Dimakan Sendiri

Ditinjau dari perspektif agama Kristen dan Islam, misalnya, tak ada orang yang selamat sendirian. Saya bukan ahli agama Islam. Saya cuma dapat insight dari cerpen A.A. Navis, dalam nuansa dialog antara Tuhan dan Haji Saleh. “Kamu itu hidup kan berkaum. Apa artinya kamu selamat tapi orang lain menderita sengsara, apalagi karena keegoisanmu untuk cari selamat sendiri?” Jadi, omong kosonglah juga kalau orang main klaim bahwa keselamatan hanya ada pada agama tertentu, sebanyak apapun jumlah pengikutnya!

Hampir empat tahun lalu Paus Fransiskus dalam kesempatan audiensi [saya gak ikutan sih, tapi tetangga memberi laporan] menyinggung soal itu juga: tak ada orang yang bisa selamat sendirian. Dari perspektif studi agama-agama, jelaslah orang beriman itu membangun komunitas, bagaimanapun bentuknya. Dalam komunitas itulah sharing iman berlangsung. Apakah hanya dalam komunitas itu? Tata caranya bisa jadi iya, eksklusif, tetapi substansinya tak mungkin eksklusif. Sayangnya, orang beragama bisa jadi mencampuradukkan antara yang substansial dan yang formal sehingga yang semestinya berlaku universal malah direduksi sebagai hak kekayaan intelektual pribadi atau kelompok sendiri.

Perhatian saya tertuju pada ayat yang menggambarkan bagaimana Yesus melihat iman orang-orang yang membawa si lumpuh (dan saya teringat beberapa kali dari mulut Yesus keluar ungkapan seperti “imanmu telah menyelamatkanmu”). Pada ayat ini, dalam terjemahan Italia, Jerman, dan Latin memang tersaji struktur kalimat yang tak bisa diterjemahkan dalam bahasa Inggris maupun Indonesia (yang cuma menyatakan “dosamu sudah diampuni”). Kata ahlinya, penggunaan kata ἀφέωνται (silakan cari di internet pasti nemu artinya) yang digabungkan dengan kata ganti σοι menegaskan aspek subjektif dari pengalaman pengampunan.

Jangan salah paham ya, saya tidak mahir bahasa Yunani, Jerman, Latin, maupun Italia [cuma untuk gaya-gaya aja kok], tetapi itu membantu saya mengerti apa kiranya makna yang bisa digali dari kisah penyembuhan orang lumpuh hari ini. Orang-orang yang membawa teman atau tetangganya yang lumpuh itu tentulah orang-orang yang secara personal sudah mengalami dampak perjumpaan dengan Tuhan dalam hidup mereka dan mereka berusaha sekuat tenaga supaya teman atau tetangganya itu mengalami perjumpaan dengan Tuhan juga.

Itulah iman yang dilihat Yesus: mereka yang mengandalkan perjumpaan dengan Tuhan yang transformatif bagi hidup mereka dan itu yang hendak mereka tularkan kepada teman atau tetangganya. Bukan agamanya, Saudara-saudara, melainkan perjumpaan-dengan-Tuhan-nya, itulah yang mengesankan Yesus, sehingga dalam relasi dengan orang-orang itu ia yakin melontarkan kenyataan bahwa dosa orang itu sudah diampuni. Kok bisa? Bukankah yang berhak mengampuni hanya Allah semata?

Betul, tetapi pengampunan Allah itu hanya ada dalam iman (orang tak beriman gak mungkin omong soal pengampunan dosa dari pengalamannya sendiri), dan persis itu yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitar si lumpuh. Mereka tidak mendiskriminasikan si lumpuh, malahan mendorongnya supaya mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dan di situlah ada pengampunan dosa.

Ya Allah, semoga semakin banyaklah orang yang mengalami perjumpaan dengan-Mu dengan cara yang Kau inginkan bagi mereka. Amin.


SENIN ADVEN II
11 Desember 2017

Yes 35,1-10
Luk 5,17-26

Posting 2016: Mengampuni Konsep 
Posting 2014: Pernah Lumpuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s