Komitmen

Published by

on

Mungkin sebagian orang non-Islam menilai perkara makanan halal dalam Islam sebagai bukti penghayatan iman yang legalistik. Orang-orang yang ribet dengan halal-haram ini imannya sedemikian legalistik. Akan tetapi, penilaian seperti ini jelaslah terburu-buru dan dangkal, bahkan mungkin justru menyingkap iman legalistik mereka yang memberi penilaian. Yes, yang menghakimi orang lain beriman legalistik, bisa jadi malah menghidupi iman legalistik sendiri dengan ungkapan yang berbeda.

Teks bacaan utama hari ini memang menyodorkan aneka ritual pembersihan aneka sarana, termasuk untuk makan. Ritual ini menjadi pijakan perselisihan antara orang Farisi di tempat tinggal Yesus dan ahli Taurat dari Yerusalem. Akan tetapi, yang kemudian dipersoalkan Yesus bukanlah per se ritual penyuciannya sendiri, melainkan tendensi orang-orang saat itu untuk memanfaatkan ritual bikinan manusia sebagai tameng legitimasi mereka dengan klaim sebagai hukum Allah sendiri. Bikinan manusia tetapi dipromosikan sebagai ciptaan Allah.

Tendensi orang Farisi dan ahli Taurat itu bisa hadir dalam diri Anda dan saya ketika kita memastikan bahwa tidak ada kebenaran di luar keyakinan, suku, agama, keluarga, proyek kita. Allah mahabesar dan firman-Nya tak pernah dapat terpahami dari satu perspektif, yaitu perspektif Anda dan saya.
Apakah kebenaran jadi subjektif dan relatif? Ya, dalam arti kebenaran dapat terhayati dalam subjek tertentu dalam relasinya dengan subjek-subjek lainnya. Tidak, dalam arti kebenaran tak dapat direduksi sebagai kesadaran subjektif yang terpisah dari relasi dengan yang lain.

Dengan begitu, ritual tak perlu semata-mata dilihat sebagai bukti iman legalistik, tetapi justru dimengerti sebagai komitmen manusiawi untuk menghayati ketaatan kepada Dia yang berkuasa penuh atas kehidupan yang kompleks ini. Bukan soalnya bahwa ini itu haram, melainkan bahwa orang membangun komitmen dan ketaatan kepada Allah. Praktiknya tentu bisa disesuaikan dengan konteks tetapi ketaatan kepada Allahnya tak bisa ditawar. Oleh karena itu, ada baiknya relasi dengan yang lain dibangun untuk menemukan apa yang dikehendaki Allah bagi hidup bersama dan bukannya malah bikin klaim hukum Allah bagi upaya-upaya manusiawi belaka.

Otherwise bin kalau tidak begitu, sekali lagi, yang makmur sejahtera semakin meningkatkan kesejahteraannya dengan mengeksploitasi yang lemah. Saya kan tidak perlu menjabarkan perkara gas 3 kilo dan pagar laut, kan?

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi untuk memahami kebenaran cinta-Mu dalam situasi chaotic hidup kami. Amin.


SELASA BIASA V C/1
11 Februari 2025

Kej 1,20-2,4a
Mrk 7,1-13

Posting 2021: Tangan Najong
Posting 2019: Nonton Misa
Posting 2017: Masih Salam Dua Jari?

Posting 2015: Citra Skolastika

Previous Post
Next Post