Berjudi dalam Tuhan

Pada awal milenium ini saya masih punya jiwa avonturir tinggi, termasuk ketika berkunjung ke Makau. Sayangnya, waktu di depan The Venetian Macao, jiwa avonturir mak slulup angslup dan mulut terkatup meskipun pintu belum tertutup. Duit saya pasti tak cukup.
Seorang teman mengajak saya masuk, tetapi saya tahu dia punya uang lebih banyak. Kami punya waktu sampai sepuluh hari ke depan dan saya tak mau mengemis lagi, di negeri orang pula. Taruhannya terlalu tinggi. Ya artinya cuma bahwa saya gak punya uang aja sih🤭.

Esoknya saya mendapat cerita teman saya sukses menang beberapa ratus dolar, sebelum akhirnya hampir seluruh uangnya terkuras, dan saya jadi punya uang lebih banyak dari dia😂. Tapi ciyus, juga kalau saya punya $1000 waktu itu, saya tidak akan ikut main judi, sekurang-kurangnya karena Tuhan tidak ikut main di sana.

Loh, katanya Tuhan ada di mana-mana. Berarti di kasino juga ada, termasuk dalam permainan judinya juga dong!
🤔Betul juga ya, tetapi itu kan berarti memperlakukan Tuhan sebagai objek logika pikiran saja toh, seakan-akan Tuhan itu seperti Ko Chun dalam God of Gamblers? Nay, nay, nay. Ini soal sikap iman saya, bukan logika: saya tidak merasakan adanya dorongan hati untuk bermain di kasino, bahkan untuk sekadar melihat-lihat dan menghirup atmosfer dalam The Venetian Macao. Dalam hati itu saya bersimpuh di hadapan Allah. Bodoh? Bisa jadi. Itu seperti selama tiga tahun tinggal di Roma dan tak pernah sekalipun saya masuk ke Colloseo. Tolol? Mungkin saja.

Tadi malam kami menonton The Lost Bladesman dan di akhir film kami masih plonga-plongo tidak mengerti apa yang kami tonton. Saya mengerti Guan Yu hendak digelembuk alias dipersuasi supaya bersekutu dengan Cao Cao, alih-alih bersekutu dengan Liu Bei, penguasa lain yang menjadi halangan Cao Cao untuk memperluas wilayah kekuasaan. Salah satu cara persuasi itu ialah dengan mencomblangkan Guan Yu dengan Qi Lan, calon selir Liu Bei. Akan tetapi, sebagai sebuah cerita, detil film ini bikin kami tak paham. Maklum, tak ada dari kami yang paham bahasa Mandarin, selain menontonnya seraya terkantuk-kantuk😂. 

Meskipun demikian, kesetiaan Guan Yu tak teragukan dan modal kesetiaan inilah yang memberi karakter Guan Yu. Ia keukeuh membawa Qi Lan kepada Liu Bei, dan untuk itu ia menghadapi aneka usaha pembunuhan. Beberapa kali saya dapati Guan Yu seakan melontarkan pertanyaan retorik: apakah Guan Yu harus mati? Ia terbuka pada kemungkinan itu di setiap momen hidupnya. Itulah yang saya pahami sebagai berjudi dalam Tuhan: terbuka pada kemungkinan hidup-mati, dengan segala turunannya. Artinya, kalau hidup seperti apa dan kalau mati ya yang bagaimana, yang menjadi konsekuensi kalau orang tinggal dalam Allah.

Aromanya rohani sekali, tetapi praktiknya sangat insani seperti digambarkan karakter Guan Yu tadi: punya keteguhan hati sembari menyadari bahwa hidup-mati ini kontinjen, fana, bisa ada, bisa tiada, dan orang tak berkuasa memaksakannya. Orang tinggal berikhtiar dan sebisa mungkin memilih yang terbaik, dan setelah itu, biar Tuhan menghandlenya dengan aneka ‘tangan’ yang dimiliki-Nya. Dengan begitu, orang bisa berdoa bersama Ambrosius:
O Lord, take this heart of stone and give me a human heart; a heart that loves you, a heart to rejoice in you. Amen.


PESTA S. MATIAS RASUL
(Selasa Paska IV)
14 Mei 2019

Kis 1,15-17.20-26
Yoh 15,9-17

Posting 2018: Bayu Riyanto
Posting 2016: Wanita Hebat

Posting 2014: Berjudi dengan Kehidupan?

3 replies

  1. Mo punya solusi ngga buat yang takut dengan kematian? kebetulan saya sakit malaria akhir bulan lalu, rasanya hampir mati dan itu mengerikan.. yang teringat hanya dosa2 dan kehidupan tidak berfaedah yang saya lewati beberapa tahun belakangan ini 😔

    Like

    • Halo (saya andaikan) Ibu, solusi tidak ada pada saya atau orang lain, tetapi dalam hati Ibu sendiri. Semakin hati Ibu berpasrah pada-Nya, semakin ketakutan menjauh. Berpasrah pada-Nya tak lain adalah soal membiarkan Cinta masuk dalam diri kita: dengan luka-luka, dengan kematian, tetapi juga dengan kebangkitan-Nya.
      Kalau mau, bisa juga mulai berdevosi kepada Santa Maria Magdalena, misalnya. Teks doa saya tuliskan di https://versodio.com/latihan-rohani/prayers/doa-kepada-s-maria-magdalena/
      Kalau mau lebih fisik, bisa juga dengan doa kesadaran seiring nafas “Tuhan Yesus Kristus (inhale), kasihanilah kami (exhale)” yang bisa dilakukan beberapa menit sewaktu ketakutan menyerang.
      Kalau mau lebih membantu pengertian, bisa lihat juga film The Restless Heart (St. Augustine) pada tautan Youtube. Potongan klipnya pernah saya muat dalam posting https://versodio.com/2019/03/30/debat-terakhir/
      Terakhir, kerja roh jahat dalam tahap ini cenderung menutup-nutupi atau memanipulasi dosa dan konsekuensinya seakan-akan itu baik-baik saja dan bisa diatasi dengan aneka cover-up lewat pendekatan rasional.
      Bisa juga doa kerahiman ilahi dan sebagainya. Tetapi sekali lagi, ini adalah urusan hati yang dengan bantuan rahmat-Nya bisa menangkap kekuatan Allah menarik orang keluar dari kegelapan. Augustinus lebih dulu memberi contoh bagaimana melihat Allah mendidik dirinya lewat aneka macam turbulensi hidupnya. Semoga membantu untuk lebih bertafakur di hadapan-Nya. Amin.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s