Mati Lagi, Mati Lagi

Sebagaimana hukuman mati masih dilangsungkan di negeri ini, begitu pula blog ini tiada henti menyuarakan suara geli. Siapa tak gemes melihat narapidana bahkan dari dalam penjara masih bisa mengendalikan bisnis peredaran narkoba yang merusak banyak orang itu? Rasanya ingin mithês saja dia sampai mati, wong gak kapok-kapok! Biar kapok ya dibunuh aja toh? (Itu juga yang bikin geli, gimana mungkin orang mati kapok?)

Pandangan Gereja Katolik sepertinya jelas ya: hukuman mati bisa ditolerir sejauh kepentingan publik memang tak mungkin dilindungi lagi dengan membiarkan orang macam ini hidup. Lah, Rom, kan bisnis narkobanya merusak banyak generasi muda? Mereka tak terlindungi lagi. Hahahaha… lha yang mestinya melindungi mereka siapa? Presiden? Menteri Hukuman Mati? Atau siapa? Selain itu, memang yang memungkinkan dia berbisnis dari dalam penjara itu siapa? Presiden? Menteri Hukuman Mati? Atau siapa? Memang lebih mudah menembak mati satu sampai empat orang daripada membongkar jaringan korup-manipulatif-munafik di negeri ini. Memang lebih mudah bagi orang tua menyalahkan produsen narkoba daripada sendiri mendidik anaknya yang sedang mengalami krisis multidimensi.

Rasa saya, lebih baik kita mengakui diri saja bahwa kita tak ingin bersusah payah, tak ingin repot-repot berurusan dengan hak hidup orang lain, alias cari yang gampang aja: dor! Selesai! [Sangkamu selesai…]

Teks-teks hari ini bicara mengenai hukuman mati. Para imam dan mereka yang disebut nabi menyerukan kepada seluruh rakyat bahwa Yeremia pantas dihukum mati karena nubuatnya dengan truth claim dari Allah dan nubuatnya itu gak enak didengar dah pokoknya (meskipun bener juga sih logikanya: kalau umat tak memedulikan hukum Allah, kota itu akan hancur seperti kota lain). Untunglah (atau rugilah?), Yeremia dilindungi Ahikam bin Safan (sapa tuh? Mboh), ia tak dibunuh.

Yohanes tak beruntung (atau malah beruntung?), ia tak lolos dari hukuman mati, yang adalah eksplisitasi kekalahan prinsip kehidupan pada mentalitas infantil atas nama presiden yang punya kuasa tertinggi di negerinya. Maklumlah, Herodes, penguasa kota yang belum lama ditetapkan sebagai ibukota dengan nama Tiberias, untuk menghormati Kaisar Romawi, Tiberius. Ini adalah kota besar dan Herodes membangun perangkat mulai dari angkatan bersenjata sampai tukang pungut pajak yang semua bakal tunduk padanya. Gak mau tunduk ya pasti kena reshuffle supaya otoritasnya, juga proyeknya bisa dijalankan seturut keinginannya (yang mungkin dipengaruhi kepentingan orang-orang lain sih). Di setiap dusun mesti ada kelompok orang yang mendukung pemerintah, termasuk juga beberapa orang Farisi (bdk. Mrk 3,6 atau 8,15 dan 12,13): kongkalikong kekuasaan agama dan kekuasaan politik!

Dibutuhkan keberanian untuk memulai sesuatu yang baru (atau lama tapi tak juga direalisasikan orang). Yohanes membayar dengan kepalanya sendiri, yang harganya lebih murah daripada biaya psikologis dan material yang mesti ditanggung Herodes.
Memang ada orang yang tak berani mengambil keputusan untuk bertindak karena persoalannya njelimet-sulit-rumit. Ada sebagian yang mengambil tindakan meskipun sulit. Akan tetapi, ada juga yang mengambil tindakan justru karena tahu perkaranya sulit. Herodes adalah kelompok pertama. Yohanes bisa dikategorikan dalam kelompok terakhir. Justru dalam pilihan yang tuntutannya berat, susah, terselip panggilan kebenaran ilahi.

Tuhan, kuatkanlah kami supaya dapat menangkap panggilan-Mu dalam kesulitan hidup kami. Amin.


SABTU BIASA XVII
30 Juli 2016

Yer 26,11-16.24
Mat 14,1-12

Posting Sabtu Biasa XVII B/1 Tahun 2015: Agama Komunis
Posting Sabtu Biasa XVII Tahun 2014: Siapa Yang Kamu Sebut Nabi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s