Anda Sehat?

Ini bukan untuk pamer bahwa saya sudah dapat surat keterangan sehat jasmani dan rohani loh, walaupun untuk memperolehnya saya mesti berdarah-darah dan terkencing-kencing. Judul posting ini masih dipengaruhi oleh seseorang yang didakwa melakukan korupsi merasa diri tidak sehat sementara para dokter malah menyatakannya sehat. Entah yang sableng dokternya atau seseorang ini. 

Akan tetapi, seperti biasa, kalau mempertanyakan apakah orang lain sableng atau tidak, sebetulnya pertanyaan itu juga terarah pada diri sendiri, dan itulah yang bikin tokoh dalam bacaan hari ini mengganggu lagi. Siapa lagi kalau bukan Yohanes Pembaptis yang dipancung kepalanya lantaran mengkritik raja yang memperistri istri saudaranya sendiri? Kenapa tokoh ini mengganggu? Lagipula, bukankah dia mengganggu Herodes dan Herodias? Apa urusannya dengan orang zaman now?

Ya tentu saja berurusan dengan orang zaman now juga karena orang zaman now pun bergumul dengan kebenaran eksistensial: di mana ada makhluk berakal budi, di situ pergulatan pencarian kebenaran berlangsung. Setiap orang pada dasarnya mencari kebenaran hidupnya dan bisa jadi ini juga bergesekan dengan kebenaran yang dicari orang lain. Jadilah Yohanes Pembaptis konflik dengan Herodes. Ini bukan soal adu kekuasaan. Yohanes jelas kalah. Akan tetapi, ini adalah ajang menyuarakan kebenaran yang seyogyanya dihormati baik oleh orang yang berkuasa maupun yang tak berkuasa.

Ini juga bukan soal fanatisme, apalagi dihubungkan dengan agama. Yohanes, meskipun omong soal hukum Allah, tidak bekerja di ranah agama. Sudah saya bilang, agama itu temuan orang-orang modern, bukan ciptaan Tuhan. Yohanes mempersaksikan nilai kebenaran yang perlu dihormati setiap pribadi yang sehat. Harganya mahal: kepalanya sendiri.

Itulah yang mengganggu saya. Bukan soal bahwa setiap orang yang memperjuangkan kebenaran mesti menyerahkan kepalanya sendiri. Nanti jadi ideologis, dan jika jadi ideologis, apa-apa saja jadi menyesatkan, entah itu keadilan, kemanusiaan (HAM), demokrasi, agama, dan sebagainya. Pertanyaan reflektif saya lebih bersifat kritis terhadap diri sendiri: kalau orang tidak bersedia menanggung konsekuensi kebenaran tadi (persekusi kecil-kecilan misalnya), barangkali ia menghayati salah satu dari dunia ini, (1) biara nun jauh di sana sebagai wujud fuga mundi (lari dari kenyataan dunia yang sarat dengan penderitaan) atau (2) tak kelihatan sebagai pewarta kebenaran tadi itu (dalam bahasa Kristiani: kemuridan).

Itu mengapa jadi pertanyaan juga bagi setiap orang. Kalau hidup ini jadi sedemikian nyaman, jangan-jangan memang tak ada kebenaran yang sedang dibela. Dengan kata lain, jangan-jangan hidupnya penuh kepalsuan. Yohanes Pembaptis boleh jadi cermin orang sehat, juga Yohanes dari Salib yang mengalami Dark Night of the Soul. Orang zaman now masih mending karena ada proses pengadilan, dipanggilkan dokter khusus pula. Yohanes Pembaptis ini tahu-tahu dipancung begitu saja karena sang raja menghendaki demikian, entah disengaja atau tidak.

Tuhan, bantulah kami supaya bernyali menghadapi konsekuensi kebenaran-Mu tanpa jatuh ke dalam ideologi yang memalsukan keagungan-Mu. Amin.


HARI KAMIS ADVEN II
Peringatan Wajib S. Yohanes dari Salib
14 Desember 2017

Yes 41,13-20
Mat 11,11-15

Posting 2015: Kejahatan Yang Mulia?
Posting 2014: Keras ke Dalam, Lembut ke Luar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s