Pada umumnya orang modern tidak percaya bahwa penyakit mental atau epilepsi, misalnya, adalah jenis penyakit bikinan roh jahat bin setan. Tentu saja, teknologi akhirnya menemukan aneka disfungsi fisiologis yang berpengaruh pada mental seseorang. Akan tetapi, orang modern pun tidak menampik bahwa penyembuhan penyakit-penyakit itu juga punya dimensi spiritual, apalagi kalau teknologi mentok dan dokter angkat tangan.
Teks bacaan utama hari ini menyinggung perkara penyembuhan penyakit yang pada zamannya dilekatkan sebagai akibat perbuatan setan bin roh jahat [lha ini siapa anaknya siapa sih, Rom?]. Sebagaimana dalam kisah eksorsisme kemarin, penulis teks ini tidak tertarik pada cara penyembuhannya, melainkan makna kesembuhan yang dialami oleh karakter dalam ceritanya. Kisah kesembuhan ibu mertua Petrus yang segera diikuti tindakannya ‘melayani mereka’ tidak perlu dibaca dengan sentimen gender seakan-akan perempuan itu menjadi pelayan laki-laki.
Mungkin lebih baik dibaca dengan kacamata bahwa lokasi sosial Guru dari Nazareth menempatkan perempuan senior sebagai penanggung jawab atas hospitalitas terhadap tamu penting, misalnya. Kondisi sakit menyebabkan ibu mertua Petrus tak dapat mengemban tanggung jawab terhormatnya. Dengan kesembuhannya, ia dapat mengambil tanggung jawab itu kembali. Barangkali Anda dan saya bisa belajar dari kepala koki perfeksionis yang tidak akan membiarkan orang lain menyentuh perkakas masaknya demi pelayanan terbaiknya. Ini bukan lagi perkara menjadi pelayan, melainkan perkara menjaga peran mulia yang diembannya.
Menariknya, kisah penyembuhan ini memantik popularitas ala STY di seantero negeri dan tentu berdampak pada naiknya demand seperti dalam ilmu ekonomi. Dalam kondisi tingginya permintaan itu, Guru dari Nazareth tetap mengidolakan tempat sunyi untuk menyendiri dan berdoa; dan pada gilirannya, beliau melihat bahwa pemerdekaan itu tidak bisa ditancapkan di satu tempat atau kelompok, tetapi mesti juga ditularkan ke tempat lain. Apakah ini berlaku untuk pagar laut?😁
Tuhan, mohon rahmat kemerdekaan dan rasa tanggung jawab supaya kami semakin mampu menghargai martabat ciptaan-Mu. Amin.
HARI RABU PEKAN BIASA C/1
15 Januari 2025
Posting 2021: Mager
Posting 2019: Tuhan di Mal?
Posting 2017: Mau Jadi Selebriti Eaaa
Posting 2015: Doa Yang Menyentuh Hati
