Mari sejenak kilas balik ke dunia zaman Yesus di tanah Palestina, dunia yang begitu sederhana menghubungkan yang natural dengan supranatural dan hidup rakyat jelantah tak hanya ditindas oleh kekuatan natural penjajah tetapi juga kekuatan supranatural yang diklaim oleh pemegang tradisi religius. Teks bacaan utama hari ini menarasikan kisah penyembuhan penderita kusta, yang juga dipaparkan dalam teks lain seminggu lalu dalam posting Konduktor.
Dalam teks hari ini, nuansa emosional kuat Guru dari Nazareth sangat kentara dari penggunaan kata kerja yang dipakai penulisnya, tetapi tak usahlah disinggung di sini, soalnya saya juga tidak mahir Bahasa Yunani. Cukup dimengerti bahwa Yesus ‘tidak baik-baik saja’ dengan keadaan masyarakatnya; masyarakat tradisional yang menganggap kusta sebagai kutukan Yang Ilahi dan karenanya mesti didiskriminasi juga lewat prosedur religius. Yang berwenang menyatakan penderita kusta sembuh adalah imam, dan Yesus bukanlah imam dalam arti itu. Meskipun demikian, kisah penyembuhan ini (yang kerap diidentikkan sebagai mukjizat) menunjukkan bahwa Yesus punya respek terhadap prosedur religius itu. Itu mengapa ia meminta penderita kusta itu melakukan verifikasi kepada imam.
Tidak jelas apakah penderita kusta itu pergi kepada imam atau jangan-jangan ia sebelumnya sudah pergi kepada imam dan dinyatakan belum sembuh, baru ketemu Yesus. Konon, proses verifikasi kesembuhan itu berlangsung cukup lama sehingga bisa jadi orang keburu berkoar-koar dulu tentang penyembuhannya. Pokoknya, ia mengabaikan desakan keras Yesus supaya pergi ke imam dan, akibatnya, penyembuhan oleh Yesus itu menjadi begitu viral.
Sesuatu yang viral bisa jadi terhubung dengan virulensi, sebagaimana Anda dan saya dapat tengarai beberapa tahun lalu ketika bang Covid begitu populer dan menelan jiwa banyak orang yang Anda dan saya kasihi. Jangan-jangan, keadaan viral yang eksesif itu jadi challenge terhadap contentnya: ketidaktaatan terhadap mandat Yang Ilahi, yang salah satu tolok ukurnya adalah adab bin etika. Jadi, sebaiknya tidak mudah percaya bahwa cinta, misalnya, seperti virus. Yang viral itu mungkin hanya secuil dimensi cintanya.
Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan untuk mendengarkan apa yang sesungguhnya Kaukehendaki dari kami. Amin.
HARI KAMIS BIASA I C/1
16 Januari 2025
Posting 2021: Mens Sana
Posting 2019: Yang Waras Ngalah
Posting 2017: Mau Opname Dong
Posting 2015: Bahayanya Mukjizat
