Notorious Seto

Ada beragam cara eksis zaman now, termasuk blak-blakan minta supaya (video) dirinya diviralkan atau blognya dibagikan ke medsos [siapa sih yang ini?]. Semoga orang zaman now tak lupa bahwa eksis sampai viral itu memang bikin terkenal, tetapi terkenal tak cuma berarti famous. Ada juga kata notorious, alias terkenal karena hal buruk. 

Contohnya Seto, keponakan saya. Selagi baru bisa omong satu suku kata ‘ba’, ‘moh’, ‘dhe’, hobinya menghilangkan barang. Saya tahu, bukan maksudnya menghilangkan barang. Terakhir saya ingat dia mengambil jam budhenya, lalu pergi entah ke mana dan di entah-di-mana itu melihat barang lain, dilepasnya jam itu dan diambilnya barang lain itu. Orang serumah sibuk mencari jamnya dan setiap dia ditanya di mana jam budhenya ditaruh, dia cuma teriak “Jam!”. Njaluk dipithês bocah iki.

Setelah besar, dia punya gelar master seperti pakdhenya: M.Th., master of theology. Gak persis sama sih meskipun sama-sama teologi karena gelar pakdhenya M.Hum.: magister humaniora. Ada humor-humornya gitu deh, kalau jadi doktor pun, doktornya humoris causa. Kembali ke keponakan saya itu tadi, meskipun bergelar M.Th, tapi kelakuannya memalukan mahasiswa teologi: belajar soal ketuhanan, tetapi mem-‘bajingan’-kan orang yang belum tentu bajingan, belajar agama dan iman tetapi dengan yakinnya menyerukan hoax.

Apa bedanya dengan kaum 58 yang dimanipulasi pakai ayat suci dan malah mencederai orang yang secara jujur dan tulus bekerja bagi orang banyak? Di mana masternya jal cuih? [Ini cuih ala humoris causa tadi.] Barangkali gelar M.Hum. cocok juga: Master of Humour, tapi gelar KW, wong biografinya saja mengumbar data orang lain. Memangnya kalo pernah ketemu Habibie njuk kecerdasan dan sopan santunmu jadi kayak Habibie gitu po? Ngimpi keleus.

Mo, Mo, bangun, Mo! Itu si Seto dah nemu jamnya.
Eladalah, jadi tadi yang M.Th. itu bukan keponakan saya toh? Saking viralnya sampai kebawa mimpi!

Tapi gimana supaya notorious Seto kecil itu gak jadi notorious Seto besar ya? Lha ini master humanioranya saya keluarkan, cuih#eh ciaaaaat. Teks bacaan pertama ini termasuk bagian ketiga Kitab Yesaya, yang tampaknya omong soal rencana misterius Allah tentang penderitaannya: dipukul, janggut dicabut, dicuihi, dinodai. Kalau mau dihubungkan dengan teks politik zaman now ya bisa jadi itu mengacu pada penderitaan para pejuang bonum commune seperti presiden zaman now. Akan tetapi, kalau dihubungkan dengan bacaan kedua, teks Yesaya itu mengacu pada sengsara sosok guru dalam teks Matius.

Penghubung kedua teks itu barangkali adalah kata ‘inisiasi’: Allah yang ‘mempertajam pendengaran’ dan ‘membuka telinga’. Ini tentu persiapan untuk sesuatu yang lain, sebagaimana si guru mempersiapkan Paska. Orang beriman butuh inisiasi untuk masuk ke dalam misteri Sabda Allah, tanpa inisiasi itu, isi hati dan budinya cuma hoax: omongnya data, tapi yang dipakainya ilusi; slogannya toleransi/demokrasi, tapi perilakunya feodal cuih; legitimasinya agama, tapi senjatanya dusta waton menang; labelnya wisata rohani, tapi modus maling berfoya-foya. Wis sakkarêpmulah Mbah arêp omong opo… 

Tiga hari ke depan adalah inisiasi untuk memasuki misteri sengsara si guru dari Nazareth. Semoga Tuhan membantu penajaman pendengaran dan pembukaan telinga. Amin.


HARI RABU DALAM PEKAN SUCI
27 Maret 2018

Yes 50,4-9
Mat 26,14-25

Posting 2017: Iman Oportunis
Posting 2016: Mari Berkhianat

Posting 2015: Faith: Always Inclusive

Posting 2014: Wani Piro: Betraying The Wisdom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s