Agama Paska

Belakangan ini saya terkesan pada betapa mengasyikkannya menganalisis teks Kitab Suci. Banyak hal yang taken for granted itu jadi mencerahkan. Dalam terjemahan Indonesia dituliskan begini: Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. Adakah yang aneh? Enggak ada. Saya baru mengernyitkan dahi ketika membandingkannya dengan teks Latin dan Yunani. Silakan berpegangan pada Dilan.

Yunaninya begini: Καὶ διαγενομένου τοῦ σαββάτου Μαρία ἡ Μαγδαληνὴ καὶ Μαρία ἡ [τοῦ] Ἰακώβου καὶ Σαλώμη ἠγόρασαν ἀρώματα ἵνα ἐλθοῦσαι ἀλείψωσιν αὐτόν.
Sedangkan Latinnya begini: et cum transisset sabbatum Maria Magdalene et Maria Iacobi et Salome emerunt aromata ut venientes unguerent eum.

Tentu dua kata yang saya garis bawahi itu bukan terjemahan untuk kata ‘Yesus’ karena kalau begitu, mestinya dituliskan Ἰησοῦν atau Iēsūm. Jadi, kata ganti yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Yesus itu bisa juga menunjukkan badan, jenazah, corpus, mayat Yesus. Apa pentingnya sih Mo, gini aja dibahas?

Ya gada pentingnya keleus. Kan tadi saya cuma bilang bahwa apa yang sudah taken for granted itu bisa jadi mencerahkan. Lha di mana mencerahkannya antara terjemahan ‘jenazah Yesus’ dan ‘Yesus’? Nah nah nah itu… kira-kira ada bedanya gak antara ‘jenazah Yesus’ dan ‘Yesus’? Ada, bukan?
Nah, kalau pada kalimat awal itu tidak disebutkan Yesus, melainkan mayatnya, jenazahnya, itu berarti tanda bahwa Yesus sudah jadi objek, jenazah, mayat. Yesusnya sendiri absen. Ini adalah petunyuk bahwa mereka itu secara definitif menerima kematian guru mereka, dalam arti menganggap guru mereka sudah mati: beli rempah-rempah untuk mengolesi jenazahnya.

Mereka punya persoalan: siapa yang bakal menggulingkan batu penutup makam bagi mereka karena batu itu amat sangat berat sekali lebay? Tapi sementara mereka omong soal problem itu, mereka lihat makam sudah menganga. Mungkin mereka terkejut, tapi tampaknya tak ada pikiran soal kebangkitan. Barangkali mereka juga tak mengerti skenario murid-murid mencuri jenazah si guru. Pokoknya kubur sudah terbuka, masuk aja toh cari jenazah Yesus. Baru ketika masuk makam, mereka terkejut. Siapa yang bikin terkejut?

Brondong! Masih ingat kan anak muda pada posting Raja Telanjang kemarin dulu? Iya, kenapa anak muda, bukannya orang tua bijak berpakaian putih? Anak muda: simbol kemudaan hidup baru, kebaruan, rahmat yang diperbarui. Saat itulah nama Yesus disebut sebagai subjek: Yesus dari Nazareth gada di sini! Tentu, karena dia bukan mayat, bukan jenazah. Yang begitu menakutkan bagi para wanita itu (yaitu kehilangan body, jenazah, mayat) jadi warta gembira. Orang muda itu memberi mandat: pergi dari tempat kematian ini, Ia punya cara-ada yang baru!

Cara-ada baru itu tak bisa dikungkung oleh kuburan, tidak oleh institusi agama sekalipun! Termasuk agama Kristen/Katolik, Mo? Haiyaaaaaa…. itu sudah. Trus apa gunanya meluk agama Kristen/Katolik dong, Mo? Ya silakan tanya pada diri sendiri. Tak jarang orang beragama takut, tak menangkap ajakan brondong tadi, dan karena takutnya justru memperlakukan agama sebagai mayat yang cukup diolesi rempah-rempah njuk tinggal pergi. Itu bukan Paska.

Ya Tuhan, mohon rahmat menghidupi agama dalam terang Paska. Amin.


MALAM PASKA B/2 (Vigili)
31 Maret 2018

Kej 1,1.26-31a
Kej 22,1-18
Kel 14,15-15,1
Yes 54,5-14
Yes 55,1-11
Bar 3,9-15.32-4,4
Yeh 36,16-17a.18-28

Rm 6,3-11
Mrk 16,1-8

Posting 2015: Don’t Worry, Be Happy (Easter)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s