Bukan (Cuma) Merendah

Ada sebagian orang yang ‘beruntung’ karena masih bisa mengalami saat-saat terakhir sebelum orang yang disayanginya berpindah ke dunia lain hiiii. Tapi ya itu, untung-rugi siapa yang tahu, bergantung pada sudut pandang dalam melihat halnya. Saya cuma mau bilang bahwa kata-kata terakhir orang yang menyongsong kematiannya barangkali jadi ungkapan penting sebagai wasiat. Teks hari ini adalah sebagian dari lima bab Injil Yohanes (seperempat dari total bab) yang memuat kata-kata terakhir si guru yang sedang menyongsong kematiannya.

Yang selalu dikenang oleh Gereja Katolik dengan ritualnya ialah pembasuhan kaki pada setiap Kamis Putih, sebagaimana si guru membasuh kaki murid-muridnya. Sebagaimana Petrus, orang zaman now juga cenderung menangkap tindakan si guru dari Nazareth itu sebagai simbol kerendahan hati. Betapa tidak! Guru dan tuan rumah kok mau membasuh kaki para muridnya. Tamu-tamu, apalagi murid-muridnya sendiri, bukan sosok besar yang perlu disambut dengan pembasuhan kaki. Lagipula, kalaupun yang datang orang besar (lebih dari 85 kg?), pembasuhan kaki biasanya dilakukan oleh hamba tuan rumah, bukan tuan rumahnya sendiri.

Tak heran, Petrus melihat pembasuhan kaki itu sebagai bentuk perendahan gurunya. Padahal, ada hal lain yang ditunjukkan dengan tindakan pembasuhan oleh guru ini. Nota bene: pembasuhan kaki yang dilakukan si guru pun bukan pembasuhan untuk menyambut tamu perjamuan. Pembasuhan itu dilakukan di tengah-tengah perjamuan, ya tidak persis di tengah-tengah sih, agak geser ke kiri deh. Kata tetangga saya yang ahli Kitab Suci itu, Yohanes berbeda dari Markus, Matius dan Lukas. Haiya, untuk bilang gitu gak perlu legitimasi ahli Kitab Suci. Bedanya di mana? Salah satunya, kedatangan si guru ke Yerusalem dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas) mengawali peristiwa-peristiwa yang mengantarnya ke dalam penderitaan, kematian dan kebangkitannya nanti, termasuk di dalamnya perjamuan Paskah.

Yohanes gak gitu menceritakannya. Kedatangan si guru ke Yerusalem dan pembersihan Bait Allah dipisahkan dari peristiwa salib dan kebangkitan. Dalam perspektif Yohanes, awal rangkaian kejadian yang berujung kebangkitan itu justru adalah perjamuan malam terakhir. Selain itu, perjamuan ini bukan perjamuan Paska, melainkan perjamuan malam sebelum Paskah. Bagi Yohanes, Paska versi baru akan terjadi dalam pengorbanan sang guru di salib.

Hmm… sepertinya ini memang penjungkirbalikan: Paska baru – Paska lama, tuan – hamba, guru – murid. Betul, ini lebih dari sekadar soal merendah-rendah, tetapi pemaknaan yang memungkinkan orang menemukan kebaruan hidup dengan pelayanan. Eits, sebentar, tak perlu buru-buru mengasosiasikannya dengan pelayanan kelompok kategorial tertentu: kor, prodiakon, lektor, legio, bla bla bla. Artinya, bukan asal sudah ikut abcde itu lantas punya roh pelayanan seperti diteladankan sang guru.

Susah, kan? Berat, mungkin, dan orang zaman now benar-benar butuh Dilan #eh Tuhan untuk mengerti sungguh apa yang diteladankan sang guru itu. Hari ini mungkin belum bisa sungguh mengerti. Mungkin besok. Amin.


HARI KAMIS PUTIH
29 Maret 2018

Kel 12,1-8.11-14
1Kor 11,23-26
Yoh 13,1-15

Posting 2017: Pemimpin Retorik Doang?
Posting 2016:
Krisis Bahasa Cinta

Posting 2015: Faith in The Dark

Posting 2014: Kamis Putih: Perayaan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s