Teman Tapi Menelikung

Seperti apa rasanya diserang orang luar dan dikhianati orang dalam? Orang macam ini tentu dalam kondisi rapuh dan rentan, bukan cuma secara fisik, melainkan juga secara moral dan spiritual. Hari ketiga dalam Pekan Suci ini menyodorkan kerapuhan dan kerentanan yang dialami Yesus. Sengsara Yesus mestinya sempurna dalam keseluruhan pribadinya: bukan cuma fisik, melainkan juga batinnya. Sengsara itu bukan hanya mengoyak tubuhnya, melainkan juga menggoncang kerohaniannya, roh dan jiwanya. Seluruh kediriannya bakal disalibkan dengan paku logam dan paku rohani dan, keknya, paku rohani itu jauh lebih menyakitkan daripada paku logam.

Pengkhianatan Yudas Iskariot mungkin takkan berjalan sempurna jika Petrus tidak menyangkal Yesus dan barangkali yang dibuat Yudas tak lebih menyakitkan batin daripada yang dilakukan Petrus. Kenafa?
Yudas berkhianat, mengambil posisi musuh. Posisinya jelas. Menyakitkan? Tentu. Akan tetapi, sekurang-kurangnya orang yang dimusuhinya bisa menentukan sikap: mencabut kepercayaannya sebagai teman atau sahabat. Putus sudah.

Petrus tidak begitu. Ia tidak menempatkan diri sebagai musuh Yesus. Ia tetap jadi teman sampai akhir. Juga sepanjang jalan menuju tempat penyaliban, Petrus mengikuti Yesus, meskipun dari kejauhan. Dia juga ada di sekitar tempat persidangan Yesus. Mungkin punya niat untuk membantu, tapi tak tahu caranya dan cuma mendengar dari luar. Ini tipikal orang yang setiap saat diberi kepercayaan bisa saja membuyarkan kepercayaan itu dengan menyangkal integritasnya sendiri: iya iya di depan, di belakang omong yang tidak tidak. Terhadap orang seperti ini, Yesus benar-benar mempertaruhkan kepercayaannya setiap saat dan dalam situasi genting bisa saja taruhannya menjadi sangat besar.

Seorang teman bisa berkhianat dan menyangkal temannya, tetapi Yesus yang dikhianati dan disangkal ini tak juga hendak mengabaikan mereka. Derita Yesus ‘dibutuhkan’ oleh pengkhianat dan penyangkal itu dan Yesus justru menginginkan keselamatan mereka. Ini adalah gambaran untuk Allah yang maharahim, yang mahamurah, yang memberi peluang kepada siapa saja untuk mengalami pengampunan dan keselamatan. Gambaran ini pula yang semestinya dikonkretkan oleh umat manusia, gambaran yang mempertanyakan mulut besar yang melantunkan lagu lama: akan kuserahkan nyawaku untukmu.

Mau menyerahkan nyawa gimana, wong liat peluang jabatan aja dah cemleguk telan ludah, liat anggaran proyek besar saja sudah merancang modus korupsi, liat daun muda saja sudah lupa umur sendiri dan nama istri, dan sebagainya. Maksud hati mau jadi teman tapi mesra, ujung-ujungnya jadi teman tapi menelikung: menelikung diri sendiri, menelikung suami/istri sendiri, menelikung teman sendiri. Awalnya selalu merupakan penyangkalan terhadap panggilan batin. Orang yang tak pernah bisa menjawab panggilan batin yang autentik, apa yang sejatinya dicari dalam hidup ini, bisa dipastikan menelikung dirinya sendiri. Lha diri sendiri aja ditelikung, gimana orang lain bisa safe?

Tuhan, semoga rahmat-Mu memampukan kami untuk setia pada panggilan ilahi-Mu. Amin.


HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI
22 Maret 2016

Yes 49,1-6
Yoh 13,21-33.36-38

Posting 2015: Faith: Personal, Not Private
Posting 2014: The Way Of The Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s