Tuhan Hanya Butuh Dilan

Kemarin saya kuliah (dari pagi sampai sore, ampun dah, langsung ikut misa Kamis Putih dan memilih tidur sewaktu khotbah, tur khotbah setengah jam apa harus didengarkan semua, kan enggak) dan pada whiteboard dituliskan tetragrammaton (empat huruf) bahasa Ibrani: יהוה, yang dalam transliterasi Latin itu ditulis YHWH, tapi yehaweha itu tak ada artinya. 

Rupanya tetragrammaton dipakai memang untuk menghindarkan penyebutan nama Allah, sebagaimana teolog feminis menuliskan God dengan G*d. Maklumlah, dalam mentalitas Yahudi saat itu penamaan sesuatu itu merealisasikan suatu kontrol atau penguasaan terhadap sesuatu. Unidentified Flying Objects menandakan bahwa manusia bahkan belum mengerti benda terbang itu apa; ha nèk ngêrti waé ora, piyé arêp menguasai? Begitu halnya dengan יהוה, orang Yahudi biasanya melafalkannya sebagai adonai yang berarti Tuhan; silakan tanya orang Yahudi, saya gak tau persisnya.

Lha wong gak tau aja kok ya bahas-bahas יהוה sih? Apa juga hubungannya dengan Jumatan Agung begini?
Oh, ada. Coba perhatikan kisah sengsara dari Yohanes. Dua kali si guru bertanya,”Siapa yang kamu cari?” dan dua kali pula diperoleh jawaban “Yesus dari Nazareth” dan dua kali pula si guru menanggapi,”Akulah dia.” Tampaknya Yohanes ini semacam mengingatkan pembaca pada narasi zaman jebot sewaktu Musa galau diutus Allah karena dia butuh legitimasi: atas nama siapa dia bertingkah sebagai pemimpin umat Israel. Jawabannya ego eimi (silakan klik kalau kuat). Absurd. Bayangkan, ditanya siapa kamu, jawabnya,”Akulah aku.”

Tapi, kalau Allah menyatakan Nama-Nya, bahasa manakah yang bisa menampungnya? Tak ada. Maka, tak mengherankan bahwa orang Yahudi memakai tetragrammaton tadi. Hal-hal lain bisa dinamai, tetapi Allah? Tak bisa. Begitu dijadikan objek, Allah mrucut dari genggaman. Penulis Yohanes meletakkan jawaban yang sama, ego eimi (Yoh 18,5), bisa jadi untuk menunjukkan betapa tidak mungkinnya orang mengakses Tuhan jika niatnya adalah untuk menaklukkan-Nya, menangkap-Nya, memiliki-Nya. Allah tetaplah Allah, inaccessibleuntouchable. Coba lihat ayat selanjutnya, para serdadu itu mundur dan jatuh ke tanah setelah jawaban ego eimi

Allah tak butuh pembela. Bahkan kalau manusia hendak membunuh-Nya, secara fisik, filosofis atau perspektif lainnya, Ia membiarkannya. Entah manusia itu memakai nama Nietzsche atau label ateis, sekular, no problemplease do it! Patènana Aku, nèk isa.
Jebulnya, yang dibunuh Nietzsche dan rombongannya adalah Tuhan yang dimengerti orang modern: proyeksi kecemasannya sendiri (manusia tak sanggup, pasti ada sosok mahasanggup; manusia tak sempurna, pasti ada sosok mahasempurna yang patut disembah, dan seterusnya).

Ha, rak tenan to: Allah sejati, yang tak bisa mati atau dibunuh, justru membiarkan diri dikhianati, ditolak, disiksa, dihakimi secara tidak adil, tak ada Peninjauan Kembali, pokoknya disalib saja selesai! Justru dengan cara itulah Allah sejati membebaskan orang dari imaji sesat mengenai-Nya. Justru dengan cara itulah Allah sejati membujuk orang untuk percaya kepada-Nya, yang bahkan tak tersentuh oleh pembantaian biadab putra-putri-Nya. 

Satu-satunya cara untuk mengenal-Nya ialah dengan masuk dalam relasi perjanjian dengan-Nya, mengikuti-Nya, hidup bersama-Nya, tinggal di dalam-Nya (bdk. Yoh 1,38 dst). Ini teori dan praktiknya berat. Maka, Tuhan tak pernah butuh pembela, Ia cuma butuh Dilan. Anda Mau jadi Dilan? Amin. 


HARI JUMAT SUCI
24 April 2017

Yes 52,13-53,12
Ibr 4,14-16;5,7-9
Yoh 18,1-19,42

Posting 2017: Kingdom of Conscience
Posting 2016: Jumat Suci: Keheningan Cinta

Posting 2015: A Faith that Never Dies

Posting 2014: Good Friday: The Turning Point

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s