Lipstick Mana Lipstick

Kemarin disinggung soal pribadi yang mengganggu kenyamanan hidup penguasa, yaitu Yohanes Pemandi [seakan-akan tugasnya adalah mandi atau memandikan]. Hari ini  masih disinggung juga, yaitu mengenai kesehatannya: Yohanes datang, ia tidak makan dan minum, dan ia dikatakan kerasukan setan. Betul. Ini orang gak waras seperti Majnun yang kasmaran dengan Layla, hidup di di gurun dengan makan belalang dan minum madu hutan [loh hidup di gurun kok bawa madu hutan].

Kritiknya tak didengar, tak dianggap. Sebetulnya bukannya tak didengar atau dianggap sih, melainkan mengganggu kenyamanan hidup pendengarnya. Maka dihabisilah dia dengan hukum mati. Apakah cuma Yohanes yang hidupnya begitu asketis dianggap mengganggu kenyamanan? Tidak, juga tokoh berikutnya yang dipersiapkan Yohanes Pembaptis, yang bentuk asketisnya berbeda, dihukum mati. Yesus itu gemar makan-makan dan minum-minum, tak juga menggerakkan orang untuk merealisasikan syukur kepada Allah yang mahabaik.

Jadi, persoalannya bukan pada pribadi yang mengkritik atau cara mereka mengkritik, melainkan pada (pemuka) umat beragama sendiri yang tak mau dikritik (tapi maunya mengkritik), yang tak mau paham Allahnya dikoreksi (tapi berlagak mengoreksi mereka yang dianggapnya kafir), yang tak mau diganggu kenyamanannya (tapi menindas kenyamanan orang lain). Orang beragama begitu kaku dalam menangkap tanda-tanda kehadiran Allah karena terjebak oleh tafsirannya sendiri yang tak mengabdi kemanusiaan sejati, melainkan kepentingan ideologis tertentu, entah baunya teologis ataupun politis.

Sudah jenuhlah ungkapan ‘keluar dari zona nyaman’ sebagai idealisasi orang yang hendak berkembang, tetapi realisasinya sangat jauh dari jenuh. Orang cenderung alergi terhadap ketidaknyamanan. Bahkan untuk sebentar saja menahan diri tidak mengeluarkan lipgloss, tak semua orang sanggup, bukan? [yak-yak’o sedang hidup di musim dingin]

Henry J.M. Nouwen pernah mengatakan kurang lebih begini: menghadapi ujian kehidupan (tidak selalu berarti Tuhan mencobai) baik-baik, bukan lari darinya, memungkinkan orang hidup lebih baik; berjoged secara lebih baik dengan kegembiraan ilahi, melalui malam-malam gelap penderitaan dan harapan yang teguh.

Tuhan, mohon rahmat keteguhan hati supaya kami semakin peka terhadap ketidaknyamanan hidup yang bisa jadi tanda kehadiran-Mu. Amin.


HARI JUMAT ADVEN II
15 Desember 2017

Yes 48,17-19
Mat 11,16-19

Posting 2016: Pelahap Neraka
Posting 2015: Kebal Kritik, Bebal mBribik

Posting 2014: Pernah Patah Hati Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s