Kehormatan dipupuk dari uang, yang dikumpulkan pengemis buta ini.

Perjumpaan dengan Yesus mengubah konsep kehormatan si pengemis buta ini dari yang pondasinya uang ke pondasi yang lebih kokoh, yaitu mengikuti pribadi yang memanggilnya itu. Nota bene, Yesus tidak langsung memanggil Bartimeus; dia minta murid-muridnya dan barangkali dari situ juga bisa kita pelajari bagaimana komunitas murid itu menanggapi panggilan Yesus dan berinteraksi dengan Bartimeus, semacam orang yang baru merangkak untuk mengikuti Yesus.

Mereka tahu benar bahwa masa depan Bartimeus tidak akan pernah mudah; dengan mata butanya, keterampilan apa yang bisa diandalkannya?
Lah, kan disembuhkan Yesus, Mo?
Iya, tapi itu tidak identik bahwa mata dengan kornea itu berfungsi normal. Kesembuhannya bisa dimengerti begini. Selama mengemis itu, Bartimeus selalu fokus pada uang yang diperolehnya dari para peziarah. Uang itu terkena hukum gravitasi dan mestilah jatuh ke bawah dan Bartimeus mengumpulkan sedekah yang ada di bawah itu, yang mungkin dialasi dengan mantolnya.

Ketika Yesus bertanya “Apa yang kamu mau kulakukan bagimu?” (seperti minggu lalu Yesus bertanya pada dua anak Zebedeus), dia jawab, “Guru, supaya kau bisa melihat.” Akan tetapi, ‘melihat’ itu tak perlu buru-buru dihubungkan dengan mata fisik dua biji di atas hidung. Dalam bahasa aslinya dipakai kata ἀναβλέψω (anablepo: melihat ke atas): tak lagi menatap ke bawah, ke duit-duit yang berserakan dan harus dikumpulkannya untuk membangun kehormatan, melainkan menatap ke atas, bagaimana Allah dengan berbagai cara memberinya tiramisu (tariklah aku ke atas)!

Tak mengherankan, para murid yang diminta Yesus memanggil Bartimeus itu memberi bekal kepada Bartimeus dengan tiga hal: “menyala abangkuh” (meskipun jelas masa ke depan sama sekali tidak akan mudah), “tegaklah berdikari, berswasembada pangan” (meskipun sekian puluh tahun kaum petani tak kunjung bangkit), dan “kamu, ya kamu” (bukan basa-basi, panggilan Yesus tidak bersifat acak pada konsep kemanusiaan, melainkan menyasar pada pribadi konkret untuk terlibat).

Tak mengherankan lagi, Bartimeus, sebelum mendekat kepada Yesus, sudah meninggalkan mantolnya, menanggalkan kehormatan yang ditatapnya selama itu; dan itu mengapa Yesus menggarisbawahi, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Lha iya, wong dia sudah melihat dengan cara barunya soal kehormatan. Di situ, Bartimeus menghidupi kualitas disiplin yang keren: dia tahu tujuannya dan cara untuk sampai ke tujuannya itu. Kalau Bartimeus jadi menteri dan ikut retret, itu pasti bukan demi gagah-gagahan karena seragam, melainkan karena sungguh mau ikut memberantas para pemburu rente negeri ini yang seperti rayap nan membahayakan kedaulatan rakyat! Loh, kok jadi politik, wkwkwkwk….

Tuhan, mohon rahmat ketekunan dalam menapaki jalan menuju kehormatan atau kemuliaan-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXX B/2
27 Oktober 2024

Yer 31,7-9
Ibr 5,1-6
Mrk 10,46-52

Posting 2021: Melek-melek Buta
Posting 2018: Know Your Sixth Sense
Posting 2015: Susahnya Jadi Nobody

Previous Post
Next Post