Salam Pandir

Anda mungkin akrab dengan ungkapan Anthony de Mello bahwa orang pandir yang bertanya di mana bulan akan memandang jari orang yang menunjukkannya daripada bulannya sendiri. Sebagian mungkin lebih akrab dengan cerita mengenai alat kontrasepsi pria yang sama sekali tak mencegah kehamilan karena orang memasang alatnya pada telunjuk seperti diperagakan saat penyuluhan KB. Betul, orang pandir melihat hal yang kasatmata tetapi tidak menangkap poin atau maknanya. Jadinya bebal. Kalau tak (mau) melihat hal yang kasatmata dan tak menangkap poin atau maknanya? Kênthir. Entah pandir atau kênthir, keduanya tak akur dengan makna, mulai dari pietis (orang yang mengejar kesalehan individual) sampai teroris. Orang beriman biasanya berikhtiar supaya tidak jadi pandir atau kênthir tetapi bisa jadi gagal. Bisa dimengerti karena setiap orang punya tendensi pro sensasi dan tak memanfaatkan potensi transendensi, éciyèh….

Teks bacaan hari ini diawali dengan mandat supaya orang memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Apa maksud ‘sudah dekat’ dalam Kitab Suci?
Orang pandir akan menafsirkannya sebagai pietis yang sedang menantikan second coming (entah Mesias, entah Imam Mahdi, entah siapa lagi), mencocok-cocokkan ini itu dengan tanda-tanda kiamat, dan memandang orang-orang di sekitarnya sebagai orang yang tak murni hidup keagamaannya dan berpretensi mempertobatkan mereka. 

Eh, eh, eh, jadi Romo ini gak percaya pada kedatangan Mesias itu ya? Yaelaaaa, kalo gak percaya ngapain saya tiap kali menyatakan harapan iman ‘kedatangan-Nya kita rindukan’?
Frase ‘sudah dekat’ tidak bermakna kedekatan kronos alias waktu kuantitatif yang bisa diukur jam. ‘Kerajaan Allah sudah dekat’ tidak berarti beberapa (puluh, ratus, ribu) (jam, hari, minggu, bulan) tahun lagi terjadi kiamat.

Itu berarti bahwa Kerajaan Allah sudah ada di antara bangsa-bangsa, sudah ada di tengah-tengah Anda, tinggal di antara kita (bdk. Luk 17,21). Orang pandir beragama Nasrani atau Kristiani atau bagaimanapun itu mau disebut akan mengidentikkan ‘Kerajaan Allah’ itu sebagai sosok Guru dari Nazareth. Anda ingat, orang pandir melihat jari telunjuk daripada bulan. Maka, orang-orang pandir akan bertengkar mengenai (telunjuk) Guru dari Nazareth itu: yang satu membelanya (karena itulah artinya Allah tinggal di antara kita), yang lain menyangkalnya (karena menuduhnya sebagai mempertuhankan manusia).
Perlu cara pandang baru untuk memahami kehadiran dan kedekatan Kerajaan Allah itu. Menurut teks bacaan hari ini, Kerajaan Allah hadir bukan dalam wujud orang jadi pietis atau teroris, melainkan tindakan menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menyucikan orang najis, mengusir roh jahat.

Nah, orang pandir lagi-lagi akan menangkap ‘telunjuk’ kalimat itu lalu berpikir: saya bukan dokter, bukan orang kudus, tak bisa mengusir setan, dan seterusnya. Orang beriman melihat konteks petunyuk Guru dari Nazareth itu: mereka yang sakit, mati, kerasukan, kusta, najis, itu adalah orang-orang yang disingkiri, dieksklusi, dipinggirkan. Maka, poinnya bukan bahwa orang beriman mesti jadi dokter atau imam, melainkan bahwa ia mesti lebih inklusif, tidak menganggap diri sebagai (sumber) kebenaran tunggal dan menyimpan dalam hatinya bahwa orang lain itu salah, sesat, dan tinggal menantikan hukuman Allah saja.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya hati kami tidak semakin bebal. Amin.


PERINGATAN WAJIB ST. BARNABAS
(Selasa Biasa X C/1)
11 Juni 2019

Kis 11,21b-26;13,1-3
Mat 10,7-13

Posting 2018: Wajah Sendu
Posting 2016: Tuhan Aja Gak Maksa

Posting 2015: Murah, Murahan

Posting 2014: Bukan Modus: Son of Encouragement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s