Mens Sana

Ada nasihat suci begini: kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati. Keterangan “jika mendengar suara-Nya” itu lebay. Orang suci (karena tak bertegar hati) tak membutuhkannya. Orang yang tak suci (karena yang didengarkannya “tipu daya dosa”) tidak memahaminya. Jadi, sebetulnya cukuplah dianjurkan supaya orang tak bertegar hati.

Akan tetapi, tegar hati pun bukan pilihan substansial. Ini label yang diberikan kepada mereka yang keras kepala, yang keukeuh dengan perspektifnya sendiri. Dengan demikian, nasihat itu sesungguhnya merupakan anjuran untuk membuka perspektif, melihat, mendengarkan yang lain. Disposisi untuk membuka diri kepada yang lain ini ditunjukkan dalam sikap Guru dari Nazareth: compassion. Setelah kepadanya disodorkan pernyataan “Jika engkau mau, engkau bisa menyembuhkan”, hati Guru dari Nazareth ini tergerak oleh belas kasihan.

Compassion itu mengarahkan Guru dari Nazareth pada kebaikan orang lain: mengulurkan tangan, menjamah orang kusta itu dan sembuh deh. Anehnya, mengapa Guru ini memberi peringatan (keras!) “Jangan kasi tau siapa-siapa!” atau “Jangan ngegosip!”? Apakah Guru ini low profile dan mau bekerja di balik layar?
Mungkin beliau low profile, tapi kalau mau sembunyi-sembunyi, ngapain menyembuhkan orang sakit di hadapan orang lain? Siapa yang bisa membungkam sekian mulut orang? Orang low profile tak memaksakan dominasinya.

Guru ini takut geraknya terbatas? Dalam teks sendiri dikatakan bahwa beliau tak bisa terang-terangan masuk kota. Kalau orang menjamah penderita kusta, ia sendiri jadi najis, dan kalau najis, ia terdiskriminasi! Betul bahwa beliau menanggung akibat kengèyèlan bin kebebalan penderita kusta yang disembuhkannya, tetapi itu tidak menjelaskan bahwa Guru dari Nazareth melarang pengumuman supaya dia tak dirugikan. Ini tak cocok dengan compassion, yang semata mengarah pada kebaikan yang lain, tak disusupi kepentingan sendiri. 

Yang klop dengan prinsip compassion ialah bahwa Guru dari Nazareth menyasar kesembuhan total penderita kusta: fisik dan mental. Sayangnya, beliau gagal. Fisik orang itu sembuh, tetapi mentalnya tidak. Buktinya, orang yang sembuh itu tetap woro-woro: bukan hanya perkara kepala batu mengabaikan peringatan Guru semata, melainkan juga soal ketidakpahamannya bahwa kesembuhan fisik itu adalah kefanaan. Bisa jadi dia mengalami euforia seakan-akan kesembuhan fisiknya itu adalah segala-galanya.

Mungkin begitulah tendensi orang: mencari keselamatan fana. Yang abadi pun diukur dengan kefanaan: sukses soal kelancaran, keambyaran berarti gagal; tenang kalau menang, meradang kalau kalah; hidup jadi kompetitif dan orang berusaha menguasai yang lain. Guru dari Nazareth menginginkan kesembuhan jiwa si kusta juga, tetapi yang bersangkutan bertegar hati dengan kesembuhan fananya belaka. Ya apa boleh baut?

Tuhan, mohon rahmat bela rasa supaya kami semakin tulus mencintai-Mu. Amin.


HARI KAMIS BIASA I B/1
14 Januari 2021

Ibr 3,7-14
Mrk 1,40-45

Posting 2019: Yang Waras Ngalah
Posting 2017: Mau Opname Dong
 
 
Posting 2015: Bahayanya Mukjizat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s