Fanatik – fanatisme

Saya pernah merasa malu sekali karena sempat usul kepada teman saya untuk berpindah agama. Saya Katolik, dia Islam. Memang  saya sama sekali tidak memaksa, saya benar-benar hanya usul. Saya pikir mungkin dia akan lebih maju dalam hidup rohaninya jika menjadi Katolik.

Segera setelah saya melontarkannya, saya malu dan menyesal sekurang-kurangnya karena dua hal. Pertama, saya sedemikian kepo dan bahkan sangat interventif terhadap wilayah pribadinya. Urusan hati seseorang, gimana kita bisa jamin pengetahuan kita bahwa si A begini dan si B begitu? Kedua, kok bisa-bisanya saya punya penilaian bahwa agama saya lebih baik daripada agamanya? Wah…benar-benar memalukan!

Itu pernah menimpa saya juga dalam ranah sosio-ekonomis. Kerangka analisis sosial sederhana dan exposure yang saya lakukan di sudut-sudut kumuh di Jakarta tiba-tiba menimbulkan kebencian saya kepada orang-orang kaya. Pikir saya waktu itu, jahat banget orang-orang kaya itu. Mereka bukan cuma gak peduli, tapi juga bikin struktur yang menindas orang miskin. Untuk sekian waktu saya dalam hati membenci orang-orang kaya yang bersliweran dengan mobilnya di Jakarta, sampai saya sadar…bahwa saya bisa sekolah karena subsidi yang saya peroleh dari orang kaya, hahaha. Jadi gak mungkin dong semua orang kaya seperti yang saya pikirkan tadi!

Di luar Gereja tak ada keselamatan?

Pada titik tertentu dalam tahapan hidup orang, mungkin memang ia bisa bersikap ekstrem: suatu fanatisme yang menempatkan orang pada posisi superior, arogan, chauvinis (aku lebih baik dari kamu, keluargaku lebih kuat daripada keluargamu, agamaku lebih benar daripada agamamu, bangsaku lebih tinggi daripada bangsamu, sukuku lebih maju daripada sukumu, dan seterusnya). Dalam sejarah awal Gereja pun, misalnya, sempat tercetus ungkapan eksklusif: extra ecclesiam nulla salus est. Di luar Gereja tak ada keselamatan. Artinya, yang kelak memperoleh keselamatan hanyalah mereka yang tergabung dalam Gereja. Rumusan Siprianus dari Kartago (†258) rupanya dipakai sebagai rumus singkat aneka pemahaman mengenai keselamatan waktu itu.

Syukurlah, sudah sejak lama elemen-elemen Gereja menyadari kekeliruan itu. Jadi, Gereja salah menafsirkan! Rumusan Siprianus tentu tak bisa diubah, tetapi tidak lagi dihayati dalam semangat fanatisme, radikalisme, fundamentalisme, atau isme lain yang bikin apa aja jadi ekstrem. Salah satu dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (terang bangsa2) misalnya, menggarisbawahi sebuah pendekatan yang inklusif. Pengertiannya begini.

Keselamatan dari Allah itu datang melalui Kristus sebagai kepala Gereja. Gereja sendiri sedang dalam peziarahan. Lha kalau ada orang yang bener2 tahu dan yakin bahwa Gereja itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus demi keselamatan, tetapi ia menyangkal pengetahuan itu dan tak mau gabung ke situ, dia gak selamat karena penyangkalan keyakinan batinnya.
Akan tetapi, kalo orang emang gak punya keyakinan (cuma pernah dijelaskan tapi gak ngeh atau tak percaya, misalnya) dan ia secara tulus mencari Allah, dan berkat rahmat-Nya ia berusaha mengamalkan kehendak Allah yang terpantik dalam suara hatinya, kenapa orang seperti ini mesti kita anggap gak selamat? Ia tentulah mendapat keselamatannya karena rahmat Allah itu!

Ini tidak menghapuskan ciri dakwah: agama memang punya kewajiban berdakwah, tetapi tidak dalam semangat fanatisme tadi (bahwa kamu kafir yang harus kupertobatkan; bahwa kamu salah dan akulah yang benar). Semangat itu justru kontraproduktif, cenderung membuat banalisasi: yang penting angkanya bertambah!!! Orang senang kalau jumlah penganut agamanya membludak, tapi lupa bahwa yang penting bagaimana inti agama itu dihidupi. Ini adalah indikasi bahwa agama menjadi tujuan, bukan lagi sarana. Dalam hal ini, catatan A.A. Navis dalam cerpen Robohnya Surau Kami tetaplah relevan: agama yang narsis memuliakan dirinya sendiri, jelas tak mendapat rida Allah. Agama haruslah memuliakan Allah dan manusia, bukan malah menciptakan sekat2.

Semakin lama, semakin yakinlah saya bahwa Gereja pun cakupannya semakin luas, bukan lagi institusi Gereja Katolik, apalagi hirarkinya, melainkan seluruh pribadi (apapun agamanya) yang bener2 mau mewujudkan bahwa Allah sungguh-sungguh menjadi Bapa bagi semua; bonum commune bagi semakin banyak orang…

Pemimpin Kafir

Maka dari itu, perkenankanlah saya prihatin (kalau tidak diperkenankan, ya tetap prihatin) dengan aneka klaim kafir-kafiran. Saya percaya bahwa memilih pemimpin kafir itu membahayakan, tetapi saya tidak percaya bahwa kafir menunjuk pada atribut agama tertentu; pun kalau memang kata kafir menunjuk pada atribut agama Kristen dan Yahudi, apakah sebutan itu berlaku umum begitu saja bagi semua orang Kristen dan Yahudi, seperti saya sempat menuduh bahwa orang kaya itu jahat?
Saya merasa pemahaman kontekstual berikut ini lebih sehat: pemimpin kafir itu yang memaksa orang Islam murtad. Hari gini, entahlah…apakah masih ada pemimpin yang memaksa orang untuk beragama A B C D… Saya sendiri, ngapain maksa-maksa, wong menghayati sendiri aja dah susah. Saya malah khawatir jangan2  mereka yang memaksa-maksa itu ya karena butuh angka: jumlah orang dan jumlah duit!!!! Itulah banalisasi agama.

Rasionalisasinya bisa suci sekali, dengan argumentasi kitab suci segala, tapi ujung2nya ke sana… dan itu berarti memuliakan agama, bukan memuliakan Allah. Allah tidak compatible dengan duit meskipun duit bisa membantu orang untuk sampai kepada-Nya.


Pada titik hidup lain saya justru pernah menolak orang yang tampak ingin memeluk agama Katolik (lha wong syaratnya bertele-tele dan prosesnya lama je), dan mendorong orang yang mau keluar dari Gereja Katolik. Keduanya dengan alasan sama: asal kesemuanya itu sungguh2 membawa orang masuk pada kedalaman hatinya dan berjumpa dengan Allah di sana… buatlah! Kalau tidak, itu berarti godaan syaiton…

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s