Mengampuni Konsep

Orang yang sinis terhadap agama atau tak punya preferensi terhadap agama bisa sedemikian ‘kritis’ terhadap konsep dosa atau surga-neraka. Dosa itu cuma bikinan manusia aja dan, apalagi surga-neraka, malah bikin pengikut agama berkacamata kuda, fundamentalis, fanatik, dan sejenisnya. Orang lupa bahwa garis khatulistiwa juga cuma bikinan manusia aja. Terhadap garis ekuator rupanya orang gak protes seperti terhadap konsep dosa atau surga-neraka. Kenapa ya? Karena konsep garis khatulistiwa tak menuntut konsekuensi moral. Orang menerima bahwa semakin jauh dari khatulistiwa, semakin jauh pula iklim tropisnya. Tetapi, jauh-dekatnya orang dengan garis khatulistiwa itu tidak mengikatnya untuk rajin menabung atau berdoa.

Tokoh sableng kita hari ini tidak alergi terhadap konsep, tetapi ia mengundang orang supaya masuk ke dalam hal yang dikonsepkan itu. Kisahnya hari ini justru bisa jadi undangan supaya orang tak dibebani oleh konsep sedemikian rupa sehingga malah melumpuhkan hidupnya sendiri. Ia mengindahkan hati, bukan huruf nan mati. Cara pandangnya itulah yang membuat tokoh sableng kita ini ditentang mereka yang jadi korban konsep; yaitu orang-orang yang meletakkan hidupnya pada ayat-ayat yang dilepaskan dari konteks hidup manusia sebagai ciptaan Allah yang maharahim.

Bayangkanlah di antara antrian di rumah sakit ada yang menerobos tanpa antrian. Orang yang berbudaya antri secara spontan memandang negatif si penerobos ini. Lebih ngeri lagi kisah hari ini. Sudah jelas tak ada akses untuk masuk ke tempat tabib sableng ini berada, orang membobol atap dan menurunkan orang lumpuh dari atas atap. Apa ini gak berlipat ganda kengawurannya? Tentu saja. Akan tetapi, sekali lagi, kengawuran itu juga merupakan konsep bikinan orang sendiri. Jadilah perang konsep dan orang terbuai dengan perang itu sedemikian rupa sehingga pokok persoalannya sendiri luput dari perhatian.

Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa. Ini jelas pernyataan subversif yang memancing keresahan. Bagaimana mungkin orang kok mengampuni dosa? Yang bisa mengampuni dosa ya Allah sendiri! Tetapi si sableng itu punya paradigma unik: alih-alih sibuk dengan perang konsep moralitas para penerobos atap itu, ia melihat kerinduan mendalam mereka. Ini tak beda dari bagaimana dia menangkap kerinduan mendalam yang dimiliki oleh perempuan yang diarak massa setelah tertangkap melakukan zinah. Yesus tidak menggarisbawahi konsep dosa,”Yang kamu lakukan itu namanya dosa!” Ia cuma bertanya di mana orang-orang yang hendak merajamnya dengan batu itu. Tak ada. Dia pun tak hendak menghukumnya, tetapi dia katakan,” Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8,11 ITB)

Artinya, tokoh sableng kita ini tetap memakai konsep dosa juga, tetapi poinnya tidak terletak pada konsep dosanya sendiri, melainkan pada kenyataan bahwa Tuhan itu maha pengampun dan orang sendiri diundang untuk mengampuni dosa dengan cara melepaskan diri dari cengkeraman konsep yang menjauhkan hidup orang dari kerahiman Allah sendiri. Njuk apa relevansinya pengakuan dosa kalau setiap orang bisa mengampuni dosa dong? Ya sebagai bantuan supaya orang sadar diri pada konsep-konsep yang menjauhkan hidupnya dari relasi autentik dengan Tuhan itu toh? Ini bukan bisnis ketakutan dalam Gereja Katolik (meskipun de facto tak sedikit orang yang takut mengaku dosa karena satu dan lain hal).

Tuhan, bebaskanlah kami dari kesesatan paham mengenai kerahiman-Mu. Amin.


SENIN ADVEN II
5 Desember 2016

Yes 35,1-10
Luk 5,17-26

Posting Tahun 2014: Pernah Lumpuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s