Tuhan di Mal?

Kalau orang sungguh beriman, bisa jadi sepak terjangnya malah mengusik orang beragama. Narasi teks hari ini menunjukkan bahwa tempat perjumpaan dengan Tuhan itu adalah sebuah rumah; bukan lagi tempat ibadat, bukan lagi bangunan tempat pujian (yang di negeri ini jadi alat empuk untuk bikin kekacauan), bukan lagi gereja Katolik dengan tabernakelnya (tempat hosti suci disimpan), bukan bangunan megah tempat berziarah.

Betul juga ya, kalau rumah itu jadi tempat perjumpaan dengan Tuhan, barangkali tempat ibadat adalah ruang perjumpaan dengan sesama. Tentu saja orang hendak menjumpai Tuhannya di tempat ibadat untuk memuji dan menyembah-Nya, tetapi yang paling konkret adalah perjumpaan dengan sesama. Kalau begitu, benarlah dalih orang-orang muda beragama yang mengatakan bahwa berjumpa dengan Tuhan itu bisa di mana saja, tidak harus ke gereja, masjid, vihara, pura, dan sebagainya: dalih atas kemalasan, keengganan untuk welcoming others.
Loh, sama aja, Rom. Welcoming others itu juga bisa dilakukan di mana ajagak harus di tempat ibadat.
Lho lha iya betul, sebagaimana perjumpaan dengan Tuhan bisa terjadi di tempat ibadat maupun di rumah, perjumpaan dengan sesama memang bisa terjadi di rumah maupun tempat ibadat. Anda yang Katolik tak harus datang mendekati tabernakel untuk menjumpai-Nya karena perayaan bulan lalu jelas menunjukkan Allah yang menghampiri manusia. Dia yang aktif, manusia reseptif.

Meskipun demikian, kalau melihat narasi hari ini, bisa dilihat perubahan setting tempatnya: dari tempat ibadat, ke rumah, lalu kota-kota. Artinya, perjumpaan dengan Tuhan itu diawali dari tempat ibadat ke tempat yang lebih luas, dari ‘altar’ ke ‘pasar’. Jadi, perjumpaan di tempat luas itu tidak ujug-ujug atau tau-tau terjadi tanpa asal usul atau landasan. Ada akarnya dan akar itu adalah perjumpaan di tempat ibadat, yang kemudian akan semakin meluas. Dengan demikian, orang yang mengklaim diri hendak menjumpai Allah di mana-mana kecuali tempat ibadat, ia perlu jujur pada dirinya sendiri: benarkah perjumpaan dengan Tuhan itu terjadi di mana-mana, atau itu hanya dalih bagi kemalasannya untuk welcoming others?

Saya tidak hendak mengatakan bahwa ibadat bersama yang wajib itu menarik, tetapi sekurang-kurangnya dalam agama yang saya hidupi, dalam ibadat bersama itu ada ruang untuk mendengarkan Yang Lain (teks suci beserta interpretasi) dan berkumpul bersama yang lain (membangun communion) untuk menimba inspirasi dalam waktu khusus dan tempat khusus. Ruang waktu yang dikhususkan ini tentu dimaksudkan supaya perjumpaan di ruang lainnya bisa juga dialami di waktu lainnya.

Pokoknya, hidup orang beriman, karena perjumpaannya dengan Tuhan dan sesama, mestilah berdampak, berbuah, semakin meluas, semakin menebarkan makna bagi yang lain. Narasi teks hari ini adalah pola perluasan itu, dari kedalaman ke keluasan. Di kedua ranah itu tetap dimungkinkan perjumpaan dengan Tuhan, tetapi polanya ya seperti itu: nemo dat quod non habet, tak ada orang memberikan sesuatu yang dia tak punya. Kedalaman di tempat ibadat berbuah pada luasnya kemaslahatan bagi semua.
Tuhan, mohon rahmat untuk senantiasa memperluas cakrawala hidup kami
. Amin.


HARI RABU PEKAN BIASA C/1
16 Januari 2019

Ibr 2,14-18
Mrk 1,29-39

Posting Tahun B/2 2018: Galau Tiada Henti
Posting Tahun A/1 2017: Mau Jadi Selebriti Eaaa

Posting Tahun C/2 2016: Price Tag vs Love Tag
Posting Tahun B/1 2015: Doa Yang Menyentuh Hati

3 replies

  1. Halo Romo

    Dan Fuerbach pun yang memasukkan Tuhan dalam antropologi dan menggangap Tuhan merupakan proyeksi dari kesadaran keterbatasan manusia tidak bisa menjelaskan ttg iman yg sebenarnya melampaui psikologis manusia semata karena iman adalah refleksi pengalaman dengan yang Adi Kodrati..

    Serta Nietzsche yang mengingatkan kaum saintis pada zamannya dan menyatakan ” … bahwa Tuhan telah mati dan tetap mati, kitalah yang membunuhnya”… dst ..dst.. (tafsiran A. Setyo Wibowo)

    Mungkin dari situ bisa belajar bagaimana orang beragama berelasi dengan Tuhan dan memurnikan hidup religiusnya dan menempatkaNya diatas ketidaktahuan manusia..

    Salam damai..

    Like

    • Halo mas HPI (lha kok jadi mas), betul, manusia punya tabir gelap yang mengatasi pengetahuannya. Karena itu, sebagian orang menganut agnostisisme (paham bahwa mengenai Allah orang tak bisa bilang apa-apa karena tak punya pengetahuan yang memadai). Akan tetapi, orang tak perlu agnostik karena yang penting tabir gelap itu dibuka bersama-sama dengan saling menyumbang perspektif. Salam,

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s