Mager

Pada umumnya orang sakit memerlukan masa transisi untuk kembali aktif bekerja. Begitu pula atlet yang sehat, butuh masa transisi sebelum bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya: masa latihan, uji coba, dan sebagainya. Orang sakit dalam kisah bacaan hari ini berbeda. Memang sakitnya cuma demam (yang sekarang ini tidak bisa dianggap enteng). Akan tetapi, kalau karena demam, orang mesti berbaring, ini tentu bukan demam biasa. Butuh waktu baginya untuk beraktivitas melayani orang banyak.
Lha ya penulis kisahnya tentu hendak menyingkat cerita, Mo, mosok mesti ditulis masa transisinya.
Nah, itu pertanyaan saya. Bukankah cukup dikatakan Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus, dan setelah itu dia melayani mereka? Demi ringkasnya, mengapa mesti diterangkan bahwa terbaring; tambah pula Yesus memegang tangan dan membangunkannya?

Teks ini ditulis beberapa puluh tahun setelah kejadian dan saya sangat meragukan bahwa penulisnya hadir di TKP. Pilihan kata dan poin yang disodorkannya lebih bernuansa simbolik, merujuk pada blokade pelayanan. Bayangkanlah orang yang terbaring karena sakit, yang bisa jadi hidupnya hanya jadi konsumtif. Makan, minum, obat, bahkan untuk ke belakang pun mungkin mesti ‘mengonsumsi’ tenaga dan waktu para tenaga kesehatan. Semua difokuskan untuk dirinya. Orang sakit ‘mendominasi’ perhatian orang lain demi kesembuhannya. Dalam keadaan sakit, biasanya orang mager, sungguh konsumtif, tidak produktif. 

Akan tetapi, objek sifat konsumtif tak terbatas pada obat, makanan, dan minuman. Kalau begitu, blokade pelayanan pun tidak hanya menimpa orang yang mengalami sakit biologis. Kiranya kemacetan pelayanan publik di negeri ini terjadi justru blokade konsumtif yang hinggap pada orang-orang yang badannya segar bugar. Pada diri orang yang sehat begini malah sifat konsumtif bisa diperluas: bukan lagi makan apa, melainkan makan siapa.

Semalam kami menonton film Liam Neeson berjudul Honest Thief, dan ditunjukkan di situ bagaimana transformasi hidup bandit terganjal oleh mental korup petugas kepolisian. Alih-alih mengambil barang bukti, ia hendak menguasainya sendiri. Akan tetapi, tak berhenti di situ, ia hendak mendominasi atasan dan rekan kerjanya. Kiranya, jenis blokade mental ini lebih mengerikan daripada blokade biologis. Mengapa? Bisa jadi malah orang ini tidak mager, tetapi menunggangi sifat produktif atau pelayanannya untuk kepentingan dominasi atau penguasaan atas barang maupun orang lain.

Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian supaya semata Engkaulah yang menguasai hidup kami. Amin.


HARI RABU PEKAN BIASA B/1
13 Januari 2021

Ibr 2,14-18
Mrk 1,29-39

Posting 2019: Tuhan di Mal?
Posting 2017: Mau Jadi Selebriti Eaaa

Posting 2015: Doa Yang Menyentuh Hati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s