Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri bisa misleading bagi orang beragama. Alih-alih ad maiorem dei gloriam, jadinya ad maiorem diri gue itu. Soalnya, aktualisasi diri bisa diukur dengan aneka macam alat ukur, yang terbaca dengan indra: jago masak, pinter matematika, juara wushu, dapat lencana penghargaan ini itu, punya outlet atau cabang di kota ini itu, dan seterusnya. Padahal, seperti sudah saya ulang-ulang: what is essential is invisible to the eye

Loh, bukankah aktualisasi diri itu baik? Tentu, tetapi itu bukan yang esensial; dan “esensial” bukanlah soal baik-buruk atau benar-salah, melainkan perkara poin, dan poin ini bukanlah soal kuantitas angka yang bisa dipakai untuk menebus barang atau hadiah pada toko swalayan, melainkan soal kualitas hidup yang memberi ransum pada jiwa, memerdekakan, membahagiakan dalam arti utuhnya. Kok apa-apa bukan sih.😂 Ora paham aku ki.

Sebetulnya saya cuma mau kasih contoh bagaimana pembacaan teks hari ini bisa misleading juga. Bacaan hari ini tentang perumpamaan penabur, yang menaburkan benih. Ada yang jatuh di tanah berbatu, di semak berduri, di tanah yang baik. Hasilnya jelas: yang tumbuh subur adalah benih yang jatuh di tanah yang baik; ada yang berlipat tiga puluh, enam puluh, dan seratus. Nah, ini krusial: kalau tak mengerti maksud perumpamaan ini, orang tak akan mengerti maksud perumpamaan lainnya. Ini bukan kesimpulan saya, melainkan asumsi yang terselip dalam teks (Mrk 4,13).

Celakanya, saya punya curigation bahwa orang beragama mungkin ngerti teorinya, tapi praktiknya jauh panggang dari api. Misalnya, seorang motivator religius, guru agama, pemuka agama, bisa saja menyesatkan pendengarnya dengan memprovokasi mereka supaya mengembangkan bakatnya sekuat tenaga karena begitulah Tuhan menginginkan anak-anak-Nya tumbuh!

Penjelasan Guru dari Nazareth tidak menyinggung soal bakat, tetapi soal “mendengarkan Sabda dan menerimanya”. Hasilnya ialah bahwa hidup orang berbuah berlipat ganda. Akan tetapi, orang cenderung membaliknya: gimana supaya hidupnya berlipat ganda, juga jika tanpa mendengarkan dan menerima Sabda! Terjadilah, aktualisasi diri yang lupa akan Diri yang bersabda itu. Alih-alih mengaktualkan bakat untuk mewartakan keagungan Sang Khalik, orang hanya berfokus pada reward yang diperoleh dari aktualisasi diri.

Kalau begitu, pengembangan bakat dan minat baik-baik saja sejauh tidak mereduksi aktualisasi DIRI menjadi aktualisasi diri sendiri. Runyamnya, DIRI itu bisa bermanifestasi dalam wujud apa saja sehingga orang beriman senantiasa mesti update untuk menjawab apa yang dikehendaki Allah; dan itu membutuhkan pertobatan terus menerus, yang kerap menggedor-gedor hati orang sampai penyok

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan untuk senantiasa update mengenai panggilan-Mu. Amin.


RABU PEKAN BIASA III B/1
27 Januari 2021

Ibr 10,11-18
Mrk 4,1-20

Posting 2019: Boiling Frog Syndrom
Posting 2015: Tiga Jenis Presiden