Allah Kekinian

Saya baru ngeh bahwa dalam teks hari ini ada nuansa lain mengenai ahli Taurat, yang selama ini selalu digambarkan sebagai tokoh antagonis terhadap Yesus: mereka yang mencobai Yesus dengan aneka jebakan maut, mereka yang memprotes perilaku murid-murid dan Yesus sendiri yang melanggar hukum, dan sejenisnya. Dalam teks hari ini disinggung ahli Taurat yang dipakai Yesus dalam perumpamaan. Itu tampaknya bisa berarti bahwa dalam lingkaran pengikut Yesus, selain para nelayan dan pemungut cukai, ada juga ahli Tauratnya. Ahli Taurat macam mana?

Setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya. (Mat 13,52 ITB)
Ahli Taurat itu kan orang terpelajar yang punya keabsahan untuk menyalin Kitab Suci. Merekalah kiranya yang memungkinkan tradisi oral hidup dalam tradisi tulisan dan karenanya dihargai sebagai kelompok orang yang punya kultur seturut Kitab Suci mereka. Seringkali mereka campur tangan dalam perdebatan teologis ; merekalah yang dianggap punya pendapat otoritatif.

Bahwa Yesus mengapresiasi ahli Taurat yang menerima pelajaran dari perumpamaan tentang Kerajaan Surga itu jadi indikasi bahwa tidak semua ahli Taurat berseberangan dengan Yesus. Ada ahli yang melihat Taurat secara berbeda, sebagaimana Yesus sendiri tampak nyeleneh dari prosedur tradisional dalam melihat hukum Taurat. Ahli Taurat seperti inilah yang dilihat Yesus seperti tuan rumah yang mengeluarkan harta baru dan harta lama dari gudang hartanya: ia bisa memilah mana yang jadul kudet dan mana yang kekinian.

Itu berlaku bukan cuma untuk ahli Taurat. Dalam semua tradisi agama, sebetulnya diperlukan kapasitas seperti ahli Taurat yang mampu melihat perbendaharaan hartanya. Tak banyak gunanya memaksakan teks yang tertutup bagi penafsiran baru semata-mata karena teks tradisional itu dianggap suci dan tak boleh diutak-atik. Ini tidak berarti bahwa teks suci itu harus diubah atau agamanya harus diganti oleh agama lain. Sebaliknya, biarlah yang tertulis itu tetap tertulis (supaya juga orang sadar sejarah), tetapi biarkan juga orang memperkaya pengertian terhadap teks itu dengan perspektif yang baru. Perspektif baru inilah yang memungkinkan hidup orang seperti digambarkan dalam bacaan pertama: periuk yang bisa dihancurkan manakala tak sesuai dengan rencana tukang periuknya.

Allah cinta kekinian: bukan kekinian asesoris, melainkan kekinian Sabda yang menuntun orang dalam peziarahan hidupnya. Maka, titik tolaknya bukan kekinian asesoris, melainkan kekinian cara memahami Sabda yang pada gilirannya terwujud dalam asesoris yang bisa jadi kekinian. Kalau prosesnya dibalik, hidup ini kehilangan maknanya.

Tuhan, semoga kami semakin memahami Sabda-Mu yang senantiasa mencari jalur kekinian. Amin.


KAMIS BIASA XVII
28 Juli 2016

Yer 18,1-6
Mat 13,47-53

Posting Kamis Biasa XVII B/1 Tahun 2015: Surga Dunia? Ngimpi Keleus…
Posting Kamis Biasa XVII Tahun 2014: Layu sebelum Berkembang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s