Kebudayaan

Published by

on

Jika Anda memberi label agama lain sebagai manifestasi legalisme, sebaiknya Anda mengambil cermin dan mencermati di dalamnya, entah diri Anda sendiri atau orang sekeliling Anda yang menghidupi legalisme. Legalisme ada di mana-mana dan teks bacaan utama hari ini saya kira memang tidak bisa dipersempit sebagai konflik antara legalisme dan iman.

Penulis teks bacaan hari ini orang Yahudi; lahir dan mati sebagai orang Yahudi. Agak gimana gitu kalau dia membuat tulisan untuk menjelek-jelekkan hukum Sabat yang ia patuhi sebagai orang Yahudi.
Lha trus kenapa dia malah menegaskan bahwa anak manusia adalah tuan (dominus) atas hari Sabat, Rom?

Begini ceritanya. Hari Sabat itu tidak main-main. Meskipun kemarin saya bilang bisa jadi ada tafsir genderuwo, Sabat diyakini klop dengan apa yang dilakukan Pencipta semesta sendiri: Dia ‘beristirahat’ pada hari Sabat dan menguduskannya (Kej 2,2-3). Alhasil, orang Yahudi yang taat pun tidak akan bekerja dan berpuasa pada hari Sabat. Ini saatnya istirahat dan mungkin pesta makan minum. Kerja bisnis berhenti dulu dan karyawan tak bisa bekerja; mereka pun harus istirahat.

Anda dan saya yang karyawan perusahaan swasta, bukankah itu melegakan? Lima atau enam hari kerja dan sehari penuh bebas dari kerja mestinya melegakan kecuali bagi mereka yang gila kerja (dan cuan). Hukum Sabat melegalkannya sebagai hari ketika orang menyucikannya dengan aneka kegiatan yang membantunya beristirahat bersama Allah yang ‘beristirahat’ pada hari Sabat itu. Ini cool. Yang bikin tidak cool ialah ada sebagian orang yang menuduh seluruh aktivitas selain ritual sebagai ‘kerja’ dan persis itulah letak kritik Yesus terhadap praktik hukum Sabat.

Sebagai orang Yahudi, Yesus paham betul Hukum Sabat, tetapi juga sadar bahwa memuliakan Allah itu tidak identik dengan kegiatan ritual. Tradisi Yahudi sendiri menetapkan bahwa aturan yang memengaruhi relasi antarmanusia lebih utama daripada aturan yang menata perkara puja-puji kepada Allah (seakan-akan Dia butuh dipuji manusia)! Logisnya, Tuhan pun menghendaki agar kebaikan manusia diutamakan daripada hukum yang menyangkut kehormatan-Nya, sehingga mengesampingkan ketaatan pada hari Sabat demi kebaikan manusia bisa jadi justru merupakan cara untuk menghormati Tuhan.

Masalahnya, kebaikan manusia itu juga multitafsir dan akhirnya setiap orang mesti jujur menilai dirinya sendiri apakah ia mengesampingkan ritual sungguh demi kemanusiaan yang adil dan beradab atau semata kepentingan narsistiknya. Saya duga, itulah yang dipersoalkan Yesus: bahwa sebagian orang sezamannya menghidupi Hukum Sabat sebagai budak kepentingan narsistik, status quo, yang tidak sensitif pada sila ke-2 Pancasila itu. Sampai hari ini, konflik seperti ini terus berlangsung, tetapi jelas yang ditawarkan Yesus: manusia adalah tuan, bukan budak, Hari Sabat.

Logisnya, menaati Hukum Sabat mestinya mencari cara atau jalan, juga lewat ritual, supaya kemanusiaan semakin beradab, bukan malah memeluk formalisme misalnya dengan mencari tambahan hari libur sebagai hari kebudayaan [kok gak cari hari pertambangan nasional aja].

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk keluar dari jebakan status quo dan menjadi sungguh merdeka untuk menata hidup bersama. Amin.


JUMAT BIASA XV C/1
18 Juli 2025

Kel 11,10-12,14
Mat 12,1-8

Jumat Biasa XV C/1 2019: Salah Wajah
Jumat Biasa XV A/1 2017: Mari Ziarah
Jumat Biasa XV B/1 2015: Idul Fitri untuk Semua

Previous Post
Next Post