Bucin

Kemarin tetangga kamar saya memimpin ibadat di rumah dan membagikan definisi cinta manusia yang diperoleh dari kuliah filsafatnya di Jerman. Dia sendiri berdarah Jerman seperti saya, cuma darah Jermannya original, tidak seperti saya. Definisinya sederhana sekali: mengembangkan diri pihak yang dicinta. Tidak ada kepentingan selain perkembangan diri pihak yang dicinta itu. Akan tetapi, kenyataan di lapangan bicara sebaliknya. Contoh kasus #dirumahsaja yang terjadi di Jawa Barat kemarin menarik: alih-alih mengembangkan diri pihak yang ‘dicinta’, orang mengembangkan perut mereka yang ‘dicinta’, yang baru kempes setelah sekitar sembilan bulan!

Ya abis gimana Rom, di rumah aja mau ngapain? Adanya istri, ya dikembangkan toh? Tentu saja, mengembangkan istri tidak bisa direduksi dengan mengembangkan perutnya saja, kan? Perlu mengembangkan yang lain-lainnya supaya hasil pengempesan perutnya itu juga berkembang baik. Bahkan, meskipun pengembangan perut itu sudah sepersetujuan kedua belah pihak, tidak bisa begitu saja klop dengan definisi sederhana cinta tadi? Kenapa? Karena ada pihak ketiga yang belum menyampaikan persetujuannya: yaitu dia yang kelak akan muncul ke dunia ini.
Loh loh loh, kok jadi ribet begini? Suka-suka yang punya perut, kan? Ini hak perempuan! Asal dia oke dengan lakinya, urusan selesai dong!

Lha iya justru itu yang saya maksud tadi: bahwa itu tidak klop dengan definisi sederhana cinta, karena ujung-ujungnya pengembangan diri pihak yang dicintai itu absen. Ini cuma soal suka-suka pemilik tubuh yang lupa bahwa bahkan jiwanya pun bukan miliknya sendiri. Artinya, tidak apa-apa saja dengan label cinta memang adalah manifestasi cinta. Kalau orang berkeyakinan bahwa dia bisa berbuat apa-apa saja demi cinta, barangkali itulah yang dimaksud sebagai budak cinta. Sayangnya, istilah itu absurd karena tak ada perbudakan dalam cinta.

Jika Anda punya tenaga cleaning service, ia akan melakukan apa saja yang Anda perintahkan, entah dia suka atau tidak suka. Kenapa? Karena begitulah kontraknya, dan hanya dengan mengikuti kontrak itu dia mendapatkan upahnya. Kepentingan majikan hanyalah sarana bagi kepentingan dirinya. Lain perkaranya jika Anda meminta bantuan tenaga cleaning service itu mengganti beberapa bolam lampu di eternit tanpa tambahan sepeser pun: dituntut kemerdekaan dari dirinya. Apa yang dia lakukan dalam kemerdekaannya, tak bisa lagi dikategorikan sebagai perbudakan. Cinta senantiasa memerdekakan, tidak bersifat heteronom alias datang dari luar.

Teks bacaan pertama merupakan kelanjutan hasil sidang/konsili Yerusalem mengenai sunat bagi orang Yahudi. Kelihatan bahwa hasil akhirnya memerdekakan jemaat di luar teritori Yahudi: mereka tak dibebani oleh kewajiban sunat justru karena poin utamanya ialah soal mendekatkan diri pada pribadi Allah. Itu mengapa dalam teks bacaan kedua perintah saling mengasihi bukan perintah memperbudak, melainkan perintah yang menantang kemerdekaan orang. Orang boleh menolaknya, tetapi juga kalau melakukannya, ia melakukannya dalam koridor cinta yang memerdekakan. 

Tuhan, mohon rahmat kemerdekaan untuk menyatakan cinta-Mu terutama kepada mereka yang paling membutuhkan. Amin.


JUMAT PASKA V
15 Mei 2020

Kis 15,22-31
Yoh 15,12-17

Posting 2019: Mereka adalah Kita
Posting 2018: Jongos HOT

Posting 2017: Silent Majority

Posting 2016: Asal Bapak Senang

Posting 2015: Dalam Untung Rugi

Posting 2014: Receive in Giving

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s