KTP

Published by

on

Sebagian orang tua tertekan karena merasa gagal mendidik anak-anak mereka secara Katolik seturut janji perkawinan Katolik. Lebih-lebih, sebagian dari orang tua ini bisa jadi adalah tokoh terpandang di lingkungan paroki atau bahkan lebih luas lagi. Bisa juga itu seperti terumuskan dalam pertanyaan “mosok orang tuanya guru agama Katolik anaknya malah mualaf?” Sejujurnya, dari sekian kali meneguhkan perkawinan Katolik, saya tidak paham bagian mana dari janji perkawinan itu yang mengharuskan orang tua Katolik berjuang supaya kolom agama di KTP anaknya tetap Katolik!

Saya tahu yang dirisaukan orang tua yang tertekan itu bukanlah perkara KTP. Justru mereka ini berharap bahwa kekatolikan yang ditanamkannya kepada anak-anaknya tidak hanya sebatas Katolik KTP; lha ini, Katolik KTP pun tidak, gimana anak saya itu bisa jadi Katolik sungguhan, Rom?
Entahlah, saya juga tidak bisa menjawabnya, tetapi saya rasa mungkin saja orang menjadi semakin Katolik setelah dia belajar dari Buddha, Islam, Protestant, dan sebagainya.
Lah, kalau gitu, agama cuma jadi asesoris gitu ya, Rom? Ganti aja kalo dah bosen, atau daripada jabatan dan pangkat gak bisa naik karena Katolik!
Duh, saya gak bilang soal gonta-ganti kolom agama KTP, tetapi ujung ini semua ialah bahwa setiap insan memiliki kompleksitas diri yang bergantung pada banyak faktor. Bisa jadi, Anda sudah mati-matian berusaha mendidik anak lewat baptisan, pendampingan iman anak, melibatkannya dalam kegiatan remaja Katolik, dan seterusnya dan mak bedundug anak Anda jatuh cinta dan ‘terpaksa’ mesti seagama dengan yang dijatuhinya cinta!

Maksud saya, Anda dan saya ‘cuma’ punya tugas menabur benih yang mengikat anak didik Anda dan saya dengan Tuhan yang diimaninya. Hanya jika Anda tidak menjalankan tugas ini, Anda boleh tertekan. Akan tetapi, menabur benih selalu seperti itu: bisa jatuh ke batu keras, semak-semak, jalan raya atau tanah subur. Sebagian orang mungkin dari dirinya sendiri juga tidak mengolah tanahnya sehingga lebih menyerupai tanah berbatu daripada tanah subur. Aneka kambing hitam bisa disebutkan, tetapi begitulah iman diminta dari Anda dan saya dan anak-anak Anda dan saya. Masing-masing mesti mengolah dirinya sendiri.

Teks bacaan utama hari ini menunjukkan apa arti mengolah diri itu dengan kata kerja mendengar, yang tidak perlu semata dihubungkan dengan telinga di kiri kanan kepala Anda dan saya, tetapi lebih terhubung dengan menaruh hukum Allah dalam hati dan menuliskannya dalam akal budi. Celakanya, hukum Allah itu bersifat relasional juga sehingga kerap kali ditarik ulur oleh kepentingan politik cuan, dan mereka yang tak berniat mendengarkan hanya terombang ambing ke sana kemari mengikuti kegalauan hati

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan untuk senantiasa update mengenai panggilan-Mu. Amin.


RABU PEKAN BIASA III C/1
29 Januari 2025

Ibr 10,11-18
Mrk 4,1-20

Posting 2021: Aktualisasi Diri
Posting 2019: Boiling Frog Syndrom
Posting 2015: Tiga Jenis Presiden

Previous Post
Next Post