Santa Teresa, tentu sebelum dianggap sebagai seorang santa oleh Gereja Katolik, konon pernah berkunjung ke London dan di tengah vibes kemegahan dan kecanggihan kota itu, beliau mendapati seseorang duduk sendirian dengan raut muka kesepian. Orang itu tidak sedang melakukan eksperimen sosial dengan membawa banner atau bib bertuliskan “Give me a hug” (sepertiya belum jadi tren saat itu). Akan tetapi, Santa Teresa ini, yang, sekali lagi, bukan orang sekelas dewa atau dewi melainkan orang kecil biasa seperti saya dan Anda (elu aja kale’), mendatangi orang itu dan memegang tangannya dengan pijitan lembut. Orang itu terperangah dan tidak menunjukkan reaksi bahwa ia sedang mengalami pelecehan. Sebaliknya, ia tertegun dengan wajah berseri,”Setelah sekian lama hidup, akhirnya saya merasakan kehangatan tangan manusia.”
Penampakan Tuhan tidak mengandaikan hal yang extraordinary bin luar biasa, kecuali hal luar biasa itu berarti hal yang tidak biasanya dilakukan orang. Misalnya, tidak biasanya Anda tengok kiri kanan sebelum menyeberang jalan dan kali ini Anda tengok kiri kanan. Itu sudah luar biasa. Lha, trus, apa itu berarti kalau biasanya tengok kiri kanan sebelum menyeberang jalan dan hari ini tidak tengok kiri kanan dulu sebelum menyeberang jalan itu juga luar biasa? Iya, luar biasa. Bedanya, luar biasa yang satu bisa mengakibatkan celaka, luar biasa yang lain bisa menghindarkan celaka. Ujung-ujungnya, nasib untung-malang, who knows, gitu kan?
Jadi, alih-alih ribet dengan hal extraordinary, mendingan terima saja narasi teks hari ini sebagai teropong untuk memahami bahwa penampakan Tuhan itu terjadi juga melalui hal-hal kecil yang dipunyai, bukan hal-hal besar (yang tidak dipunyai). Ketika hal-hal kecil nan sederhana ini diarahkan ke luar tempurung hidup, mereka ini akan terhubung dengan hal-hal lain, yang entah besar entah kecil, pada momennya akan memintal hal yang extraordinary juga. Dengan kata lain, tak perlulah menunggu kapan presiden tengil akan menangkap presiden tengil lainnya untuk mengelola minyak atau menata strategi energi global. Cukuplah dengar kritik komedian dengan akal sehat supaya Anda dan saya tak berkubang dalam aneka ketengilan yang membuat bangsa ini susah merdeka. Mau merdeka gimana jal: mengkritik diri sendiri bahkan kena pasal!
Lha ya enggaklah, Rom. Yang dilindungi hukum itu kan cuma kritik terhadap lembaga negara semacam presiden, DPR, atau Mahkamah Konstitusi. Kalau Romo mau kritik diri Romo sendiri mah sok atuh!
Nah justru itulah yang bikin bangsa susah merdeka karena begitu rakyat pindah posisi masuk dalam lingkaran kekuasaan, mereka jadi terlepas alias terpisah, bukan hanya terbedakan, terpisah dari rakyat dan bangsanya. Lupa bahwa lembaga-lembaga itu ya asalnya dari rakyat. Lha dikritik rakyat kok malah merasa diserang ala-ala anak tak punya kepercayaan diri. Ngopo jal?
Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk memercikkan wajah terang keadilan-Mu di tengah kegelapan hidup kami. Amin.
HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN
Selasa, 6 Januari 2026
Posting 2025: STY
Posting 2021: What a Relief!
Posting 2019: Mari Kenduri
Posting 2016: Rebutan Hidayah
Posting 2015: Siapa Bilang Allah Mahakuasa?
