dr. Gusti Allah, Sp.AS

Biar bagaimanapun, kalau orang memanggil dokter ke rumah, kecuali dokter itu teman sekolahnya dulu, sang dokter itu mesti punya sedikit kepastian bahwa yang memanggilnya memang beneran sakit dan butuh dokter. Mungkin orang benar-benar mesti sakit dulu untuk bisa memanggil dokter itu. Jangan-jangan, begitu juga relasi manusia dengan Tuhannya: kalau sudah di ambang batas baru meraung-raung dan bahkan mencaci maki Tuhannya yang tak datang-datang. Padahal, Gusti Allah itu janjane dokter spesialis Apa Saja, yang tahu betul penyakit kita dan tahu juga kapan mesti intervensi. Bahkan Dia ini datang mengetuk pintu sebelum orang sendiri sadar bahwa dia sakit!

Cerita dalam bacaan hari ini bisa sedikit banyak menggambarkan hal itu. Matius yang kaya raya dan barangkali tambun itu kiranya tak merasa dirinya sakit, sebagaimana mungkin para koruptor tak merasa diri sakit. Tapi kok ya bisa-bisanya ada orang yang tahu-tahu njawil dirinya dan ndelalahnya Matius kok ya manut gitu aja dan makan-makan dengan penjawilnya itu. Tak selesai di situ, ia jadi murid dokter penjawil itu (dokter apaan sih jowal-jawil).

Begitulah sosok dokter yang barangkali perlu lebih dulu dijawil sebelum menjawil. Pada kenyataannya, itu tak mungkin sih. Dia memang lebih dulu menjawil manusia, cuma manusia yang bebal dan kerap gagal fokus sehingga dokter spesialis itu disalahkannya ketika dia sudah di ambang maut. Penyesalan selalu datang belakangan, karena kalau datang duluan percuma juga, gada yang disesali. Andai saja dengan menyesal orang bisa mengantisipasi kehidupan yang baik!

Poinnya kali ini bukan penyesalan, melainkan kesiagaan Matius untuk menanggapi ajakan dokter ajaib itu. Ya, panggilan bukan soal melow-melow gimana gitu. Panggilan menjadi murid dokter ajaib itu adalah soal mengambil keputusan untuk merealisasikan kerahiman Allah bagi semakin banyak orang, bukan malah menebarkan ancaman dan trauma sehingga orang lain dibutakan untuk mengenali Allah yang hendak merangkul siapa saja.

Ya Allah, mohon kepekaan batin untuk mengenali dorongan-Mu dalam hidup kami. Amin.


PESTA S. MATIUS (PENGINJIL)
(Kamis Biasa XXIV A/1)
21 September 2017

Ef 4,1-7.11-13
Mat 9,9-13

Posting Tahun 2016: Teologi Angkat Pantat
Posting Tahun 2015: Pendosa tapi Dipanggil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s