Sidang Bisu Tuli

Saya punya senior cerdas yang pernah mengajar di sebuah sekolah yang beberapa waktu lalu jadi sorotan karena kasus walk out. Di sebuah kelas rupanya ada protes terhadap para guru dan protes itu berupa diam. Tak ada guru yang masuk kelas dan menerima sapaan dari para murid. Juga tak ada yang menjawab pertanyaan guru. Semua murid diam, tak berkomunikasi, tak mengucapkan sepatah kata pun menanggapi guru-guru mereka.

Senior saya ini, sebut saja namanya Masbro Tino. Masbro Tino ini juga mendapat jatah masuk kelas yang dilanda kebisuan itu. Entahlah apakah mereka juga menundukkan kepala dan sudah periksa kesehatan seperti saya, eaaaaa….. Pokoknya Masbro Tino mendapati suasana kelas seperti yang diceritakan guru-guru lain pada saat istirahat. Tak ada yang membalas sapaannya, tak ada yang menjawab pertanyaannya, tak ada yang mengeluarkan suara [tapi entah kalau kemudian muncul bebauan apa gitu].

Masbro Tino tak hilang akal. Dia mengambil buku presensi dan mulai memanggil nama siswa satu persatu. Akan tetapi, tak seorang pun yang menjawab atau menanggapi panggilan itu secara verbal. Semua hanya mengangkat tangannya, baik yang memakai deodoran maupun tidak. Setelah sekian nama dipanggil sesuai urutan daftar presensi, Masbro Tino ini melompati nama seorang siswa dan langsung memanggil siswa berikutnya.

Pada saat itulah sang siswa yang namanya dilompati berteriak,”Saya belum, Bruder!”
Dengan demikian, Anda tahu bahwa Masbro Tino adalah seorang bruder dan saat itu teman sekelasnya berteriak memarahi sang siswa itu dan aksi mogok bicara pun berhenti.

Njuk apa hubungannya dengan bacaan hari ini je, Mo? Hahaha… emangnya mesti ada hubungannya? Ya adalah. Bacaan hari ini versi sedikit lebih panjangnya sudah dikomentari pada posting Beban Pembawa Nikmat. Kalau berminat, silakan tinjau kembali.

Kalau melihat tampilan pesakitan yang seperti belut di negeri ini, sebetulnya tak mungkinlah mengatakan bahwa beban itu membawa nikmat. Tak sampai hati saya memandangnya, menyebut namanya pun tak sudi, hahaha. Orang macam ini baru merasakan nikmat kalau terlepas dari bebannya.

Beda dengan sang siswa tadi. Komitmen bersama teman-teman sekelasnya tidak jadi beban karena solidaritas dengan teman-temannya itu jadi relatif terhadap kebenaran yang dilihatnya: bruder melompati nama yang tertera dalam daftar presensi. Kebenaran itu juga tidak jadi beban baginya: tinggal diomongkan saja. Bahwa orang-orang di sekelilingnya yang tak suka dengan kebenaran akan menyerangnya, itu adalah konsekuensi menguak kebenaran dan konsekuensi kebenaran jadi beban yang membawa nikmat, tidak bikin stress, depresi, jadi bisu dan tuli.

Ya Tuhan, berilah kekuatan kepada mereka yang berbeban berat supaya semakin lama hati mereka mampu mencecapi nikmat kebenaran-Mu. Amin.


HARI RABU ADVEN II
Peringatan Wajib S. Lusia
13 Desember 2017

Yes 40,25-31
Mat 11,28-30

Posting 2016: Rest In Pain
Posting 2015: Ringankan Bebanmu

Posting 2014: Doa Aja Ribut…Gak Capek, Brow?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s