Fast Food

Published by

on

Overthinking vs thinking with Jesus. Ini topik yang dibahas salah satu mahasiswa saya untuk praktik pendalaman imannya bersama orang-orang muda. Bahannya adalah teks bacaan utama hari ini. Biar irit, saya nebeng topiknya saja, tetapi dengan pijakan pertanyaan yang berbeda: tahukah Anda dari mana istilah fast food alias makan cepat saji muncul? Pertanyaan itu bisa Anda carikan jawabannya dari AI, tetapi AI tidak akan mengaitkannya dengan bacaan hari ini, kecuali Anda paksa.

Teks bacaan utama hari ini menyodorkan kisah Yesus memberi makan empat ribu orang. Saya tidak membayangkan peristiwa itu seperti ribuan orang antre gas melon tanpa makanan dan mungkin saja sebagian darinya jatuh pingsan. Saya mencoba memahaminya dengan kata-kata yang dipakai dalam teks aslinya. Salah satu kata kuncinya ialah ἀναπεσεῖν (anapesein), yang diterjemahkan dengan kata kerja duduk. Masuk akal. Zaman itu belum ada reclining seat dan lagi pula digambarkan kejadiannya berlatar gurun sunyi. Akan tetapi, di situ tidak digunakan kata καθήμενοι (kathēmenoi) atau ἐκάθητο (ekathēto) yang artinya juga duduk.

Yang saya tangkap ketika Yesus meminta orang banyak ‘duduk’ ialah bahwa ia meminta orang banyak itu untuk recline, mengambil posisi seperti orang-orang merdeka yang makan tidak seperti para budak. Silakan cari di dumay gambar orang-orang Romawi makan dengan cara semacam rebah menyamping. Tentu saya tak ambil pusing bahwa Yesus meminta orang banyak rebah miring ala penjajah Romawi, tetapi ia meminta orang banyak itu untuk rileks merdeka saja. Tidak perlu overthink terhadap apa yang bisa mereka makan: tinggal manfaatkan saja apa yang ada pada mereka, bersyukur atasnya, dan sebisa mungkin membuat yang ada itu terjangkau oleh semakin banyak orang.

Proses seperti itu tak terwujud dalam fast food. Bisa jadi, makanan siap saji adalah respons terhadap kebutuhan mereka yang overthinking. Mungkin begitulah bisnis bekerja: memanfaatkan kelemahan orang banyak, yang ditangkap sebagai kebutuhan. Semakin orang butuh sak dhět sak nyět, semakin orang menuntut kecepatan. Begitu lapar, harus segera tersedia makanan: cemilan, fast food datang; atau mungkin juga estate food.

Thinking with Jesus tampaknya menghargai proses: mulai dari tergerak oleh belas kasihan kepada yang lain, membebaskan diri dari aneka overthinking, melihat resources secara jujur apa adanya, mensyukurinya, dan berkoordinasi dengan orang lain supaya resources itu bisa mencukupi kebutuhan semua. Barangkali, kebanyakan orang stagnan pada overthinking justru karena melompati belas kasihan kepada yang lain, dan ribet saja dengan kekhawatiran dan ketakutannya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat kemerdekaan supaya hidup kami sungguh bermanfaat bagi semakin banyak orang. Amin.


SABTU BIASA V C/1
15 Februari 2025

Kej 3,9-24
Mrk 8, 1-10

Posting 2021: Wakaf
Posting 2019: Spiritualitas Kerumunan

Posting 2017: Sabar

Posting 2015: Hari Kasih Sayang nan Halal

Previous Post
Next Post