Banjir Kehendak Tuhan

Sekurang-kurangnya ada tiga pengertian yang bisa diperoleh dari judul posting hari ini: (1) banjir adalah kehendak Tuhan, (2) kehendak Tuhan begitu banyaknya sampai banjir, dan (3) laporan kepada Tuhan mengenai banyaknya kehendak yang ada di dunia ini sehingga banjir. Silakan Anda pilih mau mengobrolkan yang mana, pokoknya penyebab banjir ya volume air yang luar biasa banyaknya, hahaha… betul kan kata saya? Oh, itu bukan kata-kata saya ding.

Itu mungkin kata-kata filsuf Aristoteles sewaktu dia bicara soal causa material untuk menjawab pertanyaan mengapa Jakarta bisa banjir. Akan tetapi, namanya juga filsuf, jawabannya tidak berhenti di situ. Aristoteles masih punya sekurang-kurangnya tiga sebab: formal, final, dan efisien. Berhubung ini bukan blog filsafat, jadi tak usah dibahas di sini ya, hahaha… [alasan, Mo, bilang aja lupa!]. Lebih baik bahas banjir kehendak Tuhan tadi.

Kapan banjir merupakan kehendak Tuhan? Pada saat Nabi Nuh akhirnya mesti mengumpulkan segala makhluk yang patuh kepada Tuhan supaya kelak terpelihara kehidupan pasca banjir besar. Anda mau tangkap kisah itu sebagai peristiwa sejarah, monggo. Saya lebih tertarik untuk menangkapnya sebagai refleksi hidup orang beriman: Allah takkan membinasakan mereka yang patuh pada-Nya, ia menyelamatkan mereka.

Loh, kalau betul begitu, kenapa ada orang baik, beragama dan (diandaikan) beriman mati karena banjir?
Lha emang apa bedanya mati karena banjir atau akibat tajir atau ditabrak tapir? Apa semua orang yang beriman itu harus mati saat sehat walafiat, ketika ziarah, atau usia lanjut, atau sewaktu beribadat, begitu? Lagipula, dalam kasus Nabi Nuh tadi kan saya tidak mengatakan bahwa Allah membinasakan mereka yang tak patuh kepada-Nya. Ia tidak membinasakan mereka yang patuh pada-Nya karena ia hendak memelihara kehidupan, juga kalau nanti yang patuh pada-Nya itu mati.

Kehendak Allah justru ditunjukkan dalam bacaan hari ini: bahkan seekor domba pun akan dicari-Nya supaya selamat. Bahkan orang yang sudah mati pun, Allah macam ini takkan terlambat untuk menyelamatkannya [tentu orang perlu merombak paham keselamatannya yang mungkin sangat sempit]. Ya bisa-bisanya Dia, bukan? Katanya Gusti Allah, mesti bisa mengalahkan kematian dong. Yang tak bisa mengalahkan kematian itu ya orang-orangnya saja yang memelihara kultur kematian: sudah salah terus menerus cari kambing hitam, sudah jelas korup masih hendak mengontrol hidup orang lain, sudah menang 58% masih juga mau menyalahkan yang 42%, dan bahkan menyalahkan Gusti Allah. Opo tumon?

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu menularkan sifat kerahiman-Mu sehingga dunia ini banjir kehendak-Mu. Amin.


SELASA ADVEN II
12 Desember 2017

Yes 40,1-11
Mat 18,12-14

Posting 2016: Lost Contact
Posting 2014: Tobatlah, Pak! Mau Sampai Kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s