Salah Wajah

Semakin saya belajar agama, semakin saya dapati hal-hal konyol di dalamnya, yang sudah saya singgung juga dalam posting Salam Pandir. Saya tidak menjelek-jelekkan agama mana pun, tetapi kalau melihat sejarah agama di dunia ini, memang tak sedikit kekonyolan ditunjukkan di panggung dunia. Salah satu kekonyolan yang mendunia adalah kekonyolan orang-orang Kristen dulu sebelum abad XIX yang melihat diri secara chauvinistik dan membagi dunia ini secara sederhana dengan dua kategori: dunia Kristen dan non-Kristen. Ha njuk ketika mereka menjelajah bumi menemukan dunia non-Kristen yang begitu beragam itu, mereka memberi label sederhana itu.

Label yang menurut saya konyol adalah Hinduisme. Ambil gampangnya aja ya. Anda pernah dengar Lembah Indus yang membentang di perbatasan India Barat dan Pakistan sana, bukan? Lha, di seluas bentangan lembah sungai itu hiduplah beraneka ragam budaya, yang benar-benar berbeda, tetapi oleh orang-orang Kristen yang chauvinistik tadi diberi satu label Hinduisme. Nah, jadi problem kan Hinduisme itu apa? Ini belum yang ada di Tengger dan Bali. Njuk Hinduisme tadi mau merujuk ‘agama’ yang manakah? Ini sebetulnya berlaku juga untuk ‘agama’ lain sih, tapi mungkin tak separah kasus Hinduisme ini.

Teks bacaan hari ini menunjukkan kekonyolan lain yang kelihatan dari konflik para pemuka agama dengan Guru dari Nazareth. Konflik mereka di seputar praktik-praktik beragama: puasa, kemurnian ajaran, ketaatan kepada hukum agama, dan sejenisnya. Sekarang mungkin konfliknya punya varian seperti pernikahan kembali mereka yang sudah cerai, pertemanan dengan pelacur, pengakuan hak azasi LGBT, komuni dalam kondisi dosa berat, tidak ikut misa hari Minggu, tak berpuasa pada hari yang ditetapkan, dan seterusnya. Pokoknya, mesti ada saja konflik, di rumah, sekolah, tempat kerja, komunitas, masyarakat, atau dalam hidup pribadi (yang terbaru mungkin konflik batin karena aplikasi wajah tua bin #AgeChallenge. NB mohon hati-hati dengan yang berbau-bau online ya. Silakan baca tautan ini mengenai bahaya di balik aplikasi wajah tua misalnya.)

Kalau orang beragama cuma memodali diri dengan tolok ukur benar-salah, ya itu tadi, hidupnya seperti pemuka agama yang munafik, karena tak melihat bahwa selain ukuran benar-salah, masih ada baik-buruk atau harmoni-kontras. Memakai cuma salah satu tolok ukur itu bikin hidup ini kehilangan keindahannya. Coba bayangkan. Orang beriman kepada Allah, tetapi berusaha mencocok-cocokkan hidupnya dengan orang-orang di Vatikan, di Indus, di Arab, atau entah di mana lagi yang dianggap sebagai ‘pusat’ keagamaan; lupa bahwa pusat keagamaan itu adalah Allah sendiri yang adanya bukan cuma di tempat-tempat yang tadi saya sebut.

Nota bene! Kata tetangga kamar saya, teks bacaan pertama malah jadi contoh adaptasi petunjuk Allah: menyesuaikan dengan kultur manusia di tempat dan zaman tertentu. Perhatiannya cuma satu: tunduk, pasrah, ikut, taat kepada mandat Allah, bukan mandat yang muncul karena kekuasaan orang atau kelompok tertentu. Sayangnya, orang beragama bisa saja keliru menampilkan wajah. Maksudnya wajah Allah, jadinya malah wajah kekuasaan.

Tuhan, mohon rahmat untuk menyatakan wajah belas kasih-Mu daripada wajah kekuasaan kami. Amin.


JUMAT BIASA XV C/1
19 Juli 2019

Kel 11,10-12,14
Mat 12,1-8

Jumat Biasa XV B/2 2018: Hobi Konflik
Jumat Biasa XV A/1 2017: Mari Ziarah
Jumat Biasa XV C/2 2016: Koin untuk Apa?

Jumat Biasa XV B/1 2015: Idul Fitri untuk Semua
Jumat Biasa XV A/2 2014: Andaikan Besok Aku Mati

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s