Jongos HOT

Bagi pecinta film korea saya tautkan klip Saturday Night Live edisi entah ke berapa, mungkin tiga tahun lalu. Katanya ini parodi untuk film berjudul “A Muse” (eunkyo). Klip ini saya masukkan ke sini karena cocok dengan judul posting hari ini: jongos hot.

Tetapi Anda tahu sendiri kan, cocok dengan judul tidak berarti cocok dengan isi. Biasalah blog ini sukaknya gitu. Judulnya ke mana, isinya ke mana, tapi lama-lama yang baca jadi jago nggathuk-nggathukke yang mungkin tidak gathuk.

Baru saja selesai Ujian Nasional untuk adik-adik saya (malu dong menyebut mereka anak-anak saya, wong saya baru semester dua). Katanya di kota tempat saya tinggal ini nilai rerata UN turun dan salah satu faktornya ialah tuntutan HOT itu, persisnya gak cuma satu, tetapi banyak yang hot, makanya jadi HOTS: High Order Thinking SkillsWis mbohlah saya itu dengan dunia pendidikan di sini. Semoga generasi mendatang tidak seperti saya: makan sekolah banyak, pinter kagak.

Memang ngeri kalau jadi jongos hots. Biar kata keren istilahnya, high order thinking skills, tetap saja jongos. Pada klip SNL itu ada dua oposisi atribut: tuan-jongos, guru-murid. Akan tetapi, jika dirasa-rasakan sasaran parodi itu, kelihatan bahwa relasi yang diinginkan si tuan-guru grandfather itu bukan lagi relasi tuan-jongos atau guru-murid. Melainkan relasi you know lah.

Relasi you know itulah yang juga disinggung dalam teks bacaan hari ini. Akan tetapi, yang you know itu mungkin berbeda dari yang I know. Yang penting, lihat teks bacaannya saja: kamu tidak aku sebut lagi hamba, karena hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya. Barangkali kalau diberi embel-embel suci, hamba itu jadi keren gitu? Hamba suci, misalnya. Keren gak? Hamba Tuhan. Keren juga gak? Bukankah Bunda Maria pun menyebut diri sebagai hamba Tuhan?

Sudahlah, daripada ribut dengan atribut, mending lihat pokok yang disodorkan teks itu: tahu apa yang dibuat tuan dan mengerjakan apa yang diperintahkan tuan tadi. Loh, jadi hamba alias jongos lagi dong! Halah… muter-muter lagi. Pokoknya diingat saja: mungkinkah orang saling mencinta dengan modal perintah paksaan?

Kalau mungkin, IMHO, paksaan itu mestinya datang dari dalam dirinya sendiri, bukan dari luar. Piye jal?

Tuhan, mohon rahmat pengertian supaya kami semakin mampu mencinta satu sama lain. Amin.


JUMAT PASKA V
4 Mei 2018

Kis 15,22-31
Yoh 15,12-17

Posting 2017: Silent Majority
Posting 2016: Asal Bapak Senang

Posting 2015: Dalam Untung Rugi

Posting 2014: Receive in Giving

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s