Apa Pentingnya Kebangkitan?

Sejak hari minggu Paskah, bacaan-bacaan bicara mengenai kebangkitaaaaan terus, kayak gak ada topik lain aja!!!

Banyak orang Yahudi tak mengakui kebangkitan Yesus; begitu juga saudara2 muslim tidak mengakuinya, apalagi agama yang bukan dari Timur Tengah, mungkin tak punya pikiran sama sekali mengenai kebangkitan: emangnya gua pikirin. Akan tetapi, itu gak perlu dipusingin, wong namanya iman kepercayaan, tentu aja ada unsur yang incommensurate-incommensurable, gak bisa dimengerti dari sudut pandang lain, gak bisa diukur dengan tolok ukur yang beda. [Coba ukur berat badan dengan penggaris atau ukur jarak tempuh sepeda dengan timbangan! Piye jal.] Trus, jangankan orang zaman sekarang, para rasul aja waktu dengar Yesus bangkit ya gak langsung percaya! Bahkan dalam Injil Markus bab 16 dikatakan Yesus mencela ketidakpercayaan murid-muridnya. Jadi, gak perlu sewot kalau orang gak mengakui kebangkitan Yesus; gak ada pemaksaan, karena Cinta pun tidak memaksa, apalagi dengan kekerasan dan kekejaman.

Ya udah, trus apa pentingnya kebangkitan itu tadi?

Gak tahu gimana merumuskannya. Kalo’ kita punya idola atau guru yang kita teladani, dan dia ini tau-tau hilang, entah meninggal karena tua, entah mati dibunuh, kita akan merasa sumedhot. Ini juga paling konkret dialami oleh pasangan suami istri yang sudah hidup sekian lama. Kematian salah satu dari pasangan itu sangat mungkin membuat sang istri atau suami merasa ada sesuatu yang putus. Untuk beberapa orang kematian pasangannya membuat dirinya frustrasi. Semangat hidupnya bahkan bisa surut. Ini bisa dipahami.

Akan tetapi, bisa juga seorang idola mengkhianati para penggemarnya dengan melanggar janji atau membuat skandal yang menodai apa yang dia sendiri minta kepada penggemarnya untuk melakukannya. Andaikanlah dulu Pangeran Diponegoro yang diikuti banyak orang melawan kumpeni Belanda, lalu malah bersekongkol dengan kumpeni Belanda untuk menumpas pengikutnya sendiri! Ini menjadi skandal, dan tak ayal lagi, orang banyak itu tentulah kehilangan trust terhadap Diponegoro.

Yesus, memang hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang bisa menyembuhkan. Ia juga bukan satu-satunya orang yang bisa membangkitkan orang mati. Tambah lagi, ia juga bukan satu-satunya orang yang dibangkitkan dari kematian! Jadi, kalo’ dia dibangkitkan dari mati, so what gituloh? Lazarus juga dibangkitkan!

Hmmm…untuk jawab pertanyaan itu, kita balik aja rumusannya: emangnya kalo’ Yesus gak dibangkitkan dari kubur, trus kenapa sih?

Kalau Yesus gak bangkit dari mati, berarti dia sama aja dengan nabi-nabi dan semua orang hebat lainnya: mereka semua mati! Semua manusia mati! Yesus manusia, maka dia mati juga, sama dengan manusia mana pun. Kalau begitu, ya gak ada sesuatunya; biasa aja meskipun ajarannya hebat; ajaran hebat bisa diucapkan oleh mulut orang lain, ya kan? Omongan cinta kasih mah semua orang juga bisa omong sampai berbusa-busa mulutnya!

Akan tetapi, coba kita lihat baik-baik. Lazarus yang bangkit dari mati itu, kok tidak sepopuler Yesus ya? Mengapa kebangkitan Yesus ini jadi pondasi penerusan Gereja Kristus?

Karena semua yang diajarkan dan dikatakannya itu mendapat pembenaran dari kebangkitannya. Sudah sejak awal pelayanannya, ia mengantisipasi nasib dirinya: ia tidak dihargai di tempat asalnya sendiri, ia dikhianati, ia dibunuh, tetapi pada hari ketiga (menurut hitungan Tradisi Yahudi) ia bangkit. Persis seperti yang dikatakannya sendiri sebelum kematiannya. Kok bisa ya meramalkan nasibnya sendiri bahkan sampai kematian dan kebangkitannya?

1Kor 15,14: andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.

Kalau Kristus gak bangkit, ngapain kita mesti berharap pada kehidupan setelah kematian? Kalau Kristus gak bangkit, ngapain repot-repot pikir soal moralitas di dunia ini? Hasilnya sama untuk semua orang, entah dinilai baik atau buruk, entah orang suci atau kafir, entah beragama atau tidak: M A T I, bagaimanapun caranya. Kalau Kristus gak bangkit, gak ada gunanya kita percaya bahwa cinta tulus dengan pengorbanan itu prospek ke depannya cerah. Kalo Kristus gak bangkit, sia-sialah kita sejak baptis mengikuti prinsip dan nilai yang disodorkannya. Kalau Kristus gak bangkit, percuma deh ambil risiko penderitaan, percuma rela menderita, sabar, dan sebagainya… wong kita ini hidup mau sukses, padahal untuk bisa sukses itu ada macam-macam caranya (kalau yang gampang aja bisa, ngapain juga kita mesti susah-susah, bukan?).

Kebangkitan Kristus membuat seluruh nubuatnya terlaksana, seluruh nilai yang diwartakannya terjamin takkan musnah. Buktinya? Ya ada kebangkitan itu toh?!

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s