Marriage: Why?

Sekitar lima puluh tahun lalu, majalah TIME serius mempersoalkan hidup berkeluarga: are we the last generation to marry? Nadanya pesimis dan seperti memberontak pada institusi tertua dalam sejarah manusia, yaitu keluarga (nuclear family). Generasi paruh abad XX meninggalkan standar relasi seksual modern. One-night stands, seks tanpa komitmen, menjadi pola hidup yang merebak luas di daratan Eropa.

Menurut statistik di Amerika ada peningkatan angka perceraian yang stabil pada paruh pertama abad XX. Tahun 1960 tercatat 395.000 perceraian dari satu setengah juta perkawinan. Angka kenaikan berubah drastis di tahun 1975: satu juta perceraian dari dua juta perkawinan. Artinya, ada satu perceraian dari dua perkawinan (Collier’s Encyclopaedia)! Ikatan melonggar.

Revolusi tahun 60-an dan 70-an itu seolah menjanjikan sebuah masyarakat baru yang dibangun atas dasar kebebasan dan euforia revolusi seksual. Keluarga dipandang bukan sebagai institusi relasi pria-wanita-anak yang layak dipertahankan. Ada alternatif seperti dipaparkan J. Howard Kauffman dalam Marriage and Family Alternatives: hidup berkomunitas (misalnya atas dasar ikatan primordial agama tertentu), hidup single tanpa berkeluarga, single parenthood, dan yang masih kontroversial, kumpul kebo dengan begitu banyak variasi (De Santo et. al., 1980).

Tahun 80-an masih menjadi masa uji coba filosofi dan moralitas revolusi seksual. Keluarga inti mengalami gempuran keras dari berbagai kepentingan politis dan bisnis. Masa depan institusi keluarga selalu berada dalam ambang kehancuran meskipun institusi agama berkoar-koar mengenai pentingnya lembaga perkawinan (Carrasco, 1980).

Optimisme boleh membuat nafas lega sejenak. Statistik di Amerika tahun 1987 menyebutkan bahwa separuh dari mereka yang bercerai mengadakan perkawinan kembali (New American Encyclopedia). Eksistensi institusi keluarga mendapat pengakuan kembali. Tampaknya uji coba telah berakhir. Pemisahan seks dari relasi cinta tak terbukti menjadi dasar kokoh bagi hidup bermasyarakat (Miller, 1996). Revolusi seksual berujung pada keputusasaan emosional, ketiadaan harapan dan makna hidup (Post, 1992).

Tetapi, itu gak berarti dampak revolusi seksual berhenti. Fenomena yang ditunjukkan Moammar Emka (Jakarta Undercover: Sex ‘n The City) hanyalah satu dari dampak revolusi seksual bagi masyarakat metropolitan. Praktiknya memang bisa tersembunyi karena secara publik masih ada ketegangan dengan moralitas modern. Dewasa ini dampak revolusi seksual tampak juga pada bagaimana orang memandang institusi keluarga.

Catatan-catatan berikut ini mengulas beberapa pokok:

  1. Pergeseran pandangan terhadap lembaga keluarga inti
  2. Kerapuhan paham modern mengenai keluarga inti
  3. Alternatif bagi keluarga modern atas dasar kritik posmodern

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s