Tiga Cinta

Mari becermin pada tiga karakter yang dikisahkan hari ini untuk merefleksikan diri bagaimana menghidupi cinta dalam hidup yang senantiasa ada dalam tegangan gelap-terang (sebagaimana mungkin digambarkan dalam simbol yin-yang). 

Karakter pertama ialah Magdalena. Kata kerja yang ditempelkan pada tindakan Magdalena adalah βλέπει (blepei: ia melihat, bentuk awalnya blepo, bdk. posting Learning by Nyemplung). Magdalena ke makam dan melihat apa saja yang bisa dilihat indra penglihatan. Penutup sudah tergeser, entah siapa dan bagaimana batu berat itu bergeser. 

Magdalena merepresentasikan murid yang secara nyata jatuh cinta pada pribadi Kristus sedemikian mendalamnya sehingga tanpa pribadi itu, hidup ini jadi hambargar tanpa makna, ia tak bisa apa-apa tanpa pribadi yang dijatuhi cintanya itu. Kelekatan? Attachment? Bisa jadi, tetapi tak semua attachment buruk, sebagaimana tak ada keburukan ekstrem, dan orang boleh lihat titik terang-gelap dalam yin-yang. Kelekatan jenis ini menunjukkan passion dalam diri si pecinta. Ini bukan sekadar mengagumi, jadi follower, melainkan sudah sampai tahap bahwa pribadi yang dicintai itu jadi referensi untuk pemaknaan hidup orang.

Apa yang dibuat Magdalena? Ia berlari, memberi kabar kepada Petrus dan murid yang dikasihi Yesus, dua karakter berikutnya. Apa artinya? Cinta kepada Kristus bukan suatu upaya kesalehan pribadi, dicari untuk pemuasan cinta sendiri, apalagi untuk menonjolkan diri sendiri [bdk. misalnya cerita heboh Julia Kim dari Korea yang mengklaim mendapat stigmata tetapi tak kooperatif dengan Gereja universal]. Cinta ini diletakkan dalam semangat komuniter. Magdalena melakukan pencarian bersama murid-murid lainnya. Magdalena memberi kontribusi pada pengamatan ‘saintifik’ yang jadi data bagi dua murid lainnya.

Karakter kedua ialah murid yang dikasihi Yesus. Tradisi menyebutkan ini adalah Yohanes, tetapi ada baiknya membiarkan identifikasi karakter ini seperti dituliskan begitu saja, karena justru lebih berguna untuk pemaknaan. Lagipula, murid yang dikasihi Yesus itu tetap mengikuti Yesus sampai di salib. Padahal, bisa dimengerti bahwa semua rasul saat sengsara Yesus lari ngibrit dari panggung, termasuk Yohanes. Penulis bisa jadi mengharapkan murid yang dikasihi Yesus itu adalah pembaca sendiri. Ini adalah murid yang setia hadir bukan saja pada saat guru mendapat pujian, melainkan juga saat kesusahan.

Murid inilah yang jadi acuan Petrus untuk mengidentifikasi siapa pengkhianat guru mereka. Petrus tak bisa membaca pernyataan Yesus, maka dia bertanya pada murid yang dikasihi sang guru. Murid ini mengerti bagaimana membuat discernment, membuat distingsi antara roh yang bersekutu dengan kekuatan jahat dan sebaliknya. Apa yang dibuat murid yang dikasihi ini? Ia bergegas ke makam dan tiba lebih dulu, lebih cepat dari Petrus. Ia melihat seperti Magdalena melihat dengan indra matanya: kain kafan itu kempis selayaknya ban kehabisan angin [entah mengapa κείμενα (keimena) diterjemahkan ‘terletak di tanah’. Kempisnya kain kafan menunjukkan bahwa yang dibungkusnya tak ada lagi di situ]. Akan tetapi, dia tidak masuk.

Murid yang dikasihi Yesus ini, seperti Magdalena, tidak mencari sendirian. Ia menunggu Petrus tiba dan membiarkannya masuk lebih dahulu. Begitulah kiranya komunitas umat beriman: orang tahu ada macam ragam umat, kecepatan, kemampuan, pilihan, tetapi orang tahu menghargai perbedaan, menunggu yang lain, menghormati yang lain.

Karakter ketiga ialah Petrus. Ia yang masuk lebih dulu daripada murid yang dikasihi tadi, tetapi ia melihat dengan perspektif yang berbeda. Kata kerja yang dipakai ialah θεωρεῖ (theōrei). Ya mesti ada hubungannya dengan berteori deh. Ia melihat seperti dilihat Magdalena dan murid yang dikasihi Yesus, tetapi juga membandingkannya dengan hal-hal lain, kain peluh dan posisinya (yang tak memungkinkan teori konspirasi pencurian mayat sungguh terjadi), dan mengingat-ingat apa yang selama ini terjadi antara mereka dan sang guru. Dari situ muncul intuisi Petrus mengenai kebangkitan guru mereka.

Jadi, sebetulnya segala yang bisa diamati secara ‘saintifik’ itu tetap ambigu, bisa direfleksikan bergantung kepentingan penafsir. Di pihak murid, penegasan dibuat murid yang dikasihi tadi. Kata kerja dasar yang dilekatkan pada tindakan melihatnya ialah ὁράω (horáō): melihat sesuatu di balik hal yang bisa diverifikasi dengan indra penglihatan. Di hadapan tanda-tanda kematian, murid mulai percaya pada kemenangan hidup. Semua tanda indrawi (makam kosong dll) bisa jadi ambigu, bukan bukti definitif kebangkitan, tetapi iman bergerak ke arah berbeda.

Peziarahan iman yang autentik mesti melampaui tiga tahapan melihat tadi: (1) melihat yang bisa diverifikasi indra, (2) merefleksikan data yang terkumpulkan oleh indra tadi, dan (3) meletakkannya dalam rasionalitas cinta. Iman sejati tak pernah melawan rasionalitas manusia, tetapi melihat cinta yang mengatasi rasionalitas logika belaka. Itu mengapa cinta tak bisa dipaksakan dan bisa beragam wujud. Itu mengapa murid yang dikasihi tadi tidak punya basic attitude mengalahkan murid lain. Ia diam, dan membiarkan yang lain memberi kontribusi untuk perkembangan iman bersama. Semoga iman Paska meluas, melampaui sekat, juga agama. Amin.


HARI RAYA PASKA KEBANGKITAN TUHAN
1 April 2018

Kis 10,34a.37-43
Kol 3,1-4
Yoh 20,1-9

Posting 2017: Parade Maido
Posting 2016: Bukan Yesus Yang Mati
 
Posting 2015: Selamat Paska, Jangan Lelah

Posting 2014: Bukan Bukti, melainkan Saksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s