Ibu-Ibu Perkasa

Bayangkanlah Yesus, setelah menyembuhkan hamba perwira Romawi melanjutkan perjalanan diikuti oleh para rasul, dan juga orang banyak yang mengikutinya. Di gerbang desa Nain mereka berjumpa dengan rombongan pelayat. Seorang janda, yang sudah kehilangan suaminya, ditinggal mati pula oleh satu-satunya anak lelaki yang menjadi andalannya kelak ketika ia tak sanggup bekerja lagi mencari nafkah. Dua rombongan orang itu menyaksikan bagaimana bela rasa Yesus mengubah janda ini.

Apa yang dibuat Yesus? Memang akhirnya ia membangkitkan anak yang mati tadi, dan dengan demikian di hadapan dua rombongan besar itu tampak daya ilahinya. Akan tetapi, yang baik kita refleksikan ialah saran Yesus kepada janda itu: jangan menangis! Loh, piye sih, orang sedih kok gak boleh nangis! Yesus tidak senaif itu tentunya.

Ia menunjukkan sebuah alasan mengapa janda itu tak perlu menangisi anaknya yang mati. Alasan ini tak bisa diberikan orang lain yang berusaha menghiburnya. Para tetangga menghibur mereka yang kesripahan (ditinggal mati orang dekat) dan setelah itu… the show must go on, dan mungkin yang kesripahan itu akan bergumul sendirian dengan kesusahannya. Apa penghiburan Yesus? Janda itu boleh percaya bahwa Kristus berbelas kasih kepadanya dan tahu benar keadaan jiwanya; maka, bahkan kalau orang di sekelilingnya kemudian mengabaikan kepedihan hidupnya, ia tetap boleh melihat bahwa Kristus tidak begitu. Ia memberi harapan bahkan dalam kondisi seolah tanpa harapan sekalipun

Oleh karena itu, orang bolehlah berduka, bersedih, tetapi bukan dalam kerangka putus asa. Paulus mengingatkan kita supaya tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tak berpengharapan (1Tes 4,13). Orang yang berduka dalam pengharapan akan bela rasa Kristus ini justu mengalami jiwa yang penuh konsolasi. Apa wujud duka berpengharapan ini? Doa dan kerja. Bacaan pertama menggarisbawahi kesaksian kerja supaya tidak menjadi batu sandungan atau beban bagi orang lain.

Santa Monika praktis mengalami hidup sebagai janda karena suaminya ateis tulen dan tak menjalankan tugas sebagai suami. Agustinus, anak tunggalnya pun, praktis seperti anak hilang yang bahkan menentang orang tuanya: menentang ayahnya karena bajingan, menentang ibunya karena kepercayaan kepada Kristus. Ibu manakah yang tak berduka karena situasi itu?

Monika adalah contoh ibu perkasa: ia tetap bekerja seperti biasa dan mendoakan suami dan anaknya. Ia berduka tetapi tetap menaruh harapan pada Tuhan sendiri. Kiranya ia aktif dengan komunitas, bekerja untuk hidup, dan memohonkan pertobatan suami dan anaknya. Semuanya tiba pada waktunya…


PERINGATAN WAJIB S. MONIKA
(Rabu Biasa XXI A/2)
27 Agustus 2014

2Tes 3,6-10.16-18
Luk 7,11-17

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s