Juara Komen

Sensasi apa yang didapat kalau orang main game tanpa bunyi-bunyian? Bergantung pada jenis gamenya juga sih, tapi juga bergantung pada gamernya. Saya cuma bisa menimbang-nimbang bagaimana kalau saya menonton bal-balan di tivi tanpa suara komentator. Pun kalau saya menonton bal-balan jam dua pagi, saya tetap mengatur supaya bunyi siaran tivi itu tak mengganggu tetangga yang sedang tidur tetapi saya tetap bisa mendengar komentatornya bersuara. Kalau cuma melihat layar tanpa suara kok rasanya gimana gitu, mendingan ikut kirab malam satu sura.

Meskipun demikian, komentar-komentar komentator itu rupanya ya tidak semua menutupi rasanya gimana gitu tadi, beberapa malah membuat rasanya jadi gimana gituLha wong jadi komentator pertandingan kok malah menasihati pemain yang sedang bertanding. Tapi ya janjane saya setali tiga uang juga sih. Lha wong mereka memang tugasnya berkomentar kok saya malah mengomentari mereka, durung karuan kalau saya jadi komentator ya tidak melakukan kelucuan-kelucuan yang serupa. Akan tetapi, sekurang-kurangnya saya punya dalih karena tolok ukur yang saya pakai adalah komentar-komentar komentator lainnya yang menurut akal sehat saya itu ya pas gitu deh, bukan komentator yang pasif, yang tidak informatif, tapi juga bukan komentator lebay yang waton buka mulut. Itu yang membuat saya lebih suka menonton siaran olah raga dengan komentator berbahasa Inggris daripada komentator berbahasa Indonesia [soalnya saya gak dhonk apakah komentar mereka lebay atau tidak, pokoknya ada suaranya, haha…]. 

Berkomentar saya kira juga adalah hak dan bisa jadi kewajiban sebagian orang. Akan tetapi, kalau komentarnya itu seperti yang ditunjukkan dalam bacaan hari ini, kok rasa-rasanya gak asik gitu ya: siapa aja kok mesti dicela demi membenarkan dirinya sendiri! Janjane mencela ya gak apa toh ya kalau memang halnya perlu dicela? Tapi kalau ujung-ujungnya cuma untuk membenarkan diri, sepertinya orang begini ini tidak ada dalam track yang benar. Orang tidak jadi kuat hanya dengan mengatakan atau menunjukkan kelemahan orang lain, bukan? Orang kuat zaman ini justru adalah orang yang bisa menangkap pesan dari pihak yang dikomentarinya sebagai orang lemah, belajar dari orang lain yang dicapnya rendahan. Kalau gak gitu, paling banter ya cuma jadi juara komentar yang tidak konstruktif. Gitu gak sih?

Ya Allah, mampukanlah kami untuk belajar juga dari mereka yang kami anggap sesat, rendah, dan hina. Amin.


HARI RABU BIASA XXIV A/1
Peringatan Wajib S. Andreas Kim Taegon
20 September 2017

1Tim 3,14-16
Luk 7,31-35

Rabu Biasa XXIV B/1 2015: Generasi Korup
Rabu Biasa XXIV A/2 2014: Waton Suloyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s