Tapa ing Rame

Published by

on

Anda mungkin akan lebih kesepian tanpa kesendirian karena kesendirian memberi peluang bagi Anda untuk memaknai hidup dan menindaklanjutinya berdasarkan harapan, iman, dan cinta Anda. Di sini, kalau Anda memandang hidup sebagai permainan, itu bak judi yang memuat unsur pertaruhan.

Teks bacaan utama hari ini menunjukkan bagaimana Yesus dan para muridnya membutuhkan waktu sendiri untuk sekadar beristirahat, tetapi bahkan dalam waktu istirahat pun, mereka tetap kedatangan orang banyak yang membutuhkan bantuan. Teks menunjukkan bahwa juga dalam kesendirian me time itu, belas kasih dalam diri Yesus tetap eksis. Belas kasih macam ini jauh lebih kompleks daripada sekadar rasa perasaan yang muncul ketika melihat binatang unyu-unyu menderita, melihat tetangga dalam kondisi memelas, dan sebangsanya.

Kompleksitas belas kasih itulah yang membuat hidup Anda dan saya sesungguhnya masuk dalam permainan judi, entah online atau offline: kita mempertaruhkan hal penting, entah uang atau barang. Apakah itu haram? You decide. Persoalannya tidak terletak pada taruhan dan keterlibatannya. Sebagian penjudi bahkan rela berhutang, menjual aset, merusak rumah tangganya untuk sungguh-sungguh nyemplung dalam judi. Memang harus ada yang dipertaruhkan! Begitu juga hidup dalam iman, harapan, dan cinta, mesti ada taruhannya.

Yang membedakan antara judi dan taruhan harapan, iman, dan cinta ialah destinasi akhir pertaruhan itu. Yang pertama mengarah pada kepentingan dan kemuliaan diri sendiri, yang bisa jadi semu. Yang kedua terarah pada yang lain.
Loh, kan orang main judi itu demi meringankan beban anak istri, Rom? Mau bikinkan rumah tinggal yang layak, uang banyak untuk istirahat bersama keluarga, mengharumkan nama keluarga bahkan bangsa!
Iya, tapi itu kan ilusi saja. Apakaha Anda sudah bikin survei seluruh keluarga dan bangsa bahwa nama mereka harum dengan duit banyak dari judi itu?

Belas kasih mendorong orang yang punya harapan, iman, dan cinta untuk bertaruh, bukan demi ilusinya sendiri atau kepentingan parokialnya, melainkan demi tersebarnya harapan, iman, dan cinta itu sendiri sedemikian rupa sehingga semakin banyak orang merdeka, dibebaskan dari macam-macam belenggu yang membuat hidup serba kebelet dan ngampet. Belas kasih membuka peluang untuk hidup sebagai pertapa dalam keramaian, tapa ing rame.

Tuhan, mohon rahmat kebesaran jiwa dan semangat rela berkorban bagi semakin terwujudnya keadilan-Mu. Amin.


SABTU BIASA IV C/1
8 Februari 2025

Ibr 13,15-17.20-21
Mrk 6,30-34

Posting 2021: Makna Istirahat
Posting 2019: Dipenjara Brizieq
Posting 2017: Terbalik Nèng!

Posting 2015: Doa Bukan Pelarian Br0w!

Previous Post
Next Post