Metafora pokok anggur dan ranting rupanya menyodorkan model hidup beriman yang komuniter, egaliter, dan nonhirarkis; suatu model yang bertentangan dengan iman individualis bin privat. Apa daya, kerap kali justru mereka yang paling lantang membela agama malah menghidupi hukum rimba iman: siapa paling saleh, siapa paling taat aturan, siapa paling rajin, siapa paling agamis, dialah yang paling beriman.
Perintah supaya orang saling mengasihi muncul dalam konteks metafora tadi: no man is an island, semua saling terkoneksi, dan tak seorang pun bisa mengklaim superioritasnya karena satu-satunya tolok ukur ialah bahwa hidupnya berbuah dan buah itu bukan pertama-tama berwujud kata benda, melainkan tindakan bin kata kerja. Bukankah cinta lebih terwujud dalam tindakan daripada kata-kata [meskipun berkata-kata bisa juga merupakan tindakan]?
Persoalannya, bukankah para bandit juga saling mengasihi? Bukankah para koruptor juga saling mendukung? Bukankah para rent seeker saling menguntungkan? Bukankah pemburu gelar profesor bisa kerja sama untuk mendongkrak nilainya? Bukankah status quo bekerja sama dengan preman-premannya? Singkatnya, bukankah perintah saling mengasihi itu berlaku bagi semua dan siapa saja dengan mudah menjalankannya dalam koridor mutualisme kepentingan mereka?
Itu gunanya metafora tadi: mutualisme itu diletakkan dalam hirarki dengan pokok anggur. Anda bisa memadankan pokok anggur itu dengan Yesus Kristus, dengan Alquran, dengan enlightenment, dengan nirvana, dan lain-lainnya. Poinnya, cara Anda menafsirkan Yesus Kristus dll itu tidak bisa lagi mengikuti hukum rimba individualisme atau iman privat; tafsiran itu mestilah terkoneksi dengan tafsiran lain sebagaimana ombyokan buah anggur yang terkait satu sama lain; mesti terpahami atau sekurang-kurangnya make sense dalam jangkauan pengertian manusia biasa.
Semoga Anda dan saya diberi rahmat supaya semakin make sense dalam beriman. Amin.
PESTA S. MATIAS RASUL
(Rabu Paska IV)
14 Mei 2025
Posting 2020: Berjudi dalam Tuhan?
Posting 2018: Bayu Riyanto
Posting 2016: Wanita Hebat
Posting 2014: Berjudi dengan Kehidupan?
